Syair Abu Madyan al-Ghawts bukan sekadar puisi, ia adalah jeritan batin seorang sufi yang merunduk di hadapan Sang Maha Pengampun.
BARISAN.CO – Dalam jagat tasawuf Islam, nama Abu Madyan al-Ghawts (w. 594 H) dikenang sebagai seorang wali besar yang menanamkan nilai-nilai kerendahan hati, cinta kepada Allah, dan pertaubatan yang tulus dalam setiap laku hidup.
Salah satu karya indah yang beliau tinggalkan adalah rangkaian puisi permohonan doa yakni:
ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَى الُمخْتَارِ مِنْ مُضَرٍ
خَيْرِ البَرِيَّةِ مِنْ بَاكٍ وَمُبْتَسِمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مُجْرِ الفُلْكِ فِي الظُّلَمِ
عَلَى عُبَابٍ مِنَ التِّيَارِ مُلْتَطِمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مُنْجِي المُسْتَجِيرِ بِهِ
إِذَا أَلَمَّ بِهِ ضُرّاً مِنَ الأَلَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ غَفَّارَ الذُّنُوبِ لِمَنْ
بِالاِنْكِسَارِ أَتَى وَالذُّلِّ وَالنَّدَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ سَتَّارَ العُيوبِ عَلَى
أَهْلِ العُيُوبِ وَمُنْجِيهِم مِنَ النَّقَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِن نُطْقِي وَمْنِ خُلُقِي
وَشِينِ شَأْنِي وَمِنْ شَكْلِي وَمِن شِيَمِى
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ سِرِّى وَمِنْ عَلَنِي
وَمِنْ تَقَلُّبِ قَلْبِي وَابْتِسَامِ فَمِي
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ سَمْعِي وَمِنْ بَصَرِي
وَمِنْ ضَمِيرِي وَمِنْ فَكْرِي وَمِنْ كَلَمِي
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ جُرْمِي وَمِنْ زَلَلِي
وَمِنْ كَبَائِرِ آثامى وَمِنْ لَمَمِي
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِمَّا قَدْ جَنَتْهُ يَدِي
مِنَ الخَطَايَا وَما قَدَّمْتُ بِالقَدَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِمَّا لَمْ تَكُنْ كَسَبَتْ
كَفِّي وَمَا اكْتَسَبْتُ فِي مَبْلَغِ الحُلُمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ طَبْعِي وَمِنْ طََبَعِي
وَمِنْ تَحَوُّلِ حَالى حَالَة السَّقَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ قَوْلِي أَنَا وَمَنْ مَعِي
وَلِي وَعِنْدِي وَمِنْ ظَنِّي وَمِنْ قَسَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِمَّا لَسْتُ أَعْلَمُهُ
وَمَا عَلْمِتُ وَمَا حَرَفْتُ بِالقَلَمِ
اَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ نَوْمِي وَمِنْ سِنَتِي
وَيَقْظَتِي وَبِهِ مَا عِشْتُ مُعْتَصِمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِمَّا كَانَ فِي صِغَرِي
مِنَ الخِلاَفِ لِعُمْرِ الشِّيبِ وَالهَرَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مَا هَبَّتْ يَمَانِيَّةٌ
وَسَحَّتِ السُّحُبُ فِي الأَطَام وَالأكَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مَا سَارَ الحَجِيجُ إِلَى
مَعَالِمَ شُرِّفَتْ بِالحِلِّ dan الحَرَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ مَا لاَحَ الصَّبَاحُ وَمَا
تَغَنَّتِ الطَّيْرُ فِي الأَغْصَانِ بِالنَّغَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ الحُرُوفِ وَمَا
فِي الذِّكْرِ مِنْ آيَةٍ تُتْلَى وَمْنِ حِكَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ الهَوَامِ وَمَا
فِي الأُفُقِ مِنْ عَالَمٍ وَاَلأرْضِ مِنْ عَلِمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ النَّبَاتِ وَمَا
فِي البَحْرِ مِنْ نِّعْمَةٍ وَالبَرِّ مِنْ نَعَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ الرِّيَاحَوَمَا
تَجْرِي عَلَيْهِ مِنَ الأَقْوَاتِ والنَّسَمِ
بَاكٍ وَمُكْتَتِم
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ الرِّمَالِ وَمَا
يَنْهَلُّ فِي عَالَمِ الدُّنْيَا مِنَ الدِّيَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ تِعْدَادَ الخَلاَئِقِ مِنْ
إِنْسٍ وَجِنٍّ وَمِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ
وَالعِلْمِ وَالحِكَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ جَلَّ اللهُ خَالِقُنَا
مِنَ البَرَايَا وَمُحْيِ الأَعْظُمِ الرِّمَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ جَلَّ اللهُ رَازِقُنَا
المُنْعِمُ المُفضِلُ المَوْصُوفُ بِالكَرَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ جَلَّ اللهُ بَاعِثُنَا
مِنْ يَوْمٍ مُزْدَحَمِ الأَمْلاَكِ وَالأُمَمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَضْعَافاًمُضَاعَفَةً
مِمَّا ذَكَرْتُ مِنَ الأَجْنَاسِ وَالقَسَمِ
ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَى المُخْتَارِ مِنْ مُضَرٍ
خَيْرِ البَرِيَّةِ مِنْ بَاكٍ وَمُبْتَسِمِ
(أبو مَديَن الغَوث)
Terjemah:
Kemudian, salam sejahtera tercurah bagi Sang Terpilih dari suku Mudhar,
Manusia terbaik di antara mereka yang menangis maupun tersenyum.
Aku memohon ampun kepada Allah, Pengendali perahu dalam gelap malam,
Di atas ombak samudra yang bergejolak dan saling berbenturan.
Aku memohon ampun kepada Allah, Penyelamat setiap insan yang berlindung kepada-Nya,
Saat musibah menimpanya dengan rasa sakit dan derita.
Aku memohon ampun kepada Allah, Sang Maha Pengampun segala dosa,
Bagi mereka yang datang dengan hati hancur, tunduk, dan penuh penyesalan.
Aku memohon ampun kepada Allah, Sang Penutup aib para hamba,
Yang menyelamatkan mereka yang berlumur cela dari kemurkaan.
Aku memohon ampun kepada Allah atas lisanku, atas akhlakku,
Atas keburukan diriku, rupa ragaku, dan perangai-perangaiku.
Aku memohon ampun kepada Allah atas rahasia dan yang tampak dariku,
Atas gejolak hati dan senyum yang terukir di bibirku.
Aku memohon ampun kepada Allah atas pendengaranku, atas penglihatanku,
Atas isi nurani, pikiranku, dan setiap kata yang terucap dari lidahku.
Aku memohon ampun kepada Allah atas dosaku dan setiap tergelincirku,
Atas dosa-dosa besar dan dosa kecil yang membayangiku.
Aku memohon ampun kepada Allah atas apa yang dilakukan tanganku,
Atas segala kesalahan yang kutapaki dengan kaki ini.
Aku memohon ampun kepada Allah atas yang belum sempat kuraih,
Atas apa yang kutuju saat cita-citaku masih belia.
Aku memohon ampun kepada Allah atas perangai dan watakku,
Atas perubahan keadaanku menuju sakit yang melumpuhkan.
Aku memohon ampun kepada Allah atas ucapanku dan siapa pun yang bersamaku,
Atas kepunyaanku, sangka-sangkaku, dan sumpahku yang lemah.
Aku memohon ampun kepada Allah atas yang tak kuketahui,
Dan atas yang kutahu serta yang kutulis dengan pena dan kalam.
Aku memohon ampun kepada Allah atas tidurku dan kantukku,
Atas jaga dan sadar dalam hidupku, selama aku berlindung pada-Nya.
Aku memohon ampun kepada Allah atas masa kecilku yang penuh khilaf,
Yang bertentangan dengan usia lanjut yang datang di ujung hayat.
Aku memohon ampun kepada Allah setiap kali angin Yaman berhembus,
Dan hujan tercurah deras di lembah dan perbukitan.
Aku memohon ampun kepada Allah setiap kali para haji melangkah,
Menuju tempat-tempat suci yang mulia, baik di tanah halal maupun haram.
Aku memohon ampun kepada Allah setiap fajar merekah,
Dan setiap kali burung-burung bernyanyi merdu di dahan pepohonan.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak huruf yang terucap,
Sebanyak ayat yang dibaca dalam zikir, dan hikmah yang tertulis dalam kitab.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak makhluk-makhluk kecil melata,
Sebanyak yang berada di cakrawala dan bumi penuh pengetahuan.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak tumbuhan tumbuh di darat,
Sebanyak nikmat di lautan dan keberkahan di bumi.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak hembusan angin,
Dan semua yang dibawanya, dari rezeki dan hembusan kehidupan.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak butiran pasir di bumi,
Sebanyak hujan yang mengguyur dunia dalam derasnya berkah.
Aku memohon ampun kepada Allah sebanyak ciptaan yang ada,
Dari manusia, jin, bangsa Arab, dan non-Arab, dari ilmu dan hikmah.
Aku memohon ampun kepada Allah, Maha Suci Allah, Pencipta kita,
Yang menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah rapuh.
Aku memohon ampun kepada Allah, Maha Suci Allah, Pemberi rezeki kita,
Yang Maha Pemberi nikmat, Maha Pemurah, dan disifati dengan kemurahan.
Aku memohon ampun kepada Allah, Maha Suci Allah, Yang membangkitkan kita,
Pada hari penuh sesak oleh para malaikat dan umat manusia.
Aku memohon ampun kepada Allah, sebanyak lipatan doaku,
Sebanyak yang telah kusebut dari jenis, golongan, dan sumpahku.
Kemudian, salam sejahtera atas Sang Terpilih dari suku Mudhar,
Manusia terbaik dari semua yang menangis dan tersenyum.
Bait demi bait dalam puisi itu bukan sekadar keluh lirih seorang hamba, melainkan pancaran jiwa yang merunduk di hadapan kebesaran Ilahi.
Syair ini tak hanya memuat permintaan ampun, tapi juga membungkus pengakuan, refleksi, dan penghambaan dalam bahasa sastra yang sangat kuat. Abu Madyan menyampaikan doanya dengan kepasrahan total.
Seolah ia ingin berkata bahwa segala gerak hidup, dari hal yang tampak hingga tersembunyi, dari masa kecil hingga usia senja, tak luput dari pengawasan dan keadilan Tuhan.
Puisi Doa Permohonan: Tanggapan Jiwa yang Penuh Penyesalan
Syair ini dibuka dengan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai al-Mukhtar min Mudhar yang terpilih dari suku terbaik, dan khayr al-bariyyah, manusia terbaik dari segala makhluk, baik dari yang menangis maupun yang tersenyum.
Ini menjadi bingkai spiritual yang kuat pengakuan bahwa segala puji dan syafaat tetap bermuara pada Rasulullah SAW, sang perantara cinta Ilahi.
Setelah bait pembuka yang berisi pujian, barulah Abu Madyan mengalirkan deras permohonan ampun. Berkali-kali ia mengulang, “Astaghfirullah…” yang berarti “Aku memohon ampun kepada Allah”.
Repetisi ini bukan sekadar retorika, tapi merupakan bentuk dzikir yang menghidupkan kesadaran akan dosa, kesalahan, dan kelemahan manusiawi. Ia mengakui kesalahan yang berasal dari ucapan, tabiat, penglihatan, pendengaran, lintasan pikiran, bahkan dari bentuk lahiriahnya.
Bahkan yang lebih menggetarkan, ia memohon ampun atas apa yang tidak ia ketahui. Ini adalah bentuk puncak kerendahan hati: mengakui bahwa bisa jadi kesalahan telah terjadi meskipun tidak disadari.
Dalam dimensi tasawuf, syair ini adalah cerminan konsep al-ma’rifah mengenal Allah dimulai dengan mengenal diri.
Abu Madyan menyadari bahwa di balik tampilan lahiriah yang mungkin terlihat baik, masih banyak dosa-dosa yang tersembunyi. Ia juga mengakui bahwa keburukan bisa berasal dari watak dan karakter dirinya sendiri.
Permintaan ampun tidak berhenti di perbuatan masa lalu, namun juga pada watak yang belum bisa diperbaiki: “Aku memohon ampun dari tabiatku dan sifat asliku,” tulisnya.
Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya penyesalan atas apa yang sudah berlalu, tetapi juga persiapan batin untuk terus berubah, bertumbuh, dan dibentuk kembali oleh kasih sayang Allah.
Uniknya, Abu Madyan tidak membatasi istighfarnya hanya pada dosa pribadinya. Ia memperluas permohonan ampun itu sebesar seluruh ciptaan.
Ia memohon ampun sebanyak jumlah huruf, ayat Al-Qur’an, hikmah, tumbuhan, hewan, awan, angin, makhluk halus, dan bangsa manusia dari Arab maupun non-Arab.
Syair ini juga menyinggung semua fase hidup: dari masa kecil hingga usia tua, dari tidur, sadar, mimpi, hingga gerak anggota tubuh.
Semua disebut sebagai potensi dosa. Ini mencerminkan kesadaran total seorang sufi bahwa setiap bagian dari kehidupan berpotensi ternoda dan karena itu harus dicuci dengan istighfar.
Makna Suci dalam Bahasa Puitik
Secara sastrawi, puisi ini adalah doa yang disulam dengan irama jiwa. Ia tidak hanya indah secara bahasa, tapi juga mendalam secara makna.
Mengulang “Aku memohon ampun kepada Allah” dalam konteks-konteks yang berbeda menegaskan bahwa dosa bukan hal yang statis, dan ampunan bukan hanya ritual, melainkan kondisi batin yang hidup.
Metafora seperti “Allah adalah pengendali bahtera di malam pekat” atau “penyelamat dari derita terdalam” membuat syair ini terasa seperti samudra makna yang tak bertepi.
Ia menjadikan angin, hujan, burung bernyanyi, hingga pergerakan jamaah haji sebagai saksi atas permohonan ampunannya.
Doa Permohonan dalam puisi Abu Madyan al-Ghawts ini bukan sekadar ungkapan linguistik, tapi juga bentuk ibadah.
Ia tidak hanya memperlihatkan pertobatan, tapi juga menanamkan adab, rasa malu kepada Allah, dan keinginan untuk kembali suci.
Syair ini mengajarkan bahwa istighfar adalah jalan suci untuk menyucikan hati, menghapus dosa yang nyata maupun yang tersembunyi, dan membuka kembali hubungan antara hamba dan Sang Khalik.
Dalam dunia yang penuh kegaduhan dan keangkuhan, puisi ini adalah cermin jernih bagi siapa pun yang ingin kembali pulang ke rumah kerendahan hati. []









