Kontemplasi

Satu Hati Satu Nurani

Ardi Kafha
×

Satu Hati Satu Nurani

Sebarkan artikel ini
satu hati
Ilustrasi foto: Pexels.com/cottonbro studio

“Apakah kau tidak ingat bahwa kau pernah memerangi kami dengan pasukanmu dan kau tidak ingin kembali hingga berhasil menghancurkan kami hinga ke akar-akarnya, namun perkara Allah menghalang-halangi antara dirimu dan keinginanmu itu.

“Sebaliknya, Allah menjadikan kemenangan itu berada pada pihak kami, hingga nama Latta dan Uzza tidak disebut-sebut lagi.

“Adapun perkataanmu, siapa yang mengajariku membuat parit?

“Maka, sesungguhnya Allah telah mengilhamkan itu kepadaku karena kebencianmu dan kebencian para pengikutmu kepada-Nya. Sungguh akan datang atasmu suatu hari di mana kau akan membelaku di ar-Rah, dan sungguh akan datang atasmu suatu hari di mana aku menghancurkan Latta, Uzza, Isaf, Na’ilah, dan Hubal. Aku peringatkan dirimu dengan hal itu.” (Al-Maghazi Al-Waqidi jilid 1).

Hal itulah yang membuat umat memiliki hati yang sadar dan nurani yang terjaga. Di tengah-tengah Perang Khandaq yang berlangsung sekitar 20 hari, tidak seorang pun dari kelompok-kelompok kaum muslim merasa tenang.

Mereka semua saling bantu. Hati yang sadar membuka benak yang tertutup. Sehingga setiap dari mereka ini berkreasi dan melaksanakan kreasinya. Rasulullah sebagai manusia dengan nurani yang sangat peka berada di tengah-tengah mereka, menenangkan dan mengarahkan.

Hal tersebut menunjukkan betapa poros kerja dalam risalah yang dibawa Baginda Nabi adalah hati dan nurani. Dan sesungguhnya kekuatan umat tidak akan tampak kecuali jika semua orang Islam satu hati dan satu nurani.

Maka, ide pembuatan parit itu adalah untuk menghalangi antara orang-orang kafir dan penerobosan Madinah. Dan sesungguhnya kaum kafir itu bisa menembus parit, tetapi pasukan gabungan itu tak sadar bahwa kekuatan yang sebenarnya terdapat pada umat Islam yang di belakang parit.

Ya, kekuatan iman yang tak lain adalah kesatuan hati dan nurani.