Esai

Titik Soalnya Pada Petugas Partai

Eko Tunas
×

Titik Soalnya Pada Petugas Partai

Sebarkan artikel ini
jokowi petugas partai
Ilustrasi foto: Presiden Joko Widodo/Foto: Fb Jokowi

SEJAK awal Jokowi tampaklah tidak nyaman dengan obyektivasi petugas partai, diksi yang di kemudian periode mengemuka. Mengingatkan secara internal partai, bahwa dia adalah petugas partai.

Entah menangkap atau tidak, Jokowi menghadapkan sikapnya, mengutamakan kepentingan rakyat.

Lanjut kalimat Jokowi yang dinegasikan, bahwa untuk menolak obyek petugas partai seorang pemimpin mesti punya nyali. Satu penegasan sebagai subyek pemimpin terhadap diksi lanjut, petugas partai mesti tegak lurus pada ketua dan otoritas partai.

Inilah sebenarnya contravita Jokowi dan rumah partainya. Bahwa baginya yang penting bukan partai apalagi elite partai, tapi kedaulatan rakyat mesti diletakkan dalam posisi yang utama.

Sebagai Presiden ia melakukan praktik itu, dan selama dua periode tampaklah rumah partainya semacam kecolongan.

Kecolongan bahwa sejak awal petugas partainya itu melakukan pembangkangan. Dia tidak menjalankan tugas sebagai petugas partai, dan tentulah tidak tegak lurus terhadap ketua dan adagium partainya.

Ada perhitungan yang luput, tidak mengira di balik tubuh yang kurus tersimpan nyali seorang pemimpin: menomer duakan dirinya (dan rumah partainya) dan menomer satukan rakyat.

Frasa pembangkangan pun seolah menenggelamkan seluruh bangunan kerja Sang Presiden selama dua periode. Tingkat simpati atas prestasi yang mencapai 80%, seakan dibalikkan menjadi nol persen.

Apakah dia menjadi si anak hilang, atau bahkan si Malin Kundang yang mendurhakai ibunya. Di sinilah muncul kalimat lanjut sang Presiden: politik kita jadi drama baperan macam sinetron.

Atau bisa dibilang drakor tersukses, yang bahkan menguras air mata seorang budayawan senior dan seorang politikus tangguh.

Kini Jokowi dan elit parpol rumah partainya berhadapan dalam kancah kekuasaan. Yang satu bicara tentang rakyat, dan yang kedua beranalogi soal etika.***