Scroll untuk baca artikel
Berita

Kolaborasi LKNU Jateng dan Gus Yasin: Klinik NU Hadir di Pesantren Al-Itqon Bugen, Fokus Cegah Anemia dan Stunting

×

Kolaborasi LKNU Jateng dan Gus Yasin: Klinik NU Hadir di Pesantren Al-Itqon Bugen, Fokus Cegah Anemia dan Stunting

Sebarkan artikel ini
klinik nu gus yasin
Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen membuka Klinik NU di Ponpes Al-Itqon, Bugen,

Santri putri kini menjadi garda depan pencegahan stunting berkat inisiatif LKNU dan dukungan Gus Yasin.

BARISAN.CO — Pondok Pesantren Al Itqon di Bugen, Tlogosari Wetan, Kota Semarang, menjadi lokasi perdana peluncuran program workshop pencegahan stunting berbasis pesantren dan peletakan batu pertama Klinik NU. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (3/5/2025) ini menjadi langkah awal dari program serial yang akan dilaksanakan di berbagai pondok pesantren di seluruh Jawa Tengah, dengan sasaran utama santri putri.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang hadir bersama para tokoh penting Nahdlatul Ulama, termasuk Pengasuh Ponpes Al-Itqon KH Ahmad Haris Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh, Wakil Katib PWNU Jateng KH Hudalloh Ridwan, Ketua LKNU PWNU Jateng Alex Jusran, serta jajaran pengurus PWNU Jawa Tengah dan perwakilan NU dari berbagai wilayah di Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Taj Yasin menegaskan bahwa anemia adalah masalah serius yang banyak dialami remaja putri dan menjadi akar dari berbagai persoalan kesehatan, termasuk stunting.

Menurutnya, edukasi kesehatan sejak dini harus diberikan, terutama kepada para santriwati sebagai calon ibu di masa depan.

“Anemia merupakan isu penting yang banyak dialami remaja, jadi harus ada langkah pencegahan. Edukasi ini penting disampaikan kepada para santri putri,” ujar Taj Yasin.

Ia menjelaskan, upaya pencegahan stunting semestinya tidak hanya dilakukan saat kehamilan atau setelah kelahiran, tetapi sejak remaja. Salah satu langkah nyata yang sudah dilakukan adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada para santri.

Pemprov Jateng melalui Dinas Kesehatan telah mendistribusikan 400 tablet kepada santriwati Pesantren Al Itqon sebagai bagian dari intervensi jangka panjang.

“Ini adalah langkah jangka panjang untuk memastikan generasi mendatang bebas dari stunting,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kesehatan santri putri berdasarkan hasil penelitian Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU).

Ia memaparkan bahwa dari hasil temuan tersebut, 5,4 persen santri mengalami anemia dan 1,8 persen mengalami anemia akut yang bahkan membutuhkan transfusi darah.

“Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh LKNU, kesehatannya sangat memperihatinkan,” ungkapnya.

Kiai Ubaidullah juga menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap kesehatan santri. Menurutnya, santri yang sehat akan lebih mudah dalam menerima pelajaran dan menjadi generasi NU yang berkualitas di masa mendatang.

Sementara itu, Ketua Panitia Aris Sunandar, yang juga Wakil Ketua LKNU PWNU Jateng, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program serial yang akan digelar di berbagai pesantren di Jawa Tengah.

Ia menuturkan, sekitar 54 pondok pesantren putri tercatat memiliki permasalahan anemia di kalangan santrinya.

“Program ini menjadi langkah awal dalam pencegahan anemia yang nantinya akan berkontribusi besar terhadap upaya penurunan angka stunting di Jawa Tengah,” jelas Aris.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan fasilitas kesehatan setempat seperti puskesmas. Setiap kamar santri akan dilengkapi koordinator kesehatan yang bertugas melakukan deteksi dini dan pemantauan kadar hemoglobin (HB) santri secara berkala. Jika ditemukan kadar HB di bawah angka normal, maka akan segera dilakukan pemeriksaan lanjutan.

“Jika HB berada di atas angka 10, maka dianggap sehat, namun tetap harus dipantau secara rutin,” tambahnya.

Aris menekankan bahwa menjaga kesehatan remaja putri sejak dini sangat penting, karena akan berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.

“Kita tidak ingin generasi muda kita mengalami stunting. Remaja putri yang anemia akan berisiko melahirkan anak-anak stunting. Maka dari itu, intervensi sejak di usia remaja sangat penting,” tegasnya.

Selain pelaksanaan workshop dan pemeriksaan kesehatan, momen penting lainnya dalam rangkaian kegiatan ini adalah peletakan batu pertama pembangunan Klinik NU Al-Itqon. Klinik ini nantinya akan menjadi fasilitas kesehatan pesantren yang terintegrasi dan dilengkapi dokter spesialis.

Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen didampingi KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Ubaidillah Shodaqoh, dan Alex Jusran, secara simbolis meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Klinik NU tersebut. Diharapkan, keberadaan klinik ini tak hanya memberikan pelayanan kesehatan bagi santri, tetapi juga masyarakat sekitar pesantren.

Gus Yasin dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas kontribusi NU Jawa Tengah dalam mendukung program pemerintah menekan angka stunting.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kesehatan memiliki berbagai program untuk menangani stunting, mulai dari edukasi gizi, pemberian makanan tambahan, hingga intervensi lingkungan seperti penyediaan jamban dan air bersih.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi workshop bertema “Pencegahan Anemia pada Remaja Putri di Pondok Pesantren dalam Upaya Menurunkan Angka Stunting di Jawa Tengah” yang diikuti para santri putri dengan penuh antusias. []