Scroll untuk baca artikel
Terkini

Indonesia Krisis Petani Muda

Redaksi
×

Indonesia Krisis Petani Muda

Sebarkan artikel ini

Dianggap tidak menguntungkan, anak muda enggan menjadi petani.

BARISAN.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penduduk Indonesia paling banyak bekerja di sektor pertanian selama tahun 2022. Penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai atau sekitar 1,86 juta orang atau naik 29,96% secara year on year (YoY).

Meski begitu, ada kesenjangan usia di sektor pertanian. Berdasarkan catatan BPS tahun 2019, jumlah petani muda yang ada di Indonesia cukup sedikit, yakni hanya sekitar 33, 4 juta saja.

Dari jumlah tersebut, untuk petani dengan rentang usia antara 20-30 tahun hanya sekitar 2,7 juta orang. Mayoritas berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun. Bahkan, cukup banyak juga di kisaran 50-60 tahun.

Melihat data itu, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Terutama, sektor pertanian merupakan bagian penting bagi negara.

Petani tidak hanya memberi makan semua orang, tetapi mereka juga memainkan peran penting dalam ekonomi dan menyediakan lapangan kerja bagi orang-orang di perdesaan. Pertanian dan industri pertanian secara keseluruhan sebenarnya merupakan salah satu sumber lapangan kerja utama di banyak tempat.

Kondisi ini terjadi di banyak negara. Regenerasi amat dibutuhkan. Namun, pertanyaannya siapa yang mau bekerja sebagai petani? Mengingat, jumlah tersebut jauh dari kata ideal.

Banyak pemuda di negara berkembang memiliki persepsi negatif tentang pertanian.

Moses Abukari, Manajer Program Negara IFAD dan Focal Point Pemuda untuk Afrika Barat dan Tengah menyampaikan, kaum muda biasanya tidak tertarik dengan bidang pekerjaan ini, sebagian besar karena anggapan mereka bahwa bertani itu kuno dan tidak menguntungkan.

“Citra pertanian secara tradisional lebih kepada subsisten; Anda menghasilkan cukup untuk Anda makan. Itu tidak dilihat sebagai bisnis, ”katanya.

Kurangnya kemauan politik, kebijakan pertanian yang mendukung, dan investasi, ditambah dengan fokus pada solusi pembangunan jangka pendek telah menyebabkan sebagian besar lahan pertanian kurang dimanfaatkan.

Petani kecil menjadi miskin dan kerawanan pangan meningkat di beberapa tempat. Hal ini yang membuat kaum muda semakin enggan bertani dan memilih meninggalkan desanya untuk mengadu nasib di kota.

Jennifer Leavy dan Naomi Hossain dari Institute for Development Study melakukan wawancara kepada hampir 1.500 orang di 10 negara pada tahun 2012. Mereka menemukan, kaum muda menginginkan pekerjaan di sektor formal dan gaya hidup perkotaan yang modern.

Dalam wawancara itu, Jennifer dan Naomi memngungkapkan empat temuannya, yakni;

  1. Pemuda ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik untuk memperoleh pekerjaan yang bagus,
  2. Bertani menantang fisik dan mental,
  3. Pemuda tidak memandang pertanian sebagai masa depan, sebagian karena kurangnya akses ke input dan lahan, serta
  4. Perubahan norma, khususnya bagi perempuan, mencipatakan peluang baru untuk mencari pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.

Di masyarakat kita sendiri, banyak orang berbondong-bondong menginginkan pekerjaan di bidang pemerintahan karena dianggap paling stabil. Hal itu ditambah dengan keinginan orang tua yang biasanya menginginkan anaknya menjalani kehidupan yang lebih baik daripada kehidupannya.

Kondisi ini serupa dengan yang terjadi di India. Dilansir dari Gaon Connection, 48% petani di India tidak ingin anak-anaknya menjadi generasi penerus sebagai petani. Sehingga, inilah yang mendorong anak muda memilih pekerjaan lain ketimbang mengikuti jejak orang tuanya yang merupakan petani.

Salah satu tantangan yang sering dialami oleh petani ialah perekonomian yang sulit. Dengan harga jual hasil panen yang rendah, sementara kebutuhan pokok terus melambung, menyebabkan petani mengalami kesulitan.

Hal itu diperparah dengan overproduksi. Semakin banyak mereka memproduksi, harga menjadi lebih rendah. Bagi seorang petani pekerja keras, anggapan bahwa kelebihan produksi mereka sendiri merupakan faktor penyumbang terbesar terhadap utangnya. Ini terjadi, misalnya karena saat menanam, mereka berutang untuk membeli bibit dan pupuk dengan harapan setelah panen akan dapat membayarnya.