Terkini

Fenomena Hallyu Tingkatkan Pendapatan Korea, Bisakah Indonesia Menirunya?

Anatasia Wahyudi
×

Fenomena Hallyu Tingkatkan Pendapatan Korea, Bisakah Indonesia Menirunya?

Sebarkan artikel ini

Ekspor budaya Korea sukses meningkatkan pendapatan negaranya.

BARISAN.CO – Perekonomian Korea Selatan amat terbantu ketika PSY (Park Jae-sang) merilis lagu Gangnam Style di tahun 2012. Ini menjadi momen terpenting dunia K-pop karena untuk pertama kalinya, hampir semua orang menyaksikan, bahkan mengikuti tarian ala menunggang kuda.

Pendapatan Gangnam Style hanya dari YouTube mencapai US$8 juta saat itu. Korean Wave, singkatnya hallyu kini telah menyebar ke seluruh dunia, mulai dari musik, film, dan acara TV. Ini jelas amat membantu perekonomian negara ini.

Netflix pun tak mau ketinggalan. Layanan streaming ini bukan hanya memutar, namun juga turut memproduksi variety show, K-drama, dan K-movie juga.

Ekspor produk budaya Korea, termasuk permainan, komputer, musik, program tur, dan kosmetik melonjak 22,4 persen di tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya berkat peningkatan budaya Korea, menurut laporan yang dirilis Yayasan Korea untuk Pertukaran Budaya Internasional (KOFICE). Ekspor terkait hallyu di tahun 2019 mencapai US$12,3 miliar.

Sejak tahun 1999, hallyu telah tumbuh secara konsisten ketika muncul sebagai fenomena budaya utama. Namun, pertumbuhan gelombang ini tidak sepenuhnya spontan dan tidak terencana seperti yang dibayangkan. Pertumbuhan dan popularitasnya yang berkelanjutan dikelola dengan baik oleh semua stakehorders utamanya.

Film Parasite memenangkan empat Academy Awards pada Februari 2020. Sebulan kemudian, BTS menduduki puncak chart album Billboard Top 2020 dengan Map of The Soul: 7.

Dilansir dari Korea Times, Wakil Menteri Kebudayaan Korea Selatan, Kim Yong-san menyebut, budaya korea mendapat lebih banyak pengakuan dari sebelumnya.

Tahun itu, pemerintahan di sana menggelontorkan US$1,42 miliar untuk mendorong kreativitas lokal dan meningkatkan penjualan global konten budaya Korea Selatan. Di bawah kebijakan itu, Kementerian Kebudayaan Korea Selatan juga mengivestasikan 80 miliar won untuk mendukung proyek perintis.

itu akan meningkatkan dukungan finansial konten augmented reality dan virtual reality menjadi 75,1 miliar won guna mendorong penelitian dan pengembangan (R&D) di sektor teknologi tinggi yang sedang berkembang.

Pemerintahannya juga sangat aktif mengelola hallyu di luar negaranya dengan mengadakan berbagai festival budaya. Agustus 2020, Dinas Kebudayaan dan Informasi Korea mendirikan 32 pusat Kebudayaan Korea di 28 negara di seluruh Afrika, Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika guna mempromosikan hallyu.

Terkait fenomena hallyu ini, Peneliti ahli madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Herie Saksono berpendapat, pemerintah Korea Selatan memang ikut andil dalam melestarikan budanyanya, sehingga menjadi bisnis yang dapat menghasilkan.

“Saya senang mengikuti beberapa perusahaan Korea yang banyak bergerak di bidang inovasi dan mereka dititipkan untuk memasukkan unsur budaya, mulai dari K-movie, K-Pop dan sebagainya,” kata Herie pada Jumat (18/2/2023).

Dia menuturkan, ada perbedaan besar antara mengeksplor sumber daya alam (SDA) dengan budaya.

“Kalau sumber daya alam itu semakin lama akan habis, tapi kalau budaya semakin bernilai,” lanjutnya.

Herie mengungkapkan, energi yang dikeluarkan untuk mengeksplor budaya juga tidak sebesar dengan mengeksplor sumber daya alam karena tidak ada cost untuk mengganti sumber daya yang hilang dan terpakai.