Esai

Politik Tanpa Taktik

Eko Tunas
×

Politik Tanpa Taktik

Sebarkan artikel ini
politik tanpa taktik
Ilustrasi foto: Pexels.com/Tom Fisk

BISAKAH dipercaya, politik tanpa taktik, tanpa intrik. Politik yang berjalan penuh senyuman dan tegur sapa. Tanpa fitnah dan hoax. Jika ada parpol yang menahbiskan politik berjalan dengan sepeda penuh riang gembira, maka ia akan membalik politik di sepanjang sejarahnya.

Berapa juta jiwa melayang sejak Hittler, Westerling, hingga Soeharto. Korban nyawa bahkan dalam penjara paling kejam dan penyiksaan terhadap seniman. Kekejaman atas jiwa manusia semata demi kursi kekuasaan. Kekuasaan yang di tangan sang despot Jendral besar bisa berlangsung puluhan tahun.

Di situ berlakulah hukum atas teori Renne Descartes: politic is vuil: politik itu kotor. Para politikus tumbuh dari hutan belantara politik itu. Hukum rimba seolah menjadi satu-satunya yang berlaku. Dalam jagad politik dunia makin bersimaharaja, membunuh manusia dihalalkan dalam politik perang.

Dasar politik ekonomi yang berujung pada kapitalisme-liberalisme menjadi alat picu praktik dari teori itu. Untuk itu Soekarno menerapkan dasar politik kebudayaan. Pancasila sebagai hasil kebudayaan menjadi dasar negara untuk mengatasi politik.

Tapi kemudian Soeharto Orba mengubah politik kebudayaan menjadi politik ekonomi, dan segalanya pun berubah. Itu berlangsung sejak orde baru hingga era reformasi yang justru  identik dengan pesta korupsi kolusi nepotisme.

Lagi-lagi yang menjadi korban rakyat dalam kehidupan mengeras dan kemiskinan yang sampai pada taraf miskin ekstrim. Tak aneh akibat yang ditimbulkan adalah kekerasan yang terjadi di tengah keluarga dan masyarakat.

Hukum dijadikan panglima, tapi pada kenyataannya tumpul ke atas dan runcing ke bawah, bahkan a-struktural. Pengadilan atas kasus polisi  menembak polisi atau polisi jadi bandar narkoba digeber di televisi, tapi korupsi 10 atau 300 triliun justru disembunyikan.

Dalam kondisi banal itu, banyak pemikiran untuk melakukan amputasi atau potong generasi. Satu contoh yang menarik di Thailand, dengan munculnya partai baru dari kalangan anak muda. Parpol itu bahkan memenangkan Pemilu Legislatif.

Fenomena Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tampaknya memberi angin segar. Satu parpol berbasis spirit anak muda, terutama dengan masuknya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum. Pidato pengukuhannya tampaknya begitu menjanjikan.

Satu parpol anak muda nasionalis, anti korupsi. Menolak politik pecah belah, fitnah dan hoax. Tentu anti in-toleransi, radikalisme, terorisme. Dan lebih mencerahkan: berpolitik secara happy, secara riang gembira, selalu menebar senyuman, dan menganggap parpol lain bukan lawan tapi teman.

Renne Descartes pun mungkin terperangah mendengar diksi politik anak muda ini. Dia bahkan pernah berkata: politic is vuil: politik itu kotor. Bahwa dalam politik segalanya jadi syah. Bahkan membunuh manusia pun dihalalkan dalam politik perang.

Hari-hari ini dunia kembali dicekam oleh kecamuk perang di Jalur Gaza, yang menimbulkan ribuan korban nyawa. Lalu terbayanglah, ada partai anak muda bagaikan bunga mawar merah tumbuh di tengah chaos politik, di medan perang paling beraroma mesiu dan darah. [Luk]