Scroll untuk baca artikel
BeritaVideo

Hangatnya Takbir Keliling di Kota Semarang, Tradisi Penuh Makna Idul Fitri

Redaksi
×

Hangatnya Takbir Keliling di Kota Semarang, Tradisi Penuh Makna Idul Fitri

Sebarkan artikel ini

Kebersamaan warga Banjardowo terasa hangat dalam takbir keliling hingga salat Id di Masjid I’tikaf Ar-Rosyid.

BARISAN.CO – Langit malam di kawasan Banjardowo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, tampak lebih hidup dari biasanya.

Cahaya lampu hias berkelap-kelip, berpadu dengan lantunan takbir yang menggema dari halaman Masjid I’tikaf Ar-Rosyid. Warga RT 02 RW 06 tumpah ruah mengikuti tradisi takbir keliling, sebuah agenda tahunan yang selalu dinanti menjelang Idul Fitri.

Anak-anak hingga orang tua berjalan bersama dalam satu barisan, membawa miniatur masjid, hiasan berbentuk bintang, serta lampu warna-warni yang mempercantik suasana.

Takbir yang dilantunkan berulang-ulang menciptakan nuansa religius sekaligus hangat, mempererat kebersamaan antarwarga.

Sebelum rombongan diberangkatkan, Ketua Takmir Masjid I’tikaf Ar-Rosyid, Lukni Maulana, memberikan pesan singkat.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama perjalanan dan tetap menghormati pengguna jalan lainnya.

Setelah itu, ia memimpin pembacaan takbir dan sholawat yang diikuti dengan khusyuk oleh seluruh jamaah.

Perjalanan takbir keliling berlangsung tertib menyusuri rute kampung yang telah ditentukan. Sepanjang jalan, gema takbir seakan menjadi penanda kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Warga yang tidak ikut berjalan pun tampak antusias menyaksikan dari depan rumah mereka.

Sesampainya di titik tujuan, rombongan berbalik arah kembali menuju halaman masjid. Di sanalah puncak kemeriahan berlangsung.

Malam yang semula hanya diterangi lampu-lampu kecil, berubah gemerlap oleh pesta kembang api. Letupan demi letupan dengan warna-warni yang memancar di langit mengundang decak kagum jamaah, terutama anak-anak yang bersorak riang.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Takbir keliling bukan satu-satunya rangkaian kegiatan yang digelar. Sebelumnya, pengurus masjid telah menyalurkan zakat fitrah kepada masyarakat yang berhak menerima.

Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus penegasan nilai berbagi yang menjadi inti dari Ramadan.

Keesokan paginya, halaman masjid kembali dipenuhi jamaah yang hendak menunaikan salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.

Suasana khidmat terasa sejak awal pelaksanaan. Dalam mukadimahnya, Lukni Maulana mengajak jamaah untuk merenungi makna perpisahan dengan Ramadan.

Ia mengingatkan bahwa tidak ada kepastian bagi setiap orang untuk kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya.

“Bisa jadi ini adalah Ramadan terakhir bagi kita, bisa jadi ini adalah Idul Fitri terakhir bagi kita,” tuturnya, mengajak jamaah untuk lebih bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

Lebih jauh, ia juga menyinggung makna lahiriah dan batiniah Idul Fitri. Menurutnya, mengenakan pakaian terbaik di hari raya belum tentu menjadikan seseorang benar-benar baik di hadapan Allah SWT.

Ia pun mengajak jamaah untuk tidak hanya saling memaafkan secara lisan, tetapi juga berharap ampunan yang tulus dari Allah SWT.

Pelaksanaan salat Idul Fitri dipimpin oleh Imam Musthofa, sementara khutbah disampaikan oleh Muhammad Arif Fauzan.

Dalam khutbahnya, Arif menegaskan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar merayakan hari raya, melainkan ketika seseorang mampu memaafkan orang lain dengan tulus dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari nilai utama Idul Fitri. Melalui kebersamaan dalam takbir keliling hingga salat Id berjamaah, warga Banjardowo menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya soal perayaan, tetapi juga sarana memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat. []