Janji tarik pasukan atau sekadar manuver politik? Pernyataan Donald Trump soal Iran memicu tanda tanya besar.
Oleh: Imam Trikarsohadi
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa serangan militer AS terhadap Iran dapat segera berakhir dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan.
Hal tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Selasa 31 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa penarikan pasukan akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Kami akan pergi sangat segera,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Reuters.
Atas pernyataan tersebut, sebaiknya jangan percaya. Sebab hal itu bisa jadi pisau bermata dua.
Tapi sebagai analisa dini, keputusan Trump bisa dilihat dari aspek historis maupun dinamika konflik terkini di Iran.
Yang pertama, pemicunya adalah kecemasan akan beban anggaran yang tak terkendali. Sebab dengan sikap tak gentar Iran, maka sama halnya bahwa perang kali ini tanpa akhir. Sebaliknya, justru akan memantik peperangan yang semakin meluas dan brutal.
Trump mulai takut hal ini terjadi. Apalagi, pada saat janji – janji kampanyenya, Trump selalu berkoar – koar tentang “America First” dan efisiensi biaya.
Trump secara konsisten memandang kehadiran militer AS di luar negeri sebagai beban anggaran yang tidak perlu (“perang tanpa akhir”). Kebijakan ini bertujuan mengalihkan dana militer untuk kebutuhan domestik atau efisiensi anggaran.
Dengan keterlibatannya menyerang Iran, dan kemudian tak didukung sepenuhnya oleh para sekutu AS, bahkan oleh warga AS sendiri, kecuali segelintir raja – raja Arab yang fasik, Trump mulai terjebak oleh janji politiknya sendiri, dimana ia dengan lantang jual janji saat kampanyenya akan mengakhiri keterlibatan militer AS di Timur Tengah dan Asia Selatan, dan kini mulai ditagih warga AS.
Dalam konteks ini, Trump pun mulai tak yakin dengan sikapnya sendiri bahwa akan mampu menaklukkan Iran dengan tanpa harus menempatkan pasukan darat dalam jumlah besar, melainkan melalui tekanan ekonomi dan serangan udara terukur. Faktanya, Iran tak kunjung tunduk, bahkan semakin garang melawan.
Selain itu, dalam perang melawan Iran, dikalangan para sekutu AS, semakin tebal rasa tak percaya kepada Trump, karena pernah dikhianati saat konflik di Suriah dan Afganistan, dimana keputusan mendadak Trump meninggalkan persoalan panjang dan rumit bagi para sekutu.
Akan halnya penarikan pasukan dari pangkalan tertentu di Irak dan penundaan serangan mencerminkan strategi “tarik-ulur” (negotiation/ultimatum) yang penuh risiko, di mana Trump mencoba menekan Iran melalui negosiasi namun juga mengancam dengan kehancuran infrastruktur. Hasilnya diluar dugaan; Irak malah secara terbuka mendukung Iran.
Disis lain, mulai muncul perselisihan antara Trump dengan para pejabat militer dan
Pentagon yang sering terkejut dengan pengumuman Trump yang mendadak, yang dinilai mengabaikan saran profesional dari komandan lapangan.
Klaim Trump yang acapkali overdosis juga mulai memantik ketidakpercayaan secara meluas, baik di dalam AS sendiri maupun dunia.
Kalangan profesional militer maupun intelijen kini mencibir adanya kesenjangan antara klaim Trump mengenai “kemenangan total” dengan realita pertempuran di lapangan, misalnya klaim telah melumpuhkan Iran, faktanya Iran masih mampu merespons dengan rudal.
Ringkasnya, pengumuman tarik pasukan Trump adalah alat kebijakan luar negeri yang populis dan transaksional.
Ini bertujuan untuk menonjolkan citra “pembuat kesepakatan” (deal-maker) yang membawa pulang tentara AS, namun seringkali menciptakan ketidakstabilan di kawasan yang ditinggalkan serta menekan aliansi tradisional AS. Jadi jangan terlalu dipercaya. []







