Scroll untuk baca artikel
Keluarga

Bukan Warisan Harta, Ini 6 Bekal Krusial yang Wajib Disiapkan Orang Tua demi Masa Depan Anak!

Ninik Ambarwati
×

Bukan Warisan Harta, Ini 6 Bekal Krusial yang Wajib Disiapkan Orang Tua demi Masa Depan Anak!

Sebarkan artikel ini
mempersiapkan masa depan anak
Ilustrasi momen hangat interaksi orang tua saat mendampingi anak belajar membaca buku di ruang keluarga yang nyaman. (Foto: Dok. Pribadi/Ilustrasi)

Mendidik anak bukan sekadar mewariskan materi, melainkan membangun modal manusia (human capital) lewat penguatan pendidikan karakter, literasi, serta fondasi kesehatan fisik dan mental.

BARISAN.CO – Jika saya ditanya, apa pekerjaan terberat di dunia? Jawaban saya adalah mendidik dan mengasuh anak. Sebab, mendidik dan mengasuh anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya, menyekolahkan, atau memastikan mereka tumbuh sehat.

Lebih dari itu, orang tua bertanggung jawab membantu anak membangun karakter, menemukan potensi diri, belajar menghadapi perubahan, dan mempersiapkan masa depan yang belum sepenuhnya dapat kita bayangkan hari ini.

Mengasuh anak merupakan proses panjang yang terbentuk dari pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai keluarga, budaya, serta lingkungan tempat anak tumbuh. Tidak ada sekolah formal yang menjamin seseorang akan menjadi orang tua yang sempurna.

Bahkan, pengalaman membesarkan seorang anak belum tentu sepenuhnya dapat diterapkan ketika membesarkan anak lainnya. Setiap anak memiliki kepribadian, kebutuhan, dan tahap perkembangan yang berbeda.

Namun, kabar baiknya, orang tua tidak harus menjadi manusia yang sempurna untuk membesarkan anak dengan baik. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk terus belajar, mendengarkan, memperbaiki kesalahan, dan menjadikan peristiwa sehari-hari sebagai kesempatan belajar yang berharga.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35, pernah menyampaikan sebuah kalimat yang terkenal:

“Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future.”

Anak-anak adalah sumber daya paling berharga di dunia dan harapan terbaik bagi masa depan.

Kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, kemajuan teknologi, atau pertumbuhan ekonominya. Masa depan juga ditentukan oleh kualitas manusia yang dipersiapkan sejak masa kanak-kanak.

Mempersiapkan masa depan anak pada hakikatnya adalah mempersiapkan generasi berikutnya agar mampu menjalani kehidupan dengan pengetahuan, kesehatan, karakter, dan kemandirian. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Akan tetapi, memberikan yang terbaik bukan berarti memenuhi semua keinginan anak atau mewariskan sebanyak mungkin kekayaan materi.

Mempersiapkan masa depan anak ibarat membuatkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra kehidupan. Orang tua dapat membantu membuat perahu itu kokoh, menyediakan bekal, menunjukkan arah, dan mengajarkan cara membaca tanda-tanda alam. Namun, pada waktunya, anak harus belajar mengendalikan perahunya sendiri.

Mereka membutuhkan guidance, yakni panduan, arahan, dan pendampingan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk mencoba, membuat keputusan, mengalami kegagalan, serta belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan orang tua agar anak mampu menghadapi masa depan? Setidaknya ada enam hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama.

1. Pendidikan: Membangun Modal Manusia

Pendidikan merupakan salah satu bekal penting yang memengaruhi peluang seseorang sepanjang hidupnya. Pendidikan tidak hanya berhubungan dengan ijazah, nilai rapor, atau kesempatan memperoleh pekerjaan.

Pendidikan juga membentuk cara berpikir, kemampuan berkomunikasi, kepribadian, kreativitas, dan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan.

Dalam perspektif ekonomi, kualitas pengetahuan, keterampilan, kesehatan, dan pengalaman seseorang dikenal sebagai human capital atau modal manusia.

Modal manusia merupakan aset yang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi berpengaruh terhadap produktivitas dan kemampuan seseorang untuk beradaptasi.

Bagi anak-anak, investasi pada modal manusia tidak cukup dilakukan dengan memilih sekolah yang mahal atau menyediakan berbagai fasilitas belajar. Orang tua perlu memastikan bahwa anak benar-benar memperoleh kesempatan untuk belajar, memahami sesuatu, mengembangkan rasa ingin tahu, dan menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa akses sekolah saja belum cukup. Dalam dokumen program kerja sama UNICEF untuk Indonesia yang diterbitkan pada 2025, dengan data pendidikan yang merujuk pada 2024, tercatat bahwa hanya sekitar 70,6 persen murid sekolah dasar mencapai kompetensi minimum literasi dan 62,6 persen mencapai kompetensi minimum numerasi. Dokumen yang sama memperkirakan sekitar 3,5 juta anak berusia 7–18 tahun berada di luar sekolah. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa kualitas pembelajaran dan keberlanjutan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar. [1]

Temuan itu seharusnya mendorong orang tua untuk tidak hanya bertanya, “Berapa nilai anak saya?” tetapi juga, “Apa yang benar-benar dipahami anak saya?”

Apakah anak mampu membaca dan memahami informasi? Apakah ia dapat menjelaskan pendapatnya dengan baik? Apakah ia mampu membedakan fakta dan opini? Apakah ia berani bertanya ketika tidak memahami sesuatu? Apakah ia dapat menyelesaikan masalah tanpa selalu menunggu jawaban dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika anak tumbuh di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan dunia kerja. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan menilai kebenaran informasi, berpikir kritis, berkreasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab justru semakin dibutuhkan.

Karena itu, pendidikan masa depan harus memadukan pengetahuan akademik dengan keterampilan hidup. Anak perlu belajar membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, serta memahami teknologi digital.

Peran orang tua dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: membacakan buku, mengajak anak berdiskusi, memberikan kesempatan untuk bertanya, mengajak mereka menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan menghargai usaha mereka ketika menghadapi kesulitan.

Pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat anak selalu memperoleh jawaban benar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menumbuhkan keberanian untuk mencari jawaban, kesediaan untuk mengakui kesalahan, dan kemampuan untuk terus belajar.

2. Kesehatan: Fondasi bagi Tumbuh Kembang Anak

Kita sering berbicara tentang pendidikan, prestasi, dan kesuksesan, tetapi terkadang lupa bahwa semuanya membutuhkan fondasi berupa kesehatan fisik dan mental.

Anak yang sehat memiliki kesempatan lebih baik untuk bermain, belajar, membangun hubungan sosial, dan mengembangkan potensinya. Sebaliknya, gangguan kesehatan, kekurangan gizi, kurang tidur, tekanan psikologis, dan lingkungan yang tidak sehat dapat menghambat proses tumbuh kembang.

Laporan bersama UNICEF, WHO, dan Bank Dunia yang diterbitkan pada 2025 memperbarui estimasi masalah gizi anak berdasarkan data hingga 2024. Secara global, sekitar 150 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor terkait. Data ini menegaskan bahwa pemenuhan gizi dan perawatan kesehatan sejak dini masih menjadi tantangan dunia. [2]

Masalah kesehatan anak juga tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan. Kelebihan berat badan, konsumsi makanan tinggi gula dan garam secara berlebihan, kurang aktivitas fisik, paparan polusi, serta kebiasaan tidur yang buruk perlu mendapat perhatian.

Profil aktivitas fisik Indonesia yang diterbitkan WHO pada 2024, dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, mencatat bahwa sekitar 58 persen anak dan remaja berusia 10–14 tahun serta 50,4 persen kelompok usia 15–19 tahun tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan dalam indikator survei tersebut. [3]

Angka ini menjadi pengingat bahwa kesehatan anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, dokter, atau fasilitas kesehatan. Kebiasaan hidup sehat perlu dibangun di rumah dan didukung oleh lingkungan yang memungkinkan anak bergerak aktif.

Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan makanan bergizi seimbang, membiasakan anak minum air putih, mengajak mereka bermain dan berolahraga, menjaga waktu tidur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.

Kesehatan mental pun perlu memperoleh perhatian yang sama. Anak membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa aman untuk menyampaikan ketakutan, kesedihan, kekecewaan, dan kebingungannya. Tidak setiap masalah anak harus segera dijawab dengan nasihat. Terkadang, mereka hanya membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

Selain itu, lingkungan tempat tinggal ikut menentukan kualitas kesehatan. Polusi udara, kebisingan, minimnya ruang terbuka hijau, risiko kecelakaan lalu lintas, serta keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh keluarga secara individual.

WHO menjelaskan dalam pembaruan informasi kesehatan lingkungan anak pada Oktober 2024 bahwa berbagai penyakit pada anak berkaitan dengan lingkungan yang tidak sehat. Analisis WHO yang menggunakan data 2016 memperkirakan bahwa lebih dari 28 persen kematian anak di bawah lima tahun pada saat itu berkaitan dengan faktor lingkungan. Angka tersebut merupakan estimasi historis, bukan angka kematian terkini, tetapi tetap menunjukkan besarnya hubungan antara kualitas lingkungan dan kesehatan anak. [4]

Di kota-kota besar, misalnya, perjalanan menuju sekolah dapat menjadi bagian dari persoalan kesehatan ketika anak harus berhadapan dengan kemacetan, polusi, dan terbatasnya ruang aman untuk berjalan kaki atau bersepeda. Karena itu, mempersiapkan kesehatan anak juga berarti mendukung transportasi yang lebih aman, lingkungan yang lebih bersih, dan ruang publik yang ramah anak.

Pada akhirnya, anak tidak cukup hanya diajarkan cara menjaga kesehatan dirinya sendiri. Mereka juga perlu memahami bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat, dan lingkungan tempat mereka hidup.

3. Kemampuan Sosial dan Emosional: Belajar Hidup Bersama Orang Lain

Manusia tidak menjalani kehidupan seorang diri. Hampir setiap tahap kehidupan menuntut kita untuk berinteraksi, bekerja sama, menyelesaikan perbedaan, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Karena itu, kemampuan sosial merupakan salah satu bekal penting bagi masa depan anak. Kemampuan ini mencakup komunikasi, empati, kerja sama, pengendalian emosi, penyelesaian konflik, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Seorang anak mungkin memiliki prestasi akademik yang sangat baik, tetapi ia tetap membutuhkan keterampilan untuk bekerja dalam kelompok, menerima kritik, menyampaikan ketidaksetujuan dengan santun, dan memahami perasaan orang lain.

Kemampuan sosial tidak terbentuk hanya melalui nasihat. Anak mempelajarinya melalui pengalaman sehari-hari dan contoh yang diberikan orang dewasa.

Ketika orang tua menyelesaikan perselisihan dengan berdialog, meminta maaf setelah melakukan kesalahan, dan menghormati pendapat anggota keluarga, anak memperoleh contoh nyata tentang cara membangun hubungan yang sehat.

Sebaliknya, jika anak terus-menerus menyaksikan penghinaan, kekerasan verbal, atau kebiasaan merendahkan orang lain, ia dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Oleh sebab itu, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti kegiatan kelompok, membantu orang lain, dan belajar menyelesaikan persoalan sesuai usianya.

Ketika terjadi konflik antaranak, orang tua tidak harus selalu terburu-buru menentukan siapa yang salah. Mereka dapat membantu anak memahami apa yang terjadi, bagaimana perasaan setiap pihak, serta apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan.

Kemampuan sosial juga mencakup kecakapan menghadapi dunia digital. Anak perlu memahami bahwa orang yang berkomunikasi melalui layar tetap memiliki perasaan dan hak yang harus dihormati. Mereka juga perlu mengetahui cara menghadapi perundungan siber, menjaga privasi, mengenali manipulasi, dan meminta bantuan ketika mengalami sesuatu yang membuatnya takut.

UNICEF menerbitkan kajian mengenai pengalaman anak dan orang tua di dunia daring Indonesia pada Februari 2025. Kajian tersebut menunjukkan bahwa hanya 37,5 persen anak yang disurvei pernah memperoleh informasi tentang cara menjaga keamanan saat berinternet. Sebanyak 42 persen mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring, sedangkan 50,3 persen melaporkan pernah melihat gambar seksual di media sosial. Angka-angka ini berasal dari kajian tersebut dan tidak boleh dianggap mewakili seluruh anak Indonesia tanpa memperhatikan metode serta cakupan surveinya. [5]

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keterampilan sosial masa kini tidak hanya diperlukan di sekolah, tempat bermain, dan lingkungan masyarakat. Keterampilan itu juga dibutuhkan ketika anak berinteraksi di ruang digital.

Tujuan akhirnya bukan menjadikan anak selalu patuh atau menyenangkan semua orang, melainkan membantu mereka tumbuh sebagai pribadi yang mampu menghormati orang lain tanpa kehilangan keberanian untuk melindungi dirinya sendiri.

4. Nilai-Nilai Kekeluargaan: Menanamkan Karakter dan Rasa Memiliki

Keluarga merupakan salah satu lingkungan pertama tempat anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, penghargaan, kejujuran, dan kepedulian.

Nilai-nilai kekeluargaan tidak cukup diajarkan melalui kata-kata. Nilai tersebut perlu dihidupkan dalam kebiasaan sehari-hari agar anak dapat melihat hubungan antara apa yang dikatakan orang tua dan bagaimana mereka bertindak.

Ada tiga nilai mendasar yang menurut saya perlu terus ditanamkan.

Pertama, kasih sayang. Anak perlu mengetahui bahwa dirinya dicintai bukan hanya ketika memperoleh nilai bagus, memenangkan perlombaan, atau memenuhi harapan orang tua. Ia juga perlu merasakan penerimaan ketika melakukan kesalahan dan membutuhkan pertolongan.

Kasih sayang bukan berarti membebaskan anak dari aturan. Justru, kasih sayang yang sehat berjalan bersama batasan yang jelas, konsistensi, dan tanggung jawab.

Kedua, penghargaan. Anak perlu belajar menghargai dirinya sendiri, orang lain, waktu, usaha, dan perbedaan. Menghargai anak juga berarti mendengarkan pendapatnya, mengakui perasaannya, dan tidak mempermalukannya ketika melakukan kesalahan.

Ketiga, kepedulian. Anak perlu memahami bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada kepentingan dirinya. Ada anggota keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat yang juga membutuhkan perhatian serta bantuan.

Nilai kepedulian dapat dibangun melalui tindakan sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah, berbagi dengan sesama, merawat hewan, menjaga kebersihan lingkungan, atau mengunjungi anggota keluarga yang sedang sakit.

Di samping ketiga nilai tersebut, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan rasa syukur juga perlu dikembangkan. Semua itu akan menjadi kompas moral ketika anak menghadapi situasi yang tidak selalu dapat diawasi oleh orang tua.

Penting pula bagi keluarga untuk membangun kebiasaan berdialog. Anak yang terbiasa menyampaikan pendapat dan mengungkapkan perasaannya secara sehat memiliki kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dengan lebih matang.

Pada saat yang sama, orang tua perlu memahami bahwa menanamkan nilai tidak berarti memaksakan semua pilihan hidup anak. Ketika anak tumbuh dewasa, ia akan menghadapi lingkungan, pemikiran, dan tantangan yang berbeda dari generasi orang tuanya.

Tugas keluarga adalah memberikan fondasi moral yang kuat sekaligus membantu anak mengembangkan kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan konsekuensi, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

Dengan demikian, nilai-nilai kekeluargaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai tersebut merupakan bekal untuk membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

5. Keterampilan Belajar: Menumbuhkan Kemampuan untuk Terus Berkembang

Di tengah perubahan zaman, salah satu bekal paling berharga yang dapat diberikan kepada anak adalah kemampuan untuk terus belajar.

Pengetahuan yang diperoleh hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi persoalan sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Teknologi, pola kerja, kebutuhan masyarakat, dan cara manusia berkomunikasi terus berubah.

Karena itu, anak perlu mengembangkan keterampilan belajar, yaitu kemampuan menetapkan tujuan, memahami informasi, mengelola waktu, menyusun strategi, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki cara belajar ketika menghadapi kesulitan.

Keterampilan ini berbeda dari sekadar kebiasaan menghafal materi menjelang ujian. Anak yang terampil belajar mampu mengenali apa yang belum dipahaminya, mencari sumber informasi yang dapat dipercaya, mengajukan pertanyaan, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya.

Dalam proses tersebut, orang tua berperan sebagai pendamping, bukan selalu menjadi pemberi jawaban.

Ketika anak kesulitan mengerjakan tugas, misalnya, orang tua dapat membantunya menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian kecil. Ketika anak gagal dalam sebuah perlombaan, orang tua dapat mengajaknya mengevaluasi persiapan dan menentukan hal yang perlu diperbaiki.

Dengan cara ini, kegagalan tidak selalu dipandang sebagai bukti ketidakmampuan, melainkan sebagai informasi yang dapat digunakan untuk berkembang.

Kebiasaan membaca, berdiskusi, melakukan eksperimen sederhana, bermain permainan yang menuntut strategi, dan menyelesaikan proyek kecil dapat membantu mengembangkan keterampilan tersebut.

Anak juga perlu belajar mengelola perhatian. Dalam lingkungan yang dipenuhi notifikasi, video singkat, dan informasi yang terus mengalir, kemampuan untuk berkonsentrasi, menyaring informasi, dan menyelesaikan tugas menjadi semakin penting.

Teknologi dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, tetapi anak harus tetap dilatih untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami proses berpikir, dan menghasilkan gagasan sendiri. Kemudahan memperoleh jawaban tidak boleh membuat anak kehilangan kebiasaan bertanya dan bernalar.

Orang tua pun tidak perlu selalu mengukur keberhasilan belajar berdasarkan peringkat kelas. Kemajuan anak dapat terlihat dari banyak hal: keberanian bertanya, kemampuan menjelaskan gagasan, konsistensi menyelesaikan tugas, kesediaan menerima masukan, dan meningkatnya kemandirian.

Hal yang terpenting adalah menumbuhkan keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, dukungan, dan pengalaman.

Anak yang memiliki kebiasaan belajar sepanjang hayat akan memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi perubahan, termasuk perubahan yang belum dapat diperkirakan oleh orang tuanya saat ini.

6. Kemandirian dan Literasi Digital: Menyiapkan Anak Menghadapi Dunia yang Berubah

Ada satu hal yang semakin penting dalam mempersiapkan masa depan anak, yaitu kemampuan untuk menjadi mandiri dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kemandirian berarti anak secara bertahap mampu mengurus dirinya, mempertimbangkan pilihan, menyelesaikan persoalan, dan menerima konsekuensi dari tindakannya. Kemandirian bukan berarti anak harus menghadapi semua persoalan seorang diri. Ia tetap perlu mengetahui kapan harus mencari bantuan dan kepada siapa ia dapat meminta pertolongan.

Sejak usia dini, kemandirian dapat dilatih melalui tugas sederhana sesuai tahap perkembangan. Anak dapat belajar merapikan mainan, menyiapkan perlengkapan sekolah, mengelola waktu, membantu pekerjaan rumah, dan mengambil keputusan sederhana.

Ketika beranjak remaja, mereka dapat dilibatkan dalam diskusi mengenai penggunaan uang, prioritas kebutuhan, tanggung jawab sosial, pilihan pendidikan, dan perencanaan masa depan.

Orang tua perlu memberikan ruang untuk mencoba, tetapi tetap menyediakan batasan dan pengawasan yang sesuai. Jika setiap kesulitan selalu diselesaikan oleh orang tua, anak mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar mengatasi masalahnya sendiri.

Kemandirian tersebut kini perlu dilengkapi dengan literasi digital.

Laporan UNICEF Childhood in a Digital World, yang diterbitkan pada Juni 2025, menekankan bahwa teknologi digital dapat membuka kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan, tetapi juga dapat memperbesar ketimpangan dan menghadirkan risiko bagi kesehatan mental anak, bergantung pada akses, pengalaman, serta cara penggunaannya. [6]

Oleh karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah anak boleh menggunakan telepon pintar atau berapa lama ia boleh mengakses internet. Yang tidak kalah penting adalah apa yang dilakukan anak ketika berada di dunia digital, informasi apa yang dikonsumsinya, dengan siapa ia berinteraksi, dan apakah ia memahami risiko yang mungkin muncul.

Orang tua perlu mengajarkan anak untuk menjaga data pribadi, menggunakan kata sandi yang aman, memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghormati hak cipta, mengenali penipuan, serta tidak mengirimkan foto atau informasi pribadi kepada orang yang tidak dipercaya.

Anak juga perlu mengetahui bahwa mereka boleh mengatakan tidak, meninggalkan percakapan yang membuat tidak nyaman, memblokir akun yang mengganggu, dan melaporkan perilaku berbahaya. Jika mengalami ancaman atau eksploitasi, mereka harus merasa aman untuk bercerita kepada orang dewasa tepercaya tanpa takut langsung disalahkan.

Di sisi lain, orang tua perlu memberikan teladan dalam penggunaan teknologi. Akan sulit meminta anak membatasi waktu layar jika orang tua sendiri terus-menerus menggunakan telepon ketika sedang makan atau berbicara bersama keluarga.

Masa depan yang baik juga membutuhkan kemampuan mengelola uang, mengambil keputusan, beradaptasi dengan perubahan, dan memahami tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Semua keterampilan itu dapat diperkenalkan secara bertahap melalui pengalaman sehari-hari.

Tujuannya bukan membuat anak selalu siap menghadapi segala kemungkinan, karena hal itu mustahil dilakukan. Tujuannya adalah membangun kemampuan agar anak dapat belajar, menilai situasi, mencari bantuan, dan mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi sesuatu yang baru.

Penutup: Warisan Terbaik adalah Bekal untuk Menjalani Kehidupan

Mempersiapkan masa depan anak merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kesediaan orang tua untuk terus belajar.

Pendidikan memberi anak pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan menyediakan fondasi untuk tumbuh dan berkembang. Kemampuan sosial membantunya hidup bersama orang lain.

Nilai-nilai kekeluargaan memberikan arah moral. Keterampilan belajar membuatnya mampu terus berkembang. Sementara itu, kemandirian dan literasi digital membantunya menghadapi dunia yang terus berubah.

Keenam aspek tersebut tidak berdiri sendiri. Semuanya saling berhubungan dan perlu dikembangkan sesuai usia, kebutuhan, serta kondisi setiap anak.

Kita juga perlu menyadari bahwa tanggung jawab mempersiapkan masa depan anak tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada keluarga. Sekolah, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan lingkungan tempat tinggal turut menentukan apakah anak memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.

Laporan Deprivasi Multidimensi Hak Anak di Indonesia, yang diluncurkan Bappenas, BPS, SMERU, dan UNICEF pada November 2025 dengan menggunakan data Susenas 2023, memperkirakan bahwa 37,4 persen anak Indonesia atau sekitar 29,8 juta anak mengalami deprivasi multidimensi. Artinya, mereka menghadapi kekurangan pada setidaknya dua dimensi kesejahteraan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, gizi, perlindungan, perumahan layak, air bersih dan sanitasi, serta akses informasi. [7]

Angka tersebut mengingatkan kita bahwa masa depan anak tidak hanya dipengaruhi oleh semangat dan pola asuh orang tua. Kesempatan anak juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga, ketersediaan layanan publik, kualitas pendidikan, keamanan lingkungan, dan dukungan masyarakat.

Karena itu, selain menjadi orang tua yang lebih baik, kita juga perlu ikut membangun lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak.

Pada akhirnya, keberhasilan orang tua tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak harta yang dapat diwariskan, seberapa tinggi pendidikan yang berhasil diraih anak, atau seberapa besar prestasi yang dapat dipamerkan.

Keberhasilan juga terlihat ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mampu berpikir mandiri, memiliki kepedulian terhadap sesama, menghargai orang lain, berani menghadapi kesulitan, dan bersedia terus belajar.

Kita tidak mungkin menentukan seluruh jalan yang akan dilalui anak. Kita juga tidak dapat memastikan bahwa kehidupan mereka akan selalu mudah. Namun, kita dapat membantu mereka membangun bekal agar lebih siap menghadapi ketidakpastian.

Sebab, warisan terbaik bukanlah perahu yang selamanya kita kendalikan untuk mereka, melainkan perahu yang kokoh, pengetahuan untuk membaca arah, keberanian untuk berlayar, dan keyakinan bahwa mereka dapat belajar menemukan jalannya sendiri.

Mempersiapkan masa depan anak pada akhirnya adalah menyiapkan mereka untuk menjalani kehidupan dengan kemampuan, karakter, dan martabat. Itulah salah satu tanggung jawab terbesar sekaligus kesempatan paling berharga yang dimiliki orang tua.

Referensi dan sumber data:

  1. UNICEF Indonesia. Indonesia Country Programme Document (2025), memuat indikator pendidikan dengan data 2024.
  2. WHO, UNICEF, dan World Bank. Levels and Trends in Child Malnutrition: Joint Child Malnutrition Estimates, 2025 Edition.
  3. WHO Regional Office for South-East Asia. Physical Activity Profile 2024: Indonesia.
  4. WHO. Children’s Environmental Health: Preventing and Managing Childhood Diseases, 2 Oktober 2024.
  5. UNICEF Indonesia. Pengetahuan dan Kebiasaan Daring Anak di Indonesia: Sebuah Kajian Dasar 2023, diterbitkan Februari 2025.
  6. UNICEF Innocenti. Childhood in a Digital World, Juni 2025.
  7. Bappenas, BPS, SMERU, dan UNICEF. Deprivasi Multidimensi Hak Anak di Indonesia, November 2025.