Anak belajar dari cara kita berbicara, bukan hanya dari apa yang kita ajarkan. Seni komunikasi lembut adalah jembatan menuju hati mereka yang masih suci.
BARISAN.CO – Berkomunikasi dengan anak usia dini bukanlah sekadar berbicara, melainkan seni menyentuh hati dan membangun jembatan batin.
Di usia 0–6 tahun, anak sedang mengalami masa keemasan (golden age) masa di mana seluruh aspek tumbuh kembangnya berkembang sangat pesat, baik kognitif, emosi, maupun spiritual.
Dalam periode ini, kata-kata yang diucapkan orang tua dan pendidik akan membentuk cara anak memandang dunia, memahami kasih sayang, serta mengenal dirinya sendiri.
Islam menempatkan komunikasi lembut dan mendidik sebagai bagian penting dari akhlak. Al-Qur’an banyak memberi teladan tentang bagaimana manusia diajarkan untuk berbicara dengan lembut dan penuh hikmah, bahkan kepada orang yang belum tentu setuju dengannya.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan dalam berbicara dan bersikap merupakan kunci agar seseorang diterima oleh orang lain terlebih kepada anak-anak, yang hatinya masih bening dan peka terhadap nada suara maupun ekspresi wajah.
Begitu pula Rasulullah ﷺ, dalam banyak riwayat dikenal sebagai sosok yang sangat lembut terhadap anak-anak.
Beliau menyapa, menggendong, bahkan mencium mereka sebagai bentuk kasih sayang. Nabi bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَلَا يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil di antara kami dan tidak menghormati orang tua kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dan komunikasi penuh kelembutan kepada anak adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat mendasar.
Dengan demikian, seni berkomunikasi dengan anak bukan sekadar keterampilan psikologis, tetapi juga ibadah yang bernilai spiritual.
Mengapa Komunikasi dengan Anak Usia Dini Itu Penting?
Komunikasi adalah fondasi bagi pembentukan karakter dan kepribadian anak. Melalui komunikasi, anak belajar mengenal bahasa, memahami emosi, dan meniru perilaku sosial.
Kata-kata yang lembut membentuk rasa aman, sementara kata yang kasar dapat menimbulkan luka batin yang sulit disembuhkan.
Para psikolog anak menjelaskan bahwa anak usia dini belum mampu memahami bahasa logika secara utuh. Mereka lebih peka terhadap ekspresi wajah, gerak tubuh, serta intonasi suara.
Oleh karena itu, berbicara dengan nada tinggi atau marah dapat membuat anak merasa terancam dan menutup diri.
Sebaliknya, komunikasi yang tenang dan empatik menumbuhkan rasa percaya (trust) yang kuat antara anak dan orang tua.
Nabi Muhammad ﷺ menjadi teladan sempurna dalam hal ini. Ketika Hasan dan Husain (cucu beliau) bermain di punggung beliau saat sujud, Nabi tidak marah.
Beliau justru memperpanjang sujudnya agar cucunya puas bermain. Ini adalah bentuk komunikasi tanpa kata penuh cinta dan kesabaran.
10 Cara Efektif Berkomunikasi dengan Anak Usia Dini
1. Turunkan posisi sejajar dengan anak.
Saat berbicara, berjongkoklah agar pandangan mata sejajar. Ini memberi pesan bahwa kita menghargai mereka.
Rasulullah ﷺ sering menundukkan tubuhnya ketika berbicara kepada anak-anak isyarat rendah hati dan kasih sayang.
2. Gunakan nada suara lembut dan menenangkan.
Nada lembut menumbuhkan rasa aman. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Harun ketika menghadapi Firaun untuk berkata dengan lembut:
فَاذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut…” (QS. Thaha: 43–44)
Jika kepada Firaun pun Allah perintahkan berbicara lembut, maka kepada anak tentu lebih utama.
3. Dengarkan anak dengan sepenuh hati.
Ketika anak bercerita, jangan potong pembicaraannya. Mendengar adalah bentuk cinta yang paling dalam. Dengan mendengarkan, anak merasa dihargai dan dipahami.
4. Gunakan bahasa sederhana dan positif.
Ucapkan “Ayo duduk pelan-pelan” daripada “Jangan lari!”. Bahasa positif membentuk pola pikir konstruktif dan menumbuhkan kepercayaan diri.
5. Validasi perasaan anak.
Saat anak marah atau sedih, jangan langsung menolak emosinya. Katakan, “Ayah tahu kamu sedang kecewa.” Ini membantu anak mengenali dan mengelola perasaan sejak dini.
6. Gunakan sentuhan dan ekspresi kasih sayang.
Rasulullah ﷺ dikenal gemar mencium anak-anak dan memangku mereka. Dalam sebuah hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ، فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ.
“Sesungguhnya Rasulullah mencium Hasan bin Ali, lalu Al-Aqra’ bin Habis berkata, ‘Aku punya sepuluh anak, tapi tak pernah aku cium seorang pun.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Gunakan cerita dan permainan sebagai media komunikasi.
Anak usia dini belajar paling efektif lewat permainan dan cerita. Kisah sederhana dapat menyampaikan pesan moral dengan cara menyenangkan.
8. Berikan pilihan, bukan perintah.
“Kamu mau pakai baju merah atau biru?” bukan “Cepat pakai bajumu!” Memberi pilihan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan percaya diri.
9. Konsisten antara kata dan tindakan.
Anak meniru lebih banyak daripada mendengar. Jika kita mengajarkan kejujuran, maka kita pun harus jujur. Rasulullah ﷺ menjadi teladan utama dalam hal konsistensi antara ucapan dan perbuatan.
10. Akhiri setiap komunikasi dengan kasih sayang.
Setelah menegur, peluklah anak dan katakan bahwa kita tetap menyayanginya. Anak perlu tahu bahwa cinta orang tua tidak bersyarat, bahkan ketika mereka berbuat salah.
Dalam Islam, pendidikan anak bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak. Komunikasi menjadi sarana utama untuk menanamkan nilai-nilai itu.
Melalui tutur kata yang baik, anak belajar adab berbicara, sopan santun, dan empati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَفِي كُلِّ كَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ صَدَقَةٌ
“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat yang lembut kepada anak pun termasuk sedekah. Ia menjadi energi positif yang menumbuhkan jiwa anak dengan rasa aman dan cinta.
Dalam konteks pendidikan modern, komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan spiritual anak.
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan komunikasi positif akan lebih mudah beradaptasi, empatik, dan percaya diri dalam bersosialisasi.
Seni berkomunikasi dengan anak usia dini bukan tentang teknik berbicara, melainkan tentang kehadiran hati. Setiap kata yang diucapkan orang tua dan guru adalah doa dan arah bagi masa depan anak.
Ketika kita berbicara dengan cinta, mendengar dengan sabar, dan mencontohkan akhlak, maka kita sedang menanam benih kebaikan dalam jiwa mereka.
Mungkin buahnya tidak segera tampak, tapi suatu hari anak itu akan tumbuh menjadi pribadi lembut, percaya diri, dan penuh kasih seperti kelembutan kata yang dulu ia dengar dari kita. []









