Menandai perayaan ulang tahunnya yang ke-15, komunitas Sastra Bulan Purnama meneguhkan eksistensinya dengan meluncurkan antologi puisi “Kata Kota Kita” yang menghimpun karya 158 penyair dari berbagai penjuru Nusantara di Yogyakarta.
BARISAN.CO, YOGYAKARTA – Memperingati 15 tahun perjalanan, Sastra Bulan Purnama (SBP) meluncurkan antologi puisi Kata Kota Kita yang memuat karya 158 penyair dari berbagai kota di Indonesia.
Acara bertema “Bulan Purnama di Kota” tersebut berlangsung di APMD STPMD, Jalan Timoho Nomor 317, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026).
Antologi bertema “Kota Kita” itu diterbitkan Tonggak Pustaka. Masing-masing penyair menyumbangkan dua puisi yang merekam beragam pengalaman dan pandangan tentang kota.
Pendiri sekaligus Koordinator SBP, Ons Untoro, mengatakan penerbitan buku puisi karya penyair Nusantara telah beberapa kali dilakukan untuk menandai hari ulang tahun komunitas tersebut. Tema yang diangkat selalu berganti pada setiap perayaan.
“Di antara dua tema di tahun berbeda, saya kira keduanya saling bertemu. Karena di kota selalu ada persahabatan, dan ‘Kota Kita’ dalam hal ini SBP menjadi jaringan persahabatan di kota berbeda-beda, dan puisi meneguhkan persahabatan itu,” kata Ons.
Menurut Ons, antologi Kata Kota Kita menjadi salah satu cara untuk mempertemukan penyair dari berbagai kota melalui karya sastra. Puisi menjadi medium yang menghubungkan pengalaman sekaligus memperkuat persahabatan lintas daerah.
Perayaan 15 tahun SBP juga menghadirkan pidato kebudayaan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Faruk, dengan tema “Komunitas Sastra di Era Digital”.
Dalam naskah pidato berjudul “Mengkoneksikan Sastra dan Sastrawan: Paradoks Komunitas Sastra di Era Digital”, Faruk menyoroti perubahan makna komunitas seiring perkembangan teknologi komunikasi digital.
Kemajuan teknologi memungkinkan orang terhubung dengan lebih banyak pihak, lebih cepat, dan melampaui batas wilayah. Namun, keterhubungan tersebut tidak serta-merta membentuk komunitas dalam pengertian tradisional.
Faruk mengawali pembahasannya dengan mengacu pada istilah connecting people, yang pernah digunakan sebagai slogan produk telepon seluler Nokia.
Menurutnya, perubahan teknologi komunikasi dari waktu ke waktu memperluas akses dan mempercepat pertukaran informasi. Meski demikian, persoalan pentingnya adalah apakah konektivitas semacam itu dengan sendirinya membentuk sebuah komunitas.
Dalam naskah pidatonya, Faruk menjelaskan bahwa komunitas secara tradisional dipahami sebagai kelompok sosial dengan jumlah anggota dan wilayah terbatas, serta ikatan yang erat. Interaksi antaranggota cenderung berlangsung secara langsung, intim, dan relatif homogen.
Sementara itu, perkembangan masyarakat ditandai oleh wilayah yang lebih luas, anggota yang heterogen, serta organisasi sosial yang lebih kompleks. Perkembangan teknologi komunikasi turut mengubah cara manusia membentuk dan mempertahankan hubungan sosial.
Faruk kemudian menghubungkan perubahan tersebut dengan kemunculan komunitas sastra. Menurutnya, istilah komunitas kini tidak hanya merujuk pada kelompok yang terbentuk berdasarkan kekerabatan atau kedekatan wilayah, tetapi juga kelompok yang dibangun berdasarkan profesi dan minat tertentu, termasuk sastra.
Dalam konteks era digital, Faruk menekankan bahwa koneksi tidak selalu berarti kesatuan. Ia menyatakan, “Komunitas yang terbentuk dalam era digital adalah komunitas yang terkoneksi, bukan yang terunifikasi.”
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa komunitas sastra digital dapat terbentuk melalui jaringan yang tidak harus terikat pada satu lokasi atau satu kelompok yang seragam. Para pelakunya dapat terhubung dengan berbagai komunitas sekaligus, berpindah dari satu simpul ke simpul lain, dan membangun hubungan melalui beragam saluran komunikasi.
Faruk juga menyebut komunitas sastra digital sebagai simpul dalam jejaring yang dinamis. Dalam naskah pidatonya, ia menulis, “Komunitas sastra digital adalah simpul dari jejaring, yang dapat bergerak, bergeser, dan bahkan ke dan berada dalam berbagai simpul yang berbeda.”
Selain menjadi ruang pertemuan dan pertukaran gagasan, komunitas sastra digital juga dapat menjalankan fungsi produksi sekaligus konsumsi karya.
Faruk menyebut pola tersebut sebagai prosumer, yakni ketika anggota jaringan dapat berperan sebagai penghasil sekaligus pengguna karya atau informasi.
Pemikiran itu menjadi bagian dari pembahasan mengenai tantangan komunitas sastra di tengah perkembangan teknologi digital. Konektivitas membuka peluang lebih luas bagi penyair dan komunitas untuk berinteraksi, tetapi karakter hubungan yang terbentuk tidak selalu sama dengan ikatan komunitas dalam pengertian konvensional.
Dimeriahkan Lagu Puisi dan Pembacaan Puisi
Selain pidato kebudayaan, acara dimeriahkan penampilan lagu puisi oleh Joshua Igho, Royke B. Koapaha, dan Yupi.
Pembacaan puisi juga menghadirkan Mulyadi J Amik dari Surabaya, Warsono Abi dari Cilacap, Marlin Dinamikanto dari Jakarta, Sudarmono dari Magelang, Dhama Dove dari Banjarnegara, Indri dari Magelang, Mala dari Sidoarjo, Destiyanti dari Yogyakarta, serta Nela dari Temanggung.
Prosesi perayaan ditandai secara simbolis dengan keduk tumpeng oleh Ons Untoro. Tumpeng kemudian diserahkan kepada Faruk HT dan Prof. Dr. PM Laksono, antropolog UGM.
Pada kesempatan yang sama, buku Kata Kota Kita diserahkan kepada Indro Suprobo selaku Direktur Tonggak Pustaka.
Seluruh rangkaian acara dipandu oleh pewara Ana Ratri dan Savitri Damayanti. []









