Scroll untuk baca artikel
Tren

Kenapa Korban Toxic Relationship Susah Pergi? Ini Fakta Ngeri di Baliknya!

Ninik Ambarwati
×

Kenapa Korban Toxic Relationship Susah Pergi? Ini Fakta Ngeri di Baliknya!

Sebarkan artikel ini
Toxic Relationship
Ilustrasi

Keluar dari toxic relationship ternyata tidak semudah kata orang, karena korban sering kali terjebak dalam manipulasi psikologis dan ancaman nyata yang membahayakan nyawa mereka.

BARISAN.CO – Mungkin ada di antara orang terdekat kita yang menjalani hubungan beracun bahkan penuh kekerasan. Tak jarang, kita dengan mudahnya mengatakan untuk meninggalkan pasangannya.

Namun, bagi orang yang menjalani hubungan beracun tidak semudah itu. Ada berbagai alasan dan sepertinya ini bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang alasan memilih bertahan dalam hubungan beracun yang tak berkesudahan.

Toxic relationship atau hubungan beracun menjadi persoalan yang tidak selalu mudah dikenali, bahkan oleh orang yang menjalaninya sendiri. Hubungan yang awalnya dipenuhi rasa cinta, perhatian, dan harapan bisa berubah menjadi hubungan yang menguras emosi, menghilangkan rasa percaya diri, serta membuat seseorang merasa terjebak dalam situasi yang sulit diakhiri.

Dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang bisa mengalami tekanan emosional, manipulasi, kontrol berlebihan, hingga kekerasan fisik. Namun, tidak semua korban menyadari bahwa apa yang mereka alami merupakan bagian dari pola hubungan yang merugikan. Sebagian menganggapnya sebagai pertengkaran biasa, konsekuensi dari mencintai seseorang, atau masalah yang suatu saat akan membaik dengan sendirinya.

Inilah yang membuat pertanyaan tentang toxic relationship menjadi penting: mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, meskipun orang lain melihat bahwa meninggalkan pasangan merupakan pilihan yang lebih baik?

Jawabannya tidak sesederhana persoalan cinta atau ketidakmampuan mengambil keputusan. Ada faktor psikologis, emosional, sosial, ekonomi, hingga keselamatan yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan.

11 Alasan Seseorang Sulit Keluar dari Toxic Relationship

Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang kesulitan meninggalkan hubungan beracun. Faktor-faktor ini dapat saling berkaitan dan membentuk situasi yang semakin rumit ketika hubungan telah berlangsung dalam waktu lama.

1. Kekerasan Dianggap sebagai Hal yang Normal

Segelintir orang berpikir bahwa kekerasan ialah hal yang normal. Ada juga yang beranggapan bahwa kekerasan tersebut ialah bentuk lain dari kasih sayang.

Ketika seseorang terbiasa melihat atau mengalami hubungan yang diwarnai kekerasan sejak awal kehidupannya, ia mungkin kesulitan mengenali batas antara kasih sayang dan perilaku yang menyakiti. Sikap posesif bisa dianggap sebagai bentuk perhatian, kecemburuan berlebihan dipandang sebagai bukti cinta, sementara larangan bergaul dengan orang lain dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam hubungan.

Padahal, hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi kedua pihak untuk memiliki pendapat, menjalani kehidupan pribadi, serta menentukan pilihan tanpa ancaman atau rasa takut.

Normalisasi kekerasan membuat toxic relationship semakin sulit dikenali. Seseorang mungkin tidak segera mencari pertolongan karena merasa bahwa apa yang dialaminya merupakan bagian biasa dari sebuah hubungan.

2. Pelecehan Emosional Membuat Korban Kehilangan Harga Diri

Pelecehan emosional yang dilakukan oleh pasangan membuat seseorang merasa tidak lagi berharga, sehingga mereka memilih untuk bertahan dibandingkan mendapatkan umpatan yang jauh lebih menyakitkan di luaran sana.

Pelecehan emosional dapat berlangsung melalui penghinaan, ancaman, merendahkan kemampuan pasangan, mempermalukan di depan orang lain, hingga membuat seseorang merasa tidak mampu menjalani kehidupan tanpa pasangannya.

Jika dilakukan secara berulang, perlakuan tersebut dapat mengikis kepercayaan diri korban. Ia mungkin mulai mempercayai perkataan pasangannya, merasa dirinya memang tidak cukup baik, atau meyakini bahwa tidak ada orang lain yang akan menerima dirinya.

Dalam situasi seperti ini, meninggalkan hubungan bukan hanya persoalan mengakhiri keterikatan emosional. Korban juga harus menghadapi rasa takut, keraguan terhadap diri sendiri, dan keyakinan negatif yang telah terbentuk selama hubungan berlangsung.

Karena itu, dukungan untuk membangun kembali rasa percaya diri menjadi bagian penting dalam membantu seseorang keluar dari toxic relationship.

3. Permintaan Maaf Pelaku Membuat Korban Kembali Berharap

Permintaan maaf pelaku terkadang membuat korban tak berdaya. Pelaku akan berjanji untuk dapat lebih mengontrol diri atau juga tidak mengulanginya. Sebagai pasangannya tentu akan menerima permintaan maaf tersebut dengan sepenuh hati.

Permintaan maaf dalam hubungan memang dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki kesalahan. Namun, dalam hubungan yang dipenuhi kekerasan, permintaan maaf bisa menjadi bagian dari pola yang terus berulang apabila tidak disertai perubahan perilaku yang nyata.

Setelah melakukan kekerasan, pelaku mungkin menunjukkan penyesalan, memberikan perhatian berlebihan, atau berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Korban kemudian kembali berharap bahwa pasangannya benar-benar berubah.

Ketika suasana hubungan membaik, korban dapat merasa bahwa keputusan untuk bertahan merupakan pilihan yang tepat. Akan tetapi, jika kekerasan kembali terjadi, harapan tersebut bisa kembali muncul setelah pelaku meminta maaf.

Pola ini dapat membuat korban kesulitan mengambil keputusan secara tegas. Yang perlu diperhatikan bukan hanya perkataan atau penyesalan sesaat, melainkan perubahan perilaku yang konsisten, penghormatan terhadap batasan, dan kesediaan pelaku bertanggung jawab atas tindakannya.

4. Ketakutan terhadap Ancaman dan Kekerasan Setelah Berpisah

Perempuan 70 kali lebih memungkinkan untuk terbunuh setelah meninggalkan pasangannya yang beracun. Hal inilah yang membuat mereka tidak memiliki pilihan.

Angka tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks penelitian yang menjadi sumbernya, termasuk populasi, periode, dan kondisi yang diteliti. Meski demikian, risiko kekerasan setelah perpisahan merupakan persoalan serius, terutama dalam hubungan yang melibatkan ancaman, kontrol koersif, atau kekerasan yang terus meningkat.

Bagi sebagian korban, meninggalkan pasangan justru menjadi fase yang paling mengkhawatirkan. Pelaku dapat merasa kehilangan kendali, kemudian melakukan intimidasi, menguntit, mengancam, atau menggunakan anak dan keluarga untuk memaksa korban kembali.

Situasi ini menjelaskan mengapa keputusan untuk bertahan tidak selalu berarti korban masih menginginkan hubungan tersebut. Ada kemungkinan mereka sedang berusaha menjaga keselamatan diri sendiri maupun anak-anaknya.

Karena itu, ketika seseorang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau toxic relationship yang disertai ancaman, keputusan untuk pergi sebaiknya disertai pertimbangan keselamatan. Dukungan orang tepercaya, pendampingan profesional, dan rencana keselamatan dapat membantu mengurangi risiko yang mungkin muncul.

5. Berkali-kali Mencoba Pergi Sebelum Benar-benar Berpisah

Rata-rata orang yang berada dalam hubungan tidak sehat dan dipenuhi ke sana akan berusaha pergi selama tujuh kali, sebelum pada akhirnya benar-benar pergi meninggalkan pasangannya.

Pengalaman meninggalkan hubungan beracun tidak selalu berlangsung dalam satu keputusan. Seseorang mungkin pernah mencoba berpisah, kemudian kembali karena merasa bersalah, merindukan pasangannya, menghadapi tekanan keluarga, atau meyakini bahwa keadaan akan berubah.

Pada kesempatan lain, korban mungkin sudah berusaha meninggalkan hubungan, tetapi kembali karena menghadapi persoalan tempat tinggal, keuangan, pengasuhan anak, atau ancaman dari pasangan.

Hal ini memperlihatkan bahwa proses keluar dari toxic relationship dapat berlangsung bertahap. Kembalinya korban kepada pasangan tidak otomatis berarti ia tidak serius ingin keluar atau sengaja mempertahankan hubungan yang menyakitkan.

Setiap situasi memiliki latar belakang yang berbeda. Oleh sebab itu, penting untuk menghindari penilaian yang menyalahkan korban dan memahami bahwa keputusan untuk pergi dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan yang tidak selalu terlihat dari luar.

6. Budaya Pop dan Tekanan Sosial tentang Kesetiaan

Budaya pop menyalahkan orang yang meninggalkan pasangannya, sehingga setia adalah jalan yang berbahaya yang harus dijalani.

Gambaran tentang cinta dalam film, lagu, serial, maupun konten media sosial terkadang menempatkan kesetiaan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dalam kondisi apa pun. Seseorang yang bertahan dianggap setia, sedangkan orang yang memilih berpisah kerap dinilai menyerah atau tidak cukup berjuang.

Pandangan seperti ini dapat memengaruhi cara seseorang memahami hubungan. Ia mungkin merasa harus terus bertahan untuk membuktikan cintanya, sekalipun hubungan tersebut telah merusak kesehatan mental dan keselamatannya.

Padahal, kesetiaan tidak berarti harus menerima kekerasan atau mengorbankan seluruh kebutuhan diri sendiri. Hubungan yang sehat membutuhkan rasa hormat, tanggung jawab, komunikasi, dan keamanan bagi kedua pihak.

Mengakhiri hubungan yang membahayakan bukan berarti seseorang gagal mencintai. Dalam situasi tertentu, keputusan untuk menjauh justru merupakan langkah untuk melindungi diri dan membangun kehidupan yang lebih aman.

7. Gaslighting Membuat Korban Meragukan Diri Sendiri

Gaslighting dilakukan pelaku kekerasan setelah konflik agar situasi berbalik dan membuat pasangannya merasa bersalah.

Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat seseorang meragukan ingatan, penilaian, atau persepsinya sendiri. Pelaku dapat menyangkal kejadian yang sebenarnya berlangsung, memutarbalikkan fakta, atau menyalahkan korban atas perilaku yang dilakukannya.

Misalnya, ketika korban mempertanyakan tindakan kasar pasangannya, pelaku justru mengatakan bahwa korban terlalu sensitif, mengada-ada, atau menjadi penyebab terjadinya pertengkaran.

Jika berlangsung berulang kali, korban dapat mulai meragukan penilaiannya sendiri. Ia mungkin merasa tidak lagi mampu membedakan apakah dirinya benar-benar diperlakukan secara tidak adil atau justru terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu kejadian.

Kondisi ini membuat korban semakin sulit mengambil keputusan secara mandiri. Ia bisa merasa membutuhkan pengakuan atau persetujuan dari pasangan, bahkan untuk memahami pengalaman yang dialaminya sendiri.

Mengenali pola manipulasi menjadi langkah penting untuk memahami bahwa konflik dalam hubungan tidak selalu terjadi karena kesalahan kedua pihak secara seimbang. Tanggung jawab atas tindakan kekerasan tetap berada pada orang yang melakukan kekerasan tersebut.

8. Keyakinan bahwa Pasangan Akan Berubah

Korban tak jarang percaya bahwa pasangannya akan berubah. Meskipun kenyataannya, tak mudah untuk membuat seseorang berubah dan itu hanya akan menjadi petaka bagi diri sendiri.

Harapan terhadap perubahan pasangan merupakan salah satu faktor yang dapat membuat seseorang bertahan dalam toxic relationship. Korban mungkin mengingat masa-masa ketika hubungan terasa bahagia, kebaikan yang pernah diterima, atau berbagai janji yang disampaikan setelah pertengkaran.

Tidak jarang, korban juga merasa bertanggung jawab membantu pasangannya menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan memberikan lebih banyak perhatian, bersabar, atau menghindari konflik, perilaku pasangan akan berubah.

Namun, perubahan tidak dapat dibangun hanya melalui pengorbanan salah satu pihak. Seseorang yang melakukan kekerasan perlu mengakui tindakannya, bertanggung jawab atas dampaknya, dan menunjukkan perubahan yang konsisten.

Korban tidak memiliki kewajiban untuk terus bertahan dalam situasi berbahaya demi menunggu perubahan tersebut. Harapan boleh ada, tetapi keselamatan dan kesejahteraan diri tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

9. Media Sosial Membentuk Tekanan untuk Terlihat Bahagia

Media sosial menjadi salah satu tekanan bagi seseorang agar terlihat dalam hubungan yang sempurna, sehingga mereka berusaha menutupi keburukan pasangan agar tidak ada seorang pun yang tahu ada masalah terjadi di dalamya.

Foto kebersamaan, hadiah, perayaan hari jadi, dan unggahan romantis sering kali menjadi gambaran hubungan yang ditampilkan di media sosial. Namun, apa yang terlihat di ruang digital tidak selalu menggambarkan keadaan sebenarnya di balik kehidupan pribadi seseorang.

Korban toxic relationship mungkin merasa malu untuk menceritakan masalahnya karena khawatir orang lain mempertanyakan hubungan yang selama ini terlihat bahagia. Mereka juga dapat merasa takut kehilangan citra sebagai pasangan yang harmonis di mata teman, keluarga, atau lingkungan sosial.

Tekanan tersebut membuat sebagian orang memilih menyimpan masalahnya sendiri. Akibatnya, orang-orang terdekat mungkin tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengalami kekerasan atau tekanan emosional.

Penting untuk memahami bahwa hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh banyaknya unggahan romantis atau penilaian orang lain. Kualitas hubungan lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang diperlakukan ketika tidak ada orang lain yang melihat.

10. Takut Dihakimi oleh Orang Lain

Reaksi orang lain juga akan memengaruhi korban memilih bertahan. Di antara mereka dianggap bodoh karena salah memilih pasangan sehingga mereka khawatir dianggap salah dan dihakimi oleh orang lain.

Stigma dan rasa malu dapat membuat korban enggan mencari pertolongan. Mereka mungkin takut ditanya mengapa baru sekarang menyadari perilaku pasangan, mengapa tetap bertahan selama ini, atau mengapa kembali setelah sebelumnya memutuskan berpisah.

Pertanyaan seperti itu, meskipun terkadang muncul karena rasa ingin tahu, dapat memperkuat perasaan bersalah yang sudah dialami korban.

Dalam situasi toxic relationship, dukungan sosial memiliki peran penting. Kehadiran orang yang bersedia mendengarkan tanpa menyalahkan dapat membantu korban merasa bahwa mereka tidak sendirian dan tetap memiliki pilihan.

Sebaliknya, kritik yang menyudutkan justru dapat membuat korban menutup diri. Mereka mungkin memilih tidak lagi bercerita karena merasa pengalaman mereka tidak dipahami.

Karena itu, pendekatan yang penuh empati jauh lebih bermanfaat daripada memaksa korban segera mengambil keputusan sesuai dengan keinginan orang lain.

11. Pernikahan, Anak, dan Keuangan Menjadi Hambatan

Pernikahan, anak-anak, dan keuangan menjadi beban berat bagi korban untuk meninggalkan pasangannya yang kasar. Terutama adanya stigma bagi perempuan yang menyandang status janda dan juga dilecehkan bagi laki-laki yang mengalami KDRT oleh pasangannya.

Bagi seseorang yang telah menikah atau memiliki anak, keputusan untuk meninggalkan pasangan tidak hanya berkaitan dengan perasaan. Ada persoalan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, biaya pengasuhan, akses terhadap pekerjaan, dan kepastian masa depan yang perlu dipikirkan.

Ketergantungan finansial dapat membuat korban merasa tidak memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Sementara itu, kekhawatiran terhadap kondisi anak, proses perceraian, atau ancaman kehilangan dukungan keluarga dapat memperumit keputusan untuk berpisah.

Stigma sosial juga dapat memperbesar beban tersebut. Perempuan yang berpisah dari suaminya mungkin menghadapi penilaian negatif, sedangkan laki-laki yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dapat merasa takut tidak dipercaya atau dianggap lemah ketika menceritakan pengalamannya.

Padahal, kekerasan dalam hubungan tidak hanya dapat dialami oleh perempuan. Siapa pun dapat menjadi korban, dan pengalaman mereka layak ditanggapi secara serius tanpa memandang gender atau status perkawinan.

Memahami hambatan ini penting agar masyarakat tidak menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa korban hanya perlu pergi. Dukungan praktis, seperti akses terhadap bantuan hukum, tempat tinggal aman, pendampingan, dan kemandirian ekonomi, dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Toxic Relationship dan Siklus Kekerasan: Mengapa Korban Bisa Kembali Bertahan?

Tidak mudah memang bagi seseorang yang menjalani hubungan beracun terutama bagi mereka yang telah menjalaninya selama bertahun-tahun. Celakanya, mereka bisa jadi mengalami fenomena sindrom Stockholm.

Istilah sindrom Stockholm sering digunakan dalam pembicaraan populer untuk menjelaskan keterikatan korban dengan orang yang menyakitinya. Namun, istilah ini tidak tepat digunakan sebagai diagnosis umum untuk semua orang yang bertahan dalam hubungan beracun.

Dalam konteks kekerasan pasangan, ada berbagai mekanisme psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang masih memiliki ikatan emosional dengan pelaku. Di antaranya adalah rasa takut, ketergantungan, isolasi sosial, hilangnya kepercayaan diri, serta harapan bahwa hubungan akan kembali seperti pada masa-masa awal.

Hubungan yang dipenuhi kekerasan juga dapat mengalami pola berulang. Konflik dan ketegangan muncul, kemudian terjadi tindakan kekerasan. Setelah itu, pelaku bisa menunjukkan penyesalan, memberikan perhatian, atau berjanji memperbaiki diri. Ketika keadaan kembali tenang, korban mungkin merasa bahwa hubungan masih dapat diselamatkan.

Pola tersebut dapat membuat korban mengalami kebingungan emosional. Mereka tidak hanya mengingat perlakuan buruk yang diterima, tetapi juga mengingat pengalaman menyenangkan yang pernah dibagikan bersama pasangan.

Akibatnya, keputusan untuk meninggalkan hubungan menjadi lebih rumit. Korban mungkin menyadari bahwa dirinya terluka, tetapi pada saat yang sama masih menyayangi pasangan, takut menghadapi kehidupan baru, atau berharap bahwa masa-masa bahagia akan kembali.

Memahami dinamika ini membantu menjelaskan bahwa bertahan bukan semata-mata persoalan kurangnya keberanian. Dalam sejumlah kasus, korban sedang menghadapi kondisi psikologis dan situasi kehidupan yang kompleks.

Mengapa Pelaku Bersikap Baik Setelah Melakukan Kekerasan?

Para pelaku umumnya berlaku baik setelah melakukan kekerasan. Hal ini dilakukan oleh pelaku agar korban bertahan. Walaupun hubungan ini pada akhirnya kandas nantinya, korban hanya akan melihat kebaikan dari pelakunya.

Perubahan sikap setelah kekerasan dapat membuat korban kembali menaruh harapan. Perhatian, hadiah, permintaan maaf, dan janji untuk berubah mungkin memberikan perasaan lega setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Akan tetapi, sikap baik setelah kekerasan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pola tersebut telah berakhir. Perlu dibedakan antara penyesalan sesaat dan perubahan perilaku yang nyata.

Perubahan yang bertanggung jawab terlihat melalui kesediaan pelaku mengakui tindakannya tanpa menyalahkan korban, menghormati batasan, menerima konsekuensi, serta menghentikan perilaku kekerasan secara konsisten.

Korban tidak harus menunggu hingga semua harapan terhadap pasangan hilang untuk mencari pertolongan. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan dukungan meskipun masih memiliki perasaan terhadap orang yang menyakitinya.

Bagaimana Membantu Orang Terdekat yang Mengalami Toxic Relationship?

Jika Anda mengetahui seseorang dalam hubungan beracun, hal utama yang penting dilakukan ialah hindari pembicaraan yang terkesan mengkritik atau menghakimi orang tersebut atas hubungannya.

Menjadi pendengar yang baik bagi korban adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan. Kemudian, bagikan kisah yang Anda alami dalam hubungan beracun karena ini tidak akan terlihat seperti menghakimi, namun memperlihatkan bahwa Anda juga pernah mengalaminya. Juga, lakukan dengan pelan-pelan. Jangan terlalu menekan apalagi memaksa korban karena itu hanya akan membuat mereka bersalah.

Mendampingi seseorang yang mengalami toxic relationship membutuhkan kesabaran. Orang terdekat mungkin merasa frustrasi ketika korban kembali kepada pasangannya atau belum mengambil keputusan untuk berpisah. Namun, reaksi tersebut perlu dikelola agar dukungan tidak berubah menjadi tekanan baru bagi korban.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu.

Dengarkan tanpa menghakimi. Berikan kesempatan kepada korban untuk menceritakan pengalamannya dengan cara dan waktu yang mereka pilih. Hindari pertanyaan yang menyiratkan bahwa mereka bersalah atas kekerasan yang dialami.

Validasi pengalaman mereka. Sampaikan bahwa mereka berhak diperlakukan dengan hormat dan tidak pantas menerima kekerasan. Mendengarkan dengan empati dapat membantu korban merasa dipercaya.

Jangan memaksakan keputusan. Mendorong seseorang untuk segera berpisah tanpa memahami situasinya dapat membuat mereka merasa kehilangan kendali. Lebih baik bantu mereka mengenali pilihan yang tersedia dan mendukung keputusan yang mempertimbangkan keselamatan.

Bantu dengan kebutuhan konkret. Jika memungkinkan, tawarkan bantuan mencari layanan pendampingan, menyusun rencana keselamatan, mendapatkan informasi hukum, atau menemukan tempat yang aman. Bantuan praktis sering kali sama pentingnya dengan dukungan emosional.

Jaga kerahasiaan. Jangan menyebarkan cerita korban kepada orang lain tanpa persetujuan mereka, kecuali terdapat situasi darurat atau kewajiban perlindungan yang relevan. Membuka informasi tanpa pertimbangan dapat meningkatkan risiko bagi korban.

Tetap hadir tanpa mengorbankan batasan diri. Mendukung korban bukan berarti seseorang harus menyelesaikan seluruh masalahnya sendirian. Pendamping juga dapat mencari bantuan profesional agar mampu memberikan dukungan secara sehat dan berkelanjutan.

Selalu ada saat dibutuhkan menunjukkan bahwa Anda bersungguh-sungguh untuk membantu mereka keluar dari hubungan beracun. Kemudian, jangan menghakimi atau pun mengkritik mereka, akan tetapi katakan kepada mereka bahwa Anda akan selalu ada untuk mereka.

Segala sesuatu butuh proses sehingga penting bagi Anda untuk melakukan sesuatu dengan tidak konfrontatif dan penuh kasih sayang. Selain itu juga, jangan bersikap sok tahu dengan segala pendapat yang Anda keluarkan.

Memberikan nasihat kepada mereka bukan berarti Anda memahami segalanya yang terjadi. Jadi, jika Anda ingin benar-benar membantu katakakan dengan penuh kelembutan, kehati-hatian, serta penuh perhatian.

Jangan pernah lelah apalagi merasa bahwa Anda sudah cukup untuk memberikan bantuan kepada para korban. Karena jika seseorang belum pernah mengalaminya, Anda bisa saja menganggap ini hal sepele dan menyalahkan korban tersebut.

Kapan Korban Toxic Relationship Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Mendapatkan dukungan dari orang terdekat merupakan langkah penting, tetapi dalam situasi tertentu korban juga membutuhkan bantuan dari pihak yang memiliki kompetensi dan sumber daya untuk mendampingi mereka.

Bantuan profesional dapat dipertimbangkan ketika korban mengalami tekanan emosional berkepanjangan, ketakutan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, kesulitan mengambil keputusan, atau dampak psikologis yang membuat mereka kesulitan menjalani kehidupan.

Pendampingan psikologis dapat membantu korban memahami pengalaman yang dialami, membangun kembali kepercayaan diri, dan mengembangkan strategi menghadapi tekanan. Sementara itu, bantuan hukum atau layanan pendampingan korban dapat membantu memberikan informasi mengenai pilihan perlindungan yang tersedia.

Jika terdapat ancaman, penguntitan, kekerasan fisik, atau risiko keselamatan lainnya, prioritas utama adalah mencari tempat yang aman dan menghubungi layanan darurat atau pendamping yang kompeten. Menghadapi pelaku secara langsung tanpa mempertimbangkan risiko dapat memperburuk keadaan.

Korban juga tidak harus menunggu hingga mengalami kekerasan fisik untuk meminta pertolongan. Kekerasan emosional, ancaman, kontrol berlebihan, dan pembatasan kebebasan juga merupakan persoalan serius yang patut mendapatkan perhatian.

Bagi orang terdekat, menawarkan bantuan mencari layanan yang tepat dapat menjadi langkah awal. Namun, keputusan mengenai cara mencari bantuan tetap perlu mempertimbangkan kondisi, kesiapan, dan keselamatan korban.

Melepaskan Diri dari Toxic Relationship Bukan Berarti Gagal dalam Cinta

Meninggalkan hubungan yang telah berlangsung bertahun-tahun bukanlah keputusan yang mudah. Ada kenangan, harapan, keterikatan emosional, dan berbagai persoalan kehidupan yang mungkin membuat seseorang merasa tidak siap untuk memulai kembali.

Namun, hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang hidup dalam ketakutan, terus-menerus merasa bersalah, kehilangan harga diri, atau merasa harus mengorbankan keselamatan demi mempertahankan pasangan.

Mengenali toxic relationship merupakan langkah awal untuk memahami bahwa cinta dan kekerasan bukanlah hal yang harus berjalan beriringan. Seseorang dapat menyayangi pasangannya sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi aman atau sehat bagi dirinya.

Proses pemulihan setiap orang berbeda. Ada yang membutuhkan waktu untuk membangun kemandirian finansial, mendapatkan dukungan keluarga, mencari pendampingan, atau merencanakan langkah berikutnya dengan aman. Tidak ada satu cara yang dapat diterapkan secara sama kepada semua korban.

Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap orang yang bertahan dalam hubungan beracun. Alih-alih bertanya mengapa mereka tidak segera pergi, pertanyaan yang lebih membantu adalah apa yang membuat mereka merasa sulit meninggalkan hubungan tersebut dan dukungan apa yang mereka butuhkan agar dapat menjalani kehidupan yang lebih aman.

Melepaskan tangan bukan jawaban. Genggam sampai mereka yakin bahwa kehidupan ini sebenarnya begitu indah tanpa berada hubungan beracun tersebut. []