Kontemplasi

Sabar dan Salat

Ardi Kafha
×

Sabar dan Salat

Sebarkan artikel ini
sabar dan salat
Ilustrasi foto: Pexels.com/Asifgraphy

KITA perlu menata hati dengan ilmu bahwa tidak ada sesuatu pun yang bakal menimpa kita selain izin Allah. Bahwa yang datang itu minallah, baik suka maupun duka.

Maka, Allah Swt. menuntun, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh Allahb beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). 

Dari situ jelaslah, Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk isti’anah, minta tolong. Yakni lewat media sabar. Sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan istiqomah dalam beribadah.

Untuk bersabar tidaklah mudah. Dalam hal apa pun. Menyimpulkan sesuatu acap kali kita tidak sabaran. Padahal belum cukup bukti, belum cukup fakta, belum cukup data, tapi sudah berani menyimpulkan.

Intelektual pun butuh sabar. Kita omong pun butuh sabar, kapan omong, kapan diam. Kapan harus berkomentar, kapan tidak, itulah sabar. Dan betapa hari-hari ini, bersabar untuk tidak cepat berkomentar itu luar biasa susah, padahal itu yang terbaik.

Allah menuntun, sekira ingin menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, selesaikan dengan media sabar. Lebih baik diam, tidak berkomentar, dan dengarkan yang baik-baik saja.

Bahkan Rasulullah Saw. melatih umat bersabar, salah satunya, lewat media makan. Bahwa Nabi makan dengan tiga jari, lantaran yang diambil sedikit demi sedikit. Saat mengunyah pun lama. Sangat pelan.

Jadi, bayangkan, bagaimana kita berlatih sabar sekiranya makan saja tidak bersabar?

Kita juga dilatih sabar saat di jalanan. Di jalan itu kelihatan siapa yang sabar, siapa yang tidak. Dan memang, sesungguhnya alam raya ini madrasah buat kita, guna menguji kesabaran. Maka, sekiranya ingin cepat dapat menyelesaikan masalah, minta tolonglah dengan sabar.

Selanjutnya isti’anah dengan salat. Minta tolong kepada Allah dengan media salat. Sahabat Khudzaifah mengatakan “Apabila Nabi Saw. tertekan oleh suatu urusan, maka beliau melaksanakan salat.”

Oleh para ulama, salat yang dimaksud adalah salat hajat. Jadi, apabila kita tertekan atau tengah dirundung masalah, boleh minta tolong kepada-Nya dengan media salat. Salat apakah itu, boleh salat hajat, boleh salat Mutlaq.

Ibnu Abbas pernah menjalankannya. Ketika beliau masih dalam perjalanan jauh mendapat kabar salah satu saudaranya meninggal dunia. Yang beliau lakukan kemudian menjalankan salat dua rekaat, sebagai wujud rasa ketertekanan lantaran saudara yang dicintai telah mendahului pulang. Tertekan karena mesti lanjut atau balik pulang, perlu diingat perjalanan saat itu tidaklah mudah seperti zaman sekarang.

Dalam konteks ini, apabila kita mengalami kerugian, salatlah. Apabila dizalimi, dicurangi, di-PHK, ada tetangga yang menjengkelkan, segera ambil wudu dan salat dua rekat mengadu kepada Allah. Tapi susah, memang! Namun paling tidak kita menjalani perintah dalam Al-Quran, meski hanya sekali.

Lantas hilangkah masalah? Kalau kita jalani dengan ikhlas, insya Allah, hilang. Dendam dibuang, dan seterusmnya dan sebagainya.

Ada cerita, seorang pemuda Anshar yang tajir dan ahli ibadah sedang melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, si pemuda itu dirampok. Ternyata, perampok itu tidak hanya ingin merampok hartanya tapi juga nyawanya.