Scroll untuk baca artikel
Kolom

Gencatan Senjata yang Ringkih

Redaksi
×

Gencatan Senjata yang Ringkih

Sebarkan artikel ini
Hidup Sonder Validasi

Gencatan senjata 2 pekan antara Donald Trump dan Iran: jeda damai atau strategi perang yang tertunda?

Oleh: Imam Trikarsohadi

KESEPAKATAN gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran selama dua pekan yang diumumkan Presiden Donald Trump bisa jadi hanya sekadar taktik narik napas sebab AS kelelahan.

Perang bisa saja kembali meletus manakala Iran menganggap AS ingkar selama dua pekan kedepan, apalagi Israel yang bersekutu dengan AS merasa tak diajak berunding ihwal gencatan senjata.

Hal lainya, perang yang tak nampak, namun menentukan akurasi strategi di permukaan tak mengindikasikan meredah; perang cyber.

Sebab itu, para pemilik ratusan kapal yang terjebak di selat Hormuz, tidak begitu antusias menanggapi pengumuman Trump, mereka memilih sikap berhati-hati.

Seperti diketahui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu telah disepakati dengan Iran.

Trump menyatakan Washington bersedia menangguhkan serangan terhadap Iran, dengan syarat Teheran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Trump juga menyebut AS telah mencapai semua tujuan militernya dalam operasi terhadap Iran, yang berlangsung sejak 28 Februari lalu, sebagai salah satu alasan dari keputusannya ini.

Pengumuman soal gencatan senjata itu, disampaikan Trump via akun Truth Social miliknya pada Selasa 7 April 2026 malam waktu AS, hanya beberapa jam sebelum serangan besar-besaran yang direncanakan Washington terhadap Teheran.

Pernyataan Trump itu menunjukkan perubahan sikap dalam waktu singkat, setelah Presiden AS itu sebelumnya mengancam Iran bahwa “seluruh peradabannya akan mati malam ini” jika Teheran tidak mematuhi tuntutan Washington.

Dari sudut analisa diatas kertas, gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat/Israel dan Iran (per April 2026) diinisiasi untuk mencegah eskalasi perang, menurunkan harga minyak global yang melonjak, serta setelah AS mengklaim mencapai tujuan militer strategis menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Iran menerima untuk jeda sementara, mengurangi tekanan domestik, dan membuka jalan perundingan.

Presiden Trump mengklaim operasi militer telah mencapai target, termasuk merusak infrastruktur nuklir Iran, sehingga gencatan senjata dianggap tepat untuk menghentikan perang yang melampaui tujuan awal.

Sebab berikutnya adalah tekanan ekonomi dan harga minyak. Perang menyebabkan gangguan pasokan, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Gencatan senjata bertujuan menurunkan harga minyak dunia yang sempat melonjak drastis.

Gencatan senjata ini juga bisa jadi karena adanya mediasi diplomatik yakni, adanya permintaan dan tekanan dari pihak internasional, termasuk mediasi dari Pakistan, untuk menghentikan konflik sebelum meluas.

Bagi Iran sendiri, gencatan senjata dua pekan dijadikan sebagai jeda strategis dalam upaya untuk memulai negosiasi diplomatik yang lebih konstruktif di tempat netral seperti Islamabad.

Diatas kertas, gencatan senjata ini bisa dipandang sebagai upaya deeskalasi untuk mengurangi korban dan kerusakan infrastruktur, meskipun ketidakpercayaan antarpelaku masih tinggi.

Faktor Israel
Faktor lain yang dapat menyebabkan gencatan senjata tak berjalan mulus adalah faktor dan karakter Israel.

Untuk diketahui, Israel dilaporkan terkejut mendengar keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyepakati gencatan senjata dengan Iran.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel terkait gencatan senjata tersebut. Namun, seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan dari sudut pandang mereka bahwa perkembangan situasi ini merupakan “kejutan total”.

Sebab, beberapa jam sebelum mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, Trump juga masih melayangkan ultimatum dan ancaman terhadap Iran.

AS juga mulai melancarkan serangan terbaru ke Pulau KhargIran yang menjadi target serangan Negeri Paman Sam. Israel pun masih membombardir sejumlah titik di Iran.

Pejabat Israel itu juga mengklaim AS memberikan pemberitahuan mendadak terkait kesepakatan gencatan senjata ini.

Dengan perkembangan situasi terbaru, Israel diperkirakan akan bekerja keras mengubah pikiran AS untuk menyerang Iran lagi dan membatalkan gencatan senjata.

Konsekuensinya, diperkirakan akan ada banyak upaya di balik layar dari Israel untuk mendorong perubahan sikap AS agar menggagalkan kesepakatan gencatan senjata ini.

Untuk saat ini, Israel kemungkinan masih menimbang-nimbang posisi mereka dalam situasi ini, termasuk apakah mereka dapat menolak gencatan senjata jika AS-Iran benar-benar sepakat.

Nasib Ribuan Awak Kapal

Sementara itu, para pemilik kapal berupaya memahami detail gencatan senjata yang dapat membuka kembali Selat Hormuz untuk sementara waktu, dengan harapan dapat memanfaatkan peluang untuk mengevakuasi lebih dari 800 kapal yang terjebak di Teluk Persia.

Iran sendiri telah mengatakan telah menyetujui jalur aman selama dua pekan dalam koordinasi dengan angkatan bersenjatanya dan dalam “keterbatasan teknis”, sementara Trump mengumumkan “PEMBUKAAN LENGKAP, SEGERA, dan AMAN”. Tidak jelas apakah keduanya telah menyepakati pembayaran.

Namun, bagi pemilik kapal, berita tersebut cukup untuk memicu optimisme yang hati-hati. Asosiasi Pemilik Kapal rata – rata mengatakan akan memeriksa detail perjanjian AS-Iran sebelum menyampaikan informasi.

Namun, sebagian besar memperingatkan bahwa diperlukan kejelasan lebih lanjut agar kapal dapat berlayar. Sebab dalam
skenario terbaik pun arus kapal akan membutuhkan waktu untuk pulih.

Untuk diketahui, kapal-kapal yang mengangkut energi merupakan bagian besar dari armada yang terjebak di Teluk Persia.

Saat ini terdapat 426 kapal tanker yang mengangkut minyak mentah dan bahan bakar bersih, ditambah 34 tanker pengangkut gas minyak cair (LPG) dan 19 tanker pengangkut gas alam cair (LNG). Sisanya mengangkut komoditas kering, seperti produk pertanian atau logam, dan/atau kontainer.

Menurut perhitungan Organisasi Maritim Internasional (IMO) pada akhir Maret, sekitar 20.000 pelaut sipil terjebak di atas kapal-kapal ini dan kapal-kapal utilitas dan pendukung lainnya.

Para awak kapal tersebut menghadapi kekurangan pasokan, kelelahan, dan tekanan psikologis.

Apa boleh buat, kecerobohan AS dan Israel menyerang Iran telah menimbulkan dampak destruktif ke seluruh dunia. Iran tentu tak bodoh jika kesepakatan gencatan senjata kembali dikhianati.

Senjata – senjata Iran yang bergerak dari ruang sunyi, tentu akan segera bereaksi jika pengkhianatan kembali terjadi. (*).