Kontemplasi

Tak Mengandalkan Keajaiban

Ardi Kafha
×

Tak Mengandalkan Keajaiban

Sebarkan artikel ini
Tak Mengandalkan Keajaiban
Ilustrasi foto: Pexels.com/Helena Lopes

HARI-hari ini, saya makin tertantang untuk menyuntuki sejarah peperangan Rasulullah Saw., seiring skala kekerasan di Palestina yang kian brutal.

Dan Al-Waqidi sedemikian terang merekam peperangan demi peperangan yang ditempuh Nabi Saw. bersama para sahabat, guna menegakkan keagungan Islam di mata dunia saat itu.

Meskipun ada banyak penulis Sirah Nabi, tetapi yang menulis tentang ekspedisi militer Rasulullah Saw. secara lengkap, setahu saya, adalah Muhammad bin Umar bin Waqidi (wafat 822 M), yang akrab disebut Al-Waqidi. Selain Al-Waqidi merupakan penggalan-penggalan singkat yang seolah berdiri sendiri, tidak berkait satu dengan yang lainnya.

Dari Al-Maghazi, kitab klasik karya Al-Waqidi, dapat kita baca sebagai suatu rangkaian kegiatan militer dan politik dalam rangka penyebaran dan ekspansi kekuatan Islam. Sebagai satu kesatuan yang menjadi basis kekuatan penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Mulai dari Perang Badar hingga berujung pada pembebasan Makkah, akan tampak sebagai satu kesatuan dengan perencanaan matang, bukan asal aksi reaktif seperti yang ditulis Mohamad Jebara dalam Muhammad the World Changer.

Pembebasan Makkah merupakan pintu utama bagi masuknya jazirah Arabia ke pangkuan Islam. bahwa seluruh jazirah Arab bergerak dalam satu barisan menuju Islam secara sukarela dan damai.

Namun, untuk masuk tahun berbondong-bondongnya penduduk Arab mengakui Islam, bukanlah jalan mudah. Rasulullah Saw. bekerja tiada henti seiring perencanaan dan strategi yang amat tinggi, serta perhitungan yang begitu akurat.

Nah, kita telisik sekilas, misalnya, operasi-operasi sebelum pecah Perang Badar, sebagaimana terekam dalam Al-Maghazi Al-Waqidi. Pertama, operasi Saif Al-Bahr, Maret 623, dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib dengan kekuatan 35 orang. Operasi ini menyisir jalur pantai yang dilalui rombongan dagang Makkah 300 orang yang dipimpin Abu Jahal.

Kedua, operasi Rabigh, April 623, dipimpin Ubaidah bin Al-Harits bin Abdul Muthalib untuk melakukan pencegatan terhadap 200 orang rombongan Quraisy yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal.

Ketiga, operasi Kharar, Mei 623, dipimpin Sa’d bin Abi Waqqash bersama 20 orang Muslimin untuk membuntuti rombongan dagang Quraisy hingga batas lembah Kharar.

Keempat, Perang Abwa, Agustus 623, dipimpin langsung Rasulullah Saw. untuk mencegat rombongan dagang Quraisy. Tidak ada kontak senjata. Dan beliau mengadakan perjanjian pertahanan dengan Bani Dhamrah.

Kelima, Perang Buwath, September 623, dipimpin oleh Rasulullah Saw. bersama 200 orang, dan Sa’d bin Abi Waqqash sebagai pemegang bendera. Sasaran mereka adalah rombongan dagang Quraisy yang dipimpin Umaiyah bin Khalaf berjumlah 100 orang dan 2500 ekor unta.

Keenam, Perang Badar pertama, September 623, Rasulullah Saw. mengejar gerombolan Kurz bin Jabir Al-Fihri yang merampok peternakan Madinah di Jamma’, sekitar 5,5 km tenggara Madinah. Pengejaran dilakukan sampai ke daerah Badar, mereka lolos dari kejaran, dan beliau kembali ke Madinah.

Ketujuh, Perang Dzatul ‘Usyairah. Rasulullah Saw. memimpin pasukannya bergerak ke Dzatul ‘Usyairah untuk mengadang rombongan dagang Quraisy yang kembali dari Syam. Mereka adalah rombongan yang dibuntuti pada Perang Buwath saat menuju Syam, tetapi tak terkejar. Tak terjadi kontak senjata, tetapi beliau berhasil mengadakan perjanjian pertahanan dengan Bani Mudlaj dan para sekutunya dari Bani Dhamrah.