Jutaan warga AS turun ke jalan dalam aksi “No Kings” menolak kebijakan dan gaya kepemimpinan Donald Trump.
Oleh: Imam Trikarsohadi
AMERIKA Serikat yang dikenal sebagai produsen sistem demokrasi, kini dikuasai rezim tirani, lalu, warga pun meledak.
Jutaan warga Amerika turun ke jalan dalam gelombang ketiga aksi nasional “No Kings” pada Sabtu, 29 Maret 2026.
Unjuk rasa ini menyasar dua isu yang kini sedang memanaskan politik dalam negeri Amerika Serikat yaitu kebijakan imigrasi yang keras dan perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Lebih dari 3.100 aksi digelar di berbagai kota, termasuk Washington D.C., New York, Boston, Los Angeles, dan San Francisco. Sejumlah media AS memperkirakan aksi itu melibatkan sekitar 900.000 orang, menjadikannya unjuk rasa satu hari terbesar yang pernah tercatat.
Demo “No Kings” kali ini merupakan gelombang ketiga dari rangkaian protes massal di Amerika Serikat yang menentang kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump di masa jabatan keduanya.
Aksi ini dipicu oleh akumulasi ketidakpuasan publik terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter dan kebijakan spesifik yang dinilai melanggar nilai demokrasi.
Diantaranya tindakan keras imigrasi. Penggeledahan dan penangkapan massal oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) di berbagai wilayah, seperti Minnesota, yang menyebabkan bentrokan hingga memakan korban jiwa.
Selain itu, kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump terkait konflik dengan Iran dianggap memperkeruh suasana dan membuat warga merasa kurang aman.
Warga AS juga semakin cemas munculnya otoritarianisme di negeri mereka. Sebab itu, pengunjuk rasa menggunakan slogan “No Kings” (Tanpa Raja) sebagai penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “pemerintahan tangan besi” dan serangan terhadap institusi demokrasi.
Seperti diketahui, Donald Trump sering dikritik karena narsisisme, keegoisan, dan gaya komunikasi yang konfrontatif. Karakter yang disorot meliputi arogansi, kurangnya empati, ketidaksabaran, dan kecenderungan menggunakan retorika memecah belah.
Banyak pengamat dan survei menilainya sebagai pemimpin yang impulsif, kurang jujur, dan sering melanggar norma sosial maupun politik.
Trump sering digambarkan sebagai sosok narsistik, mementingkan diri sendiri, dan arogan oleh sebagian besar responden internasional.
Ia juga punya gaya lomunikasi yang konfrontatif. Acapkali menggunakan bahasa yang kasar, provokatif, dan bombastis (gaya politik transgresif).
Trump pun dikenal sebagai sosok yang rendah empati dan tak jujur. Studi menunjukkan tingkat keramahan dan kejujuran yang rendah, serta sering mengabaikan kedaulatan negara lain.
Ia juga acapkali bertindak impulsif, memiliki rentang perhatian pendek, dan kurang teliti dalam tugas.
Demi tujuan politiknya, Trump senang memanfaatkan rasa benci, rasisme, dan xenofobia.
Warga AS pun pada akhirnya menilai Trump sebagai pemimpin yang egois.
Ringkasnya, analisis terhadap perilakunya sering mengaitkannya dengan gaya kepemimpinan yang memanfaatkan kekacauan untuk mencapai tujuannya.
Bagi umat Islam, Trump adalah satu tokoh sentral produsen Islamopobhia dunia. Sebab itu, beberapa kalangan menjulukinya ; dajjal. []







