Cerpen

Rempang – Cerpen Noerjoso

Noerjoso
×

Rempang – Cerpen Noerjoso

Sebarkan artikel ini
cerpen rempang
Google Maps

“BANGSAT! Dasar Anjing penjilat!” umpat Kohar sambil membantingkan tongkat pemukulnya ke atas meja pos ronda. Para lelaki kampung yang malam itu kebetulan mendapat giliran jaga bersama Kohar hanya terdiam membisu sembari memperhatikan raut muka Kohar yang sudah dipenuhi amarah tersebut.

“Terus Kita akan bertahan sampai kapan Kang?” tanya Supri dengan nada yang terdengar sudah hampir putus asa. Belum sempat Kohar menjawab pertanyaan Supri, tiba-tiba dari arah selatan terdengar Janto berteriak-teriak minta tolong. Spontan para lelaki kampung yang tengah berjaga-jaga di pos ronda tersebut berdiri dan dengan segera mengambil pentungannya masing-masing. Keletihanpun segera sirna berganti dengan ketegangan.

“Apa yang terjadi di pos selatan?” tanya Kohar setelah Janto berdiri tepat di hadapan Kohar. Nafasnya naik turun sambil tangannya menunjuk ke arah selatan. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Anu Kang!” ucap Janto tersengal-sengal disertai nafasnya yang masih terus memburu.

“Anu apa?” tanya balik Kohar tak sabar. Diguncang-guncangkannya pundak lelaki bertubuh kerempeng tersebut dengan keras. Dengan begitu, kohar berharap Janto segera dapat mengatasi kepanikannya.

“Polisi dan tentara telah menerobos barikade yang kita pasang Kang! Beberapa rumah telah berhasil diterjang oleh buldozer!” ucap janto terbata-bata. Tubuhnya gemetaran menahan kesedihan sekaligus amarah.

Mendengar Polisi dan tentara telah berhasil menerobos barikade yang dipasang oleh warga kampung, spontan tanpa ada yang memberi komando, para lelaki kampung itupun segera berlari berhamburan ke arah selatan tempat dimana Janto dan teman-temannya berjaga-jaga.

Para lelaki kampung itu tahu persis bahwa mereka tak akan sanggup menghadapi amukan buldozer, tapi naluri untuk mempertahankan hak dari penggusuran dan melawan kesewenang-wenangan itu telah mengalahkan rasa takut mereka sendiri.

“Bangsat! Dasar antek-antek keparat!” umpat Kohar sambil berlari menyusul teman-temannya diikuti oleh Janto.

Di langit terlihat bulan seperti enggan bersinar. Makhluk penghias langit itu seperti tak ingin menyaksikan tumpahnya darah orang-orang kampung yang hendak digusur tersebut. Konon kabarnya kampung Kohar yang hanya sebuah pulau kecil itu hendak dijadikan pusat bisnis guna mendongkrak devisa negara.

Kampung Kohar yang menghadap ke arah negeri tetangga itu memang memiliki potensi yang membuat para taipan menelan ludah. Gayung bersambut, konon kabarnya pula pemerintah juga menyetujui keinginan para taipan tersebut.

Alasannya tentu saja untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kohar dan ratusan warga yang sudah turun temurun tinggal di kampung tersebut harus digusur. Apalagi mereka tidak memiliki bukti kepemilikan yang sah atas kampung tersebut.

Ketika Kohar telah sampai di pos jaga selatan kampung, kedatangannya telah disambut oleh suara-suara yang memekakan telinga. Suara itu berasal dari lengan buldozer yang menghantam dinding-dinding rumah warga kampung. Tak hanya itu saja, suara itu juga tumpang tindih dengan teriakan histeris ketakutan dari para perempuan kampung.

Tak pelak lagi semakin menambah pilu suasana malam itu. Kohar segera memerintahkan para laki-laki kampung untuk mengungsikan para perempuan dan anak-anak ke tempat yang lebih aman. Sementara ia dan lelaki kampung yang lain memasang beberapa penghalang guna menghentikan laju buldozer.