Opini

Puasa, Zakat dan Transformasi Sosial

Achmad Fachrudin
×

Puasa, Zakat dan Transformasi Sosial

Sebarkan artikel ini
Achmad Fachrudin

PUASA yang dalam bahasa Arab disebut showum dan pelakunya disebut shoim, merupakan ibadah wajib yang tidak berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan dengan ibadah lainnya yakni: zakat. Tidak sempurna puasa seseorang tanpa mengeluarkan zakat, atau sebaliknya. Kombinasi antara dua jenis ibadah tersebut—jika dilaksanakan dengan maksimal—mengantarkan seseorang bukan hanya saleh secara individual melainkan juga saleh sosial. Jika hal tersebut dilakukan secara kolektif-integratif, dapat menjadi katalisator dan transformer guna mewujudkan negeri makmur dalam ridho Allah SWT (baldatun toyibatun warabbun ghafur).

Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183,  tujuan puasa adalah mencetak (creat) manusia bertakwa atau muttaqien.

Pengertian muttaqien yang disasar oleh ibadah puasa adalah orang-orang yang menjalankan secara konsisten segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya. Ini artinya, muttaqien adalah orang-orang yang mampu membangun interaksi dan komunikasi vertikal kepada Allah SWT serta interaksi dan komunikasi horisontal kepada sesama manusia secara seimbang.

Lebih rinci tentang karakteristik muttaqien dideskripsikan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 133-136 yang mencirikan sifat-sifat sebagai berikut: (1) gemar menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, (2) menahan amarah manakala menemukan atau menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan, (3) Memberi maaf kepada orang yang minta maaf, (4) mengerjakan kebaikan bagi kemaslahan orang lain, dan (5) selalu mohon ampun atas kesalahan dan dosa, sengaja ataupun tidak disengaja.

Zakat Ibadah Sosial

Sedangkan zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok tiang penegakan syariat Islam. Hukumnya wajib ditunaikan oleh setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), zakat artinya suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Di dalam zakat terkandung harapan untuk memperoleh keberkahan, kebersihan jiwa, dan memupuk kebaikan.

Dalam ajaran Islam, zakat merupakan ibadah yang mengandung dua dimensi, yaitu vertikal dan horisontal.  Memiliki dimensi vertikal  karena zakat merupakan ibadah yang memiliki nilai ketaatan kepada Allah SWT (hablum minallahi) guna menggapai ridha-Nya. Sedangkan dalam dimensi horisontal sebagai kewajiban kepada sesama manusia (hablum minannas). Zakat merupakan suatu kewajiban bagi subyeknya (muzakki) dan menjadi hak bagi objek zakat (mustahiq). Adapun mustahiq zakat adalah Fakir, Miskin, Amil Zakat, Mualaf (orang baru memeluk agama Islam), Riqab (budak), Gharim (orang yang berutang untuk kebaikan), dan Sabilillah (sedang berjuang di jalan Allah).

Zakat mempunyai sejumlah fungsi. Diantaranya pertama: membersihkan diri (tazkiyatun nafs) dari sifat-sifat bakhil, kikir, pelit (beda degan hemat) dan tidak peduli dengan sesama. Kedua, fungsi edukasi, yakni: membantu membiayai pendidikan anak-anak yang sedang sekolah atau kuliah. Ketiga, fungsi sosial sosial dan ekonomi, yakni: memberikan pertolongan bagi kaum lemah (mustadafin) atau bantuan modal usaha bagi kalangan yang bergerak di bidang ekonomi atau usaha. Keempat, fungsi politik yakni: membantu keuangan negara yang mengalami ketidakmampuan dalam mengembangkan usaha-usaha produktif, potensi pajak, atau mengelola sumber daya alam yang melimpah.