Ketika banjir dan longsor datang silih berganti, sudahkah kita bertanya: apakah alam sedang menuntut pertobatan manusia?
Oleh: Imam Trikarsohadi
BENCANA banjir dan tanah longsor seolah saling bersahutan di berbagai wilayah Indonesia. Satu peristiwa belum tertangani secara tuntas, bencana serupa kembali terjadi di wilayah lain.
Peristiwa terbaru adalah tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026. Hingga kini, petugas evakuasi telah menemukan 11 jenazah, sementara 79 warga lainnya masih dilaporkan hilang.
Tragedi tersebut menambah panjang daftar korban bencana di Tanah Air. Sebelumnya, bencana banjir di Sumatra hingga 25 Januari 2026 telah menelan 1.201 korban jiwa, dengan 142 orang dinyatakan hilang dan jumlah pengungsi mencapai 113.900 warga.
Realitas ini menjadi bukti kuat terjadinya krisis ekologis akibat perubahan tatanan lingkungan yang mengalami gangguan serius. Gangguan tersebut muncul dari interaksi yang timpang antara manusia, makhluk hidup lain, dan kondisi alam.
Karena itu, sudah waktunya kita berbicara tentang pertobatan ekologis. Suka atau tidak, manusia harus melakukan perubahan mendasar dalam cara memandang, berinteraksi, dan berperilaku terhadap alam—dari sikap eksploitatif menuju kepedulian dan perawatan.
Pertobatan ekologis menuntut perubahan batin, rekonsiliasi, serta tindakan nyata untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan bumi Indonesia sebagai rumah bersama. Ini merupakan respons moral dan spiritual atas krisis ekologi yang lahir dari apa yang dapat disebut sebagai dosa ekologis.
Bumi dan alam semesta adalah ibu yang menyediakan segala kebutuhan manusia. Tanaman, hewan, serta makhluk hidup dan tak hidup merupakan saudara dan saudari umat manusia. Oleh sebab itu, manusia tidak pantas menafikan keberadaan makhluk lain.
Tugas manusia bukan sekadar mengakui keberadaan mereka, tetapi juga merawat dan menjaga keberlanjutan alam semesta sebagai rumah bersama.
Dalam konteks ini, pertobatan ekologis semakin relevan. Banjir dan longsor bukan sekadar bencana alam, melainkan konsekuensi dari pengingkaran manusia terhadap eksistensi dan signifikansi bumi.
Ke depan, krisis ini tidak hanya berwujud bencana hidrometeorologis, tetapi juga berpotensi melahirkan krisis pangan, air bersih, dan energi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup manusia.
Lalu, sejak kapan ancaman bencana ekologis ini terpicu? Jawabannya: sejak manusia dikuasai oleh dua sifat busuk, yakni kecemasan berlebihan dan keserakahan.
Kecemasan akan kebutuhan paling dasar makan, minum, sandang, dan papan—berkembang menjadi kecemasan sosial: takut tidak diakui dan tidak dihormati. Kepemilikan pun dijadikan sarana pengusir cemas sekaligus ukuran pengakuan sosial.
Dalam perkembangannya, manusia tidak hanya berusaha meredam kecemasan, tetapi juga membangun jaminan hidup dengan cara menguasai sebanyak mungkin sumber daya. Tanpa disadari, hal ini mendorong lahirnya keserakahan dan penjarahan alam secara tidak rasional.
Bahkan, sesama manusia pun kerap dijadikan alat, membentuk struktur sosial yang sarat eksploitasi manusia atas manusia.
Sesungguhnya, mereka yang dikuasai kecemasan dan keserakahan adalah mereka yang kehilangan keyakinan akan kebesaran Allah SWT.
Mereka lupa bahwa burung-burung di udara pun diberi rezeki, meskipun tidak menanam dan tidak menuai.
Kini, bencana ekologis hadir layaknya serangan balik alam. Karena itu, tidak ada jalan lain selain segera melakukan pertobatan ekologis, salah satunya dengan merawat alam secara proaktif.
Langkah ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga pepohonan, menanam tanaman, serta memastikan air dapat meresap ke dalam tanah atau mengalir dengan baik di sungai-sungai.
Selain itu, berbagai kearifan lokal dalam menjaga lingkungan perlu dibumikan kembali. Para leluhur, dengan cara dan keyakinannya, telah memberi teladan bagaimana hidup selaras dengan alam.
Mereka tidak diliputi kecemasan berlebihan, tidak serakah dalam memiliki harta, karena memahami bahwa alam semesta bukan untuk dimiliki, melainkan dijaga dan dirawat.
Singkatnya, rangkaian bencana alam yang terjadi belakangan ini semestinya menjadi pemantik kebangkitan kesadaran kolektif untuk menjalani hidup yang bersaudara dengan alam semesta. Bumi adalah rumah bersama—bagi yang kaya maupun miskin—tanpa memandang identitas apa pun. []







