Jakarta kini menyandang status kota terpadat di dunia sebuah capaian yang menghadirkan peluang besar sekaligus krisis makna kehidupan urban.
Oleh: Imam Trikarsohadi
PERSATUAN Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan bertajuk World Urbanization Prospect 2025 menempatkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan 42 juta penduduk, menyingkirkan Tokyo sebagai pemegang peringkat sebelumnya dengan 33 juta penduduk.
Dalam laporan itu, PBB menggunakan metodologi baru yang mendefinisikan wilayah urban tanpa menghiraukan penetapan wilayah kota oleh pemerintah Indonesia/setempat. Pendekatan baru ini membuat penduduk Jakarta bertambah 30 juta karena memperhitungkan juga penduduk Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Lantas apa maknanya dari realitas tersebut? Jawabnya adalah bahwa penduduk di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang harus segera melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang serba cepat, padat, dan majemuk.
Dengan jumlah penduduk yang meningkat pesat dan keramaian yang hiruk pikuk, maka kehidupan akan memposisikan tiap-tiap individu acapkali merasa terasing.
Hal ini memunculkan filosofi untuk mandiri, menghargai ruang pribadi, dan membangun identitas terpisah dari komunitas lokal yang erat.
Faktor lainnya, Jakarta dan sekitarnya akan semakin menuntut pola hidup yang efisien. Waktu dianggap sebagai komoditas berharga, dan filosofi hidup cenderung pragmatis, fokus pada pencapaian tujuan secara cepat dan efektif.
Jakarta dan sekitarnya, di tahun-tahun ke depan, tentu, akan menjadi pusat pelbagai peluang, tetapi juga persaingan semakin ketat.
Hidup akan kian kompetitif, oleh sebab itu, suka tidak suka, hal ini akan mendorong banyak orang untuk bekerja keras, wajib ketekunan, dan punya ambisi untuk “bertahan hidup” dan berhasil.
Selain itu, paparan konstan terhadap iklan dan gaya hidup mewah akan makin memengaruhi pandangan hidup, menempatkan nilai tinggi pada kepemilikan materi dan status sosial.
Pola relasi juga semakin menuntut toleransi, karena pertemuan berbagai budaya, latar belakang, dan gaya hidup kian beraneka rupa.
Toleransi juga menjadi filosofi penting, pikiran harus semakin terbuka, dan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan perbedaan.
Secara keseluruhan, filsafat kehidupan di kota dengan status terpadat di dunia adalah tentang keseimbangan menemukan cara untuk menjadi tangguh secara individu sambil tetap terhubung dengan orang lain, dan menavigasi tuntutan materialisme tanpa kehilangan nilai-nilai intrinsik.
Apa boleh buat, situasi telah berubah cepat, dan hidup, apalagi di Jakarta dan sekitarnya, memang menawarkan banyak hal.
Namun, sebagian besar di antaranya adalah ilusi. Ilusi tersebut begitu memikat, sehingga tampak sungguh nyata dan menggoda. Kita perlu secara kritis dan jernih membedakan antara ilusi yang menipu dan kenyataan sebenarnya. Tidak ada jalan lain. []






