Scroll untuk baca artikel
Kolom

Filsafat Hati

Redaksi
×

Filsafat Hati

Sebarkan artikel ini
Filsafat Hati

Benarkah puasa Ramadhan hanya menahan lapar, atau justru momentum terdalam untuk membersihkan kotoran hati yang tak kasatmata?

Oleh: Imam. Trikarsohadi

SALAH satu pertanyaan mendasar yang digumamkan diam- diam berulangkali saat puasa Ramadhan adalah; apakah tak tersisa kotoran dalam hati? Kalau pun ada yang tercecer, sanggupkah berproses menjadi bersih?.

Hal ini, tentu, menjadi pergulatan tersendiri di dalam diri. Karena qolbu yang tak bersih sering kali tidak terlihat secara lahiriah, namun terasa dampaknya melalui perilaku yang serba cemas dan hilangnya ketenangan batin.

Hati yang tak bersih merupakan penyakit batin (amradl al-Qulub). Ia sejenis metafora untuk sifat-sifat negatif seperti kesombongan (kibr), iri hati (hasad), kebencian, rakus (tamma’), dan syirik yang merusak jiwa.

Dalam pandangan tasawuf, kotoran hati muncul karena dominasi hawa nafsu yang menyebabkan fungsi utama hati (mengingat Tuhan) tidak berjalan. Karena itu; hati menjadi keras (qaswah al-Qalb).

Celakanya, kekotoran batin mempengaruhi perasaan, perasaan memengaruhi tindakan, dan tindakan memengaruhi nasib.

Sebab itu, wajar saja jika muncul niat dan tekad untuk memanfaatkan momentum Ramadhan guna merestorasi kesucian hati (qolbun salim) yang berkarat akibat dosa dan urusan duniawi.

Menurut pandangan tasawuf, ada tiga tingkatan puasa hati yakni; (i). Puasa kalbu: menahan diri dari keinginan makan/minum dan keinginan rendah; (ii). Puasa ruh: menahan diri dari maksiat, baik yang kecil maupun besar; (iii).

Puasa sir (rahasia): tingkatan tertinggi, yaitu fokus hati hanya kepada Allah dan menahan diri dari segala hal yang memalingkan dari-Nya.

Implementasi dengan meluruskan niat (ikhkas) setiap saat, memperbanyak dzikir dan tilawah, taubat nashuha, serta menghindari distraksi spiritual dengan membatasi diri dari hal-hal yang tidak berguna.

Ringkasnya membersihkan qolbu dalam puasa Ramadhan adalah proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan detoksifikasi spiritual dari sampah hati seperti; sombong, iri, dendam, dan cinta duniawi.

Dengan demikian, puasa Ramadhan adalah kesempatan “reset” spiritual untuk melepaskan beban negatif hati dan mengisi kembali dengan iman, keikhlasan, dan kasih sayang. []

menyelami rahmat
Kolom

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum menyelami…