Saat usia melewati 50, dunia tak lagi untuk dikejar, melainkan ditata agar hati tetap lapang dan akhirat jadi tujuan.
Oleh: Imam Trikarsohadi
SETIAP manusia yang usianya telah melampaui angka 50 tahun, itu pertanda ia telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Bagi yang masih dibelenggu dominasi syahwat, ia tak akan menangkap hikmah apa pun, dan terus membesar – besarkan urusan dunia, meski lelah, letih dan aneka macam penyakit, termasuk encok pinggang dan pikiran, mulai membelenggunya.
Bagi yang menyadari hakikat kehidupan, maka ia bergegas melakukan pelbagai penyesuaian, diantaranya dengan menyederhanakan urusan dunia, karena pada dasarnya urusan dunia adalah alat yang tak harus digenggam.
Menyederhanakan urusan dunia adalah prinsip hidup yang memprioritaskan ketenangan hati, keberkahan, dan tujuan jangka panjang (akhirat) di atas pengejaran materi yang berlebihan.
Ini bukan tentang menghindari dunia atau menjadi miskin, melainkan mengelola dunia agar tidak menguasai hati, sehingga hidup terasa lebih lapang dan tidak terforsir.
Kesadaran ini terpantik oleh sebab pemahaman yang utuh bahwa dunia hanyalah tempat permainan, ujian, dan tempat singgah sementara, bukan tujuan utama.
Jadi, urusan dunia sekadar alat, bukan tujuan. Kekayaan dan jabatan diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama digunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bekal akhirat.
Sebab itu, fokus utama nya; akhirat, dan dunia mengikuti. Karena, barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, Allah akan memudahkan urusannya, menanamkan rasa cukup di hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah.
Sebaliknya, jika dunia menjadi tujuan utama, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang ditetapkan.
Disinilah pentingnya kelapangan hati melalui sikap cukup (qana’ah). Maknanya, mengurangi ketergantungan pada materi, sehingga hati terhindar dari stres dan rasa takut kehilangan.
Hidup sederhana memungkinkan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting (keluarga, ibadah, pengembangan diri) daripada sibuk menumpuk harta yang melebihi kebutuhan.
Menyederhanakan urusan dunia tidak berarti meninggalkan, tapi menyeimbangkan.
Prinsip utamanya adalah keseimbangan: mencari keutamaan akhirat tanpa melupakan kebutuhan duniawi.
Dunia dimanfaatkan sekadarnya untuk menopang kehidupan yang tenang dan produktif.
Lalu manfaatnya apa dengan prinsip yang demikian? Jawabnya, dengan menyederhanakan urusan dunia, maka hati akan lebih tenang ; bebas dari rasa cemas, serakah, dan drama yang tidak perlu.
Selain itu, ketika niat diluruskan untuk akhirat, maka, urusan duniawi seringkali dipermudah, rezeki yang ada terasa cukup dan membawa manfaat jangka panjang. Pun menjadi lebih banyak waktu untuk hal-hal yang bermakna.
Ringkasnya, filosofi ini adalah tentang menata prioritas yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, dan urusan dunia adalah alat mencapai tujuan. Dan yang demikian merupakan energi utama ikhlas. []









