Esai

Wanita, Kewanitaan dan Feminisme

Maria A. Alcaff
×

Wanita, Kewanitaan dan Feminisme

Sebarkan artikel ini
wanita
Ilustrasi foto: Unsplash/Wahyu Setiawan

Alih-alih atas dasar hak asasi, namun jauh keluar dari konteks “asali” fitrah manusia. Bukankah “benih” tidak bisa menggantikan peran lahan? Bukankah sesubur apapun lahan jika tidak ada benih yang ditanam, lahan tesebut bagaikan hamparan kosong tak menghasilkan?

Jadi bukan lagi soal layak mendapatkan yang sama seperti gerakan feminisme, bukan soal perempuan juga bisa, namun pada kemuliaan wanita dalam fitrahnya sebagai lahan persemaian bagi tumbuhnya peradaban manusia.

Secara ideal, wanita berhak mendapatkan kesehatan, kenyamanan saat mengandung generasi penerus. Memiliki kemuliaan sebagai gerbang kelahirannya, dan sebagai sekolah pertama (madrasah) yang memberikan pendidikan, pengetahuan dasar atau ilmu pertama kepada suatu generasi.

Kecerdasan dan ketangguhan suatu generasi sangat bergantung pada pengetahuan dasar yang diterima generasi tersebut. Bahkan jika proses kelahiran tersebut menyebabkan nyawa ibu terenggut, Allah memberikan kemuliaan sebagai syahid. Layaknya martir yang berkorban mati untuk hidupnya sebuah kehidupan baru.

Itulah sebabnya, “surga berada di bawah telapak kaki ibu”. Segala hal yang pertama berasal dari ibu. Ibu yang pertama mengenalkan nutrisi paling dahsyat sumber kesehatan anak berupa ASI, ibu yang mengajarkan berjalan, berkata-kata dan mengenal arti keluarga.

Jadi, biarlah laki-laki berdiri tegak, memimpin upaya pemenuhan hidup jasmani dan rohani, dan wanita memimpin akalnya sebagai sumber ilmu pertama bagi generasi yang dilahirkannya. Bukankah banyak pakar menyatakan, kecerdasan diperoleh dari gen ibu, kekuatan diperoleh dari gen bapak?

Keduanya, laki-laki dan perempuan akan dikatakan berhasil dalam menjalankan misi kehidupan ini manakala mandat yang ditugaskan dijalankan dengan baik, bertanggung jawab serta amanah.