Scroll untuk baca artikel
Kolom

Identitas Palsu

Redaksi
×

Identitas Palsu

Sebarkan artikel ini
Identitas Palsu

Ego sebagai identitas palsu “aku” bisa menjadi penghalang manusia menuju kedekatan sejati dengan Allah Swt.

Oleh: Imam Trikarsohadi

SEJUJURNYA, hal yang cukup krusial dalam kehidupan adalah mendeteksi dini intervensi ego dan kemudian mengendalikanya.

Apa sebab? karena ego adalah identitas palsu tentang “aku”. Ia membangun dinding tipis tapi keras, yang membuat kita secara perlahan terpisah dari Allah SWT.

Seakan kita dengan gagah berdiri sendiri, memiliki kekuatan, dan memiliki kehendak mutlak. Padahal sejati nya, tidak ada gerak atau diam yang lepas dari Gusti Allah, dan tak ada satu tarikan napas yang bukan dari hembusaNYA.

Ego hidup dari ilusi seperti perasaan ingin dianggap penting, dahaga akan pujian, takut akan hinaan, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Bahkan dalam ruang – ruang ibadah nan suci, ego masih sanggup menyelinap.Ia membuat kita berbangga – bangga dengan ibadah yang sejatinya tak perlu diumbar, merasa mulia dengan ilmu yang dimiliki, atau merasa diri lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan orang lain.

Karena itu, mengenali ego adalah langkah krusial dalam perjalanan spiritual (suluk) untuk mencapai kedekatan dengan Allah. Ego tidak dipandang semata-mata sebagai entitas psikologis, melainkan sebagai “jiwa” yang memiliki berbagai tingkatan dan potensi, mulai dari yang rendah (perintah keburukan) hingga yang tinggi (tenang).

Dalam tradisi Islam, mengenali diri sendiri berarti memahami di tingkat mana ego berada, yakni nafs al-ammarah (ego yang memerintah), nafs al-lawwamah (ego yang mencela), dan nafs al-mutma’innah (ego yang tenang).

Lantas mengapa ego harus dikenali? Jawabnya, karena ego yang tidak terkendali (kibr atau sombong) adalah penghalang antara manusia dan Allah. Dan itu sering kali menjadi akar dari keangkuhan, meremehkan orang lain, dan melupakan Tuhan.

Disinilah urgensinya “Man ‘Arafa Nafsahu”; (barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya) . Memahami kelemahan diri sendiri akan memunculkan kesadaran akan kebutuhan mutlak kepada Allah.

Filsafat Islam tidak mengajarkan pemusnahan total ego, tetapi mengelolanya dengan melakukan introspeksi diri berupa secara aktif memeriksa hati dari sifat sombong, iri, dan riya’.

Upaya berikutnya dengan mengosongkan hati dari penyakit hati dan mengisinya dengan ketaatan. Lalu bertawadhu berupa melawan ego dengan mendahulukan orang lain dan berserah diri kepada Allah.

Singkatnya, mengenali ego adalah proses menyadari bahwa diri manusia terbatas dan lemah, yang kemudian menuntut tunduknya ego (kehendak pribadi) kepada kehendak Allah, sehingga manusia mencapai kedamaian sejati.

Puasa Ramadhan adalah sarana efektif mengendalikan ego dengan melatih disiplin diri, menahan hawa nafsu (lapar/haus/amarah), serta menjaga lisan dari perkataan negatif.

Ini merupakan detoksifikasi jiwa yang menanamkan kesabaran, empati, dan ketulusan, mengubah perilaku dari egois menjadi lebih peduli, rendah hati, dan bertaqwa.

Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, puasa Ramadhan mendidik kita untuk menundukkan ego dan mencapai derajat taqwa. []

menyelami rahmat
Kolom

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum menyelami…