Scroll untuk baca artikel
Kolom

Aset Negara Naik Triliunan, Pengabdiannya Berujung Penjara: Kisah Perih Kader Muhammadiyah

Redaksi
×

Aset Negara Naik Triliunan, Pengabdiannya Berujung Penjara: Kisah Perih Kader Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
kisah kader muhammadiyah
Babay Parid Wazdi

Ia menyumbang puluhan triliun untuk negara, menjaga bank di masa krisis, namun justru berakhir di balik jeruji dengan stigma koruptor.

Oleh: Babay Parid Wazdi
(Kader Muhammadiyah, Aktifis IPM (1988-1991))

PAGI itu Jakarta terasa mendung, awan bergelayut tebal, udara panas lembab begitu terasa di tubuh. Suasana jalan disekitar Gedung Bundar telah ramai.

Aku dan Pak Pri sudah sampai disebuah mini market tidak jauh dari gedung mengerikan ini. Suasana batin kami juga kurang nyaman. Pagi itu aku dan Pak Pri akan jadi saksi.

Pria kalem kelahiran Jakarta yang kini berusia 66 tahun itu duduk di depanku, menunggu anak-anak team hukum datang, kami memesan secangkir kopi hangat. Hangat secara fisik namun tidak secara rasa dan suasana hati kami.

Jam sepuluh kami mulai diperiksa atas peristiwa lima tahun lalu. Yang kami pun banyak lupa kejadian waktu itu.  Yang aku ingat waktu itu adalah jaman genting dan horor Covid-19, ribuan orang meninggal.

Rumah sakit membludak kedatangan pasien.  Semua rumah sakit pemerintah buka tenda saking tidak tertampungnya pasien.

Alat pelindung diri menjadi langka dan mahal minta ampun, masker jadi barang yang sangat di cari, obat-obat terbatas, peralatan nafas terkuras, kuburan menjadi penuh. Pemrov DKI membuka lahan baru untuk kuburan di Rorotan 

Aktifitas ambulan begitu padat, membawa pasien dan juga bawa jenazah. Tahun itu, tiba-tiba ribuan anak menjadi yatim. Para UMKM menjerit karena pemerintah menerapkan Pembatasan Sosisal Bersekala Besar (PSBB), pasar-pasar sepi pembeli, pabrik-pabrik banyak merumahkan pekerja, pengangguran meningkat dan rakyat menjerit.

Krisis kesehatan sudah mengarah ke pada krisis ekonomi. Bank-bank didorong oleh otoritas untuk tetap menyalurkan kredit terutama sektor-sektor padat tenaga kerja, mampu menopang serapan tenaga kerja, dan membantu perekonomian nasional.

Tentu saja menyelamatkan negara dari krisis yang lebih parah. Pemerintah  bahkan membuat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Sebagai repon atas kondisi yang ada. Bank DKI mendorong sektor industri padat karya, sektor konsumen, sektor UMKM, perdagangan tetap berjalan sehingga negara tetap aman tidak cheos seperti krisis 98.

Ditengah kondisi demikian, anak-anak Bank DKI mengajukan proposal kredit PT. Sritex. Analisa kredit telah dilakukan secara berjenjang, dengan prinsip kehati-hatian dengan menggunakan Standard Four Eyes, ada unit bisnis, unit risk, unit kepatuhan, unit legal, admin kredit sampai pada komite kredit dimana menjadi kewenanganku bersama pak Pri dan pak Dirut. Kami tidak sendirian, ada sekittar 24 bank lainnya memberikan kredit pada Sritex.

Dalam proposal itu semua parameter keuangan sangat baik dan Sritex   termasuk LQ45, menurut otoritas bursa LQ45 memiliki kriteria sebagai perusahaan dengan fundamental keuangan yang baik, melaksanakan GGG yang baik, sangat liquid, diminati di Bursa Eefek Indonesia dan tentu menjadi saham teraktif diperjual belikan di bursa.