Fragmen teater tentang KH Sholeh Darat membangkitkan memori budaya dan nilai nasionalisme ulama besar Semarang.
BARISAN.CO– Teater Sambung menampilkan pentas teater berjudul Labuhan Kyai Sholeh Darat, di The Suri Ballroom, Jalan Pemuda, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026).
Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Seminar Nasional Pengusulan Gelar KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026.
Pentas teater tersebut menjadi salah satu agenda dari rangkaian panjang program strategis Pemerintah Kota Semarang sepanjang 2025 dalam upaya mengusulkan KH Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional.
Sebelumnya, Pemkot Semarang telah menyelenggarakan Seminar Internasional pada November 2025 yang menghadirkan para akademisi dan peneliti dari Belanda, Malaysia, serta Singapura. Seminar tersebut membahas pengaruh pemikiran KH Sholeh Darat dalam konteks nasional maupun global.
Selain seminar, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Arsip juga melakukan penelusuran dan kajian mendalam terhadap manuskrip asli karya KH Sholeh Darat.
Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian didaftarkan sebagai Memori Kolektif Bangsa melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), sebagai bagian dari penguatan bukti historis dan kontribusi pemikiran beliau terhadap bangsa.
Pentas teater Labuhan Kyai Sholeh Darat disutradarai oleh Farid Sobri dan diproduseri oleh Muhammad Ichwan.
Pertunjukan ini mengangkat perjalanan hidup KH Sholeh Darat, khususnya momen kedatangan beliau di Pelabuhan Semarang yang disambut oleh Adipati Arya Purbaningrat, Kyai Murtadho, serta KH Muhammad Hadi Girikusumo.
Sutradara Farid Sobri menjelaskan bahwa pementasan ini tidak hanya menampilkan fragmen sejarah, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan pendidikan Islam yang ditanamkan KH Sholeh Darat kepada murid-muridnya.
“Adegan kemudian beralih pada bagaimana KH Sholeh Darat menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam dan semangat perjuangan. Terutama kepada tiga tokoh besar yang telah dianugerahi gelar pahlawan nasional, yakni KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan R.A. Kartini,” ujar Farid.
Menurutnya, salah satu keunikan dalam pementasan ini terletak pada kolaborasi lintas medium, yakni perpaduan antara sastra dan teater.
Narasi pertunjukan dibangun melalui pembacaan puisi, dialog dramatik, serta penggalan pidato yang disusun secara argumentatif untuk memperkuat alasan pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional.
“Keistimewaan pementasan ini adalah narasinya. Pembacaan puisi dan pidato menjadi struktur argumentatif yang menjelaskan mengapa KH Sholeh Darat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Jika tiga muridnya sudah mendapatkan gelar tersebut, maka sudah semestinya guru yang menanamkan keilmuan dan nasionalisme juga mendapatkan pengakuan yang sama,” jelas Farid.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang hadir menyaksikan pementasan tersebut mengaku terkesan dan merasa mengalami dejavu.
Ia menilai fragmen-fragmen dalam pertunjukan berhasil membangkitkan kerinduannya pada dunia budaya dan sastra.
“Tadi fragmen yang kita lihat itu berhasil membuat saya dejavu. Saya seperti pernah berada di situasi seperti itu. Fragmen tadi mengobati kerinduan saya pada dunia budaya dan sastra, yang ketika saya menjabat sebagai wali kota, jarang sekali saya nikmati karena kesibukan tugas,” ujar Agustina.
Ia bahkan mengaku terinspirasi untuk mengembangkan pementasan tersebut menjadi pertunjukan yang lebih utuh.
Menurutnya, fragmen-fragmen yang ditampilkan memiliki potensi untuk dirangkai menjadi satu pementasan yang utuh.
“Saya langsung mencoret-coret di ponsel, muncul ide untuk membuat fragmen yang lebih utuh 20 atau 25 menit. Kalau ini kan masih potongan-potongan. Mungkin ke depan bisa dibuat pementasan yang lebih lengkap bersama teman-teman NU, jika berkenan, karena para aktornya sangat hebat dan bisa dipentaskan di berbagai acara,” tambahnya.
Agustina menilai pementasan teater ini merupakan salah satu ikhtiar penting untuk memperkenalkan kembali sosok KH Sholeh Darat kepada masyarakat luas, sekaligus membangkitkan memori kolektif tentang peran ulama dalam perjuangan bangsa.
Ia juga menyoroti pesan kuat nasionalisme yang disampaikan dalam pertunjukan, salah satunya melalui ajaran KH Sholeh Darat bahwa menjaga negara merupakan bagian dari menjaga agama.
“Kalimat ‘menjaga negara adalah bagian dari menjaga agama’ itu sangat kuat maknanya. Nilai nasionalisme seperti ini harus terus diajarkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Menurut Agustina, upaya memperkenalkan sosok KH Sholeh Darat tidak harus berhenti pada seminar atau pementasan teater.
Ia membuka kemungkinan pengembangan medium lain, seperti film pendek, agar pesan dan keteladanan KH Sholeh Darat dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
“Kalau perlu dibuatkan film pendek, kita serahkan kepada para ahli sinema. Saya yakin ini akan menjadi sesuatu yang bermakna. Soal apakah beliau mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 2026 atau tidak, tugas kita adalah terus berikhtiar,” ujarnya.
Pementasan teater ini melibatkan puluhan pemeran, di antaranya Beno Siang Pamungkas, Ustaz Amin, Eko Basuki, Duto Sasmito, Mung Paryono, Khafidin, Madezzu Lee, dan Yoko.
Turut terlibat pula Mahranazih, Zainal Arifin, Rahmi Faidah, Syamsul Ma’arif, Fitria Ulfa, Lely Siang Pamungkas, Adetya Pramandira, Slamet, Soleh Martorejo, dan Ahmad Rofiq.
Penulisan naskah Labuhan Kyai Sholeh Darat digarap oleh Agus Tiyanto Suryonegoro. Tata musik dalam pementasan ini dikerjakan oleh Imran Amirullah dan Mere Naufal, dengan Lukni Maulana dan Ihung bertugas sebagai narator.
Sementara itu, tata rias ditangani oleh Ida Misbahatul Hidayati, dan penataan kostum dipercayakan kepada Suyati Wingko.
Pentas teater Labuhan Kyai Sholeh Darat menjadi salah satu upaya kultural untuk menguatkan narasi sejarah, keulamaan, dan nasionalisme dalam proses pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional. []









