Scroll untuk baca artikel
Berita

Umat Kristen Diminta Tidak Reaktif Tanggapi Video Jusuf Kalla, Ini Penjelasannya

×

Umat Kristen Diminta Tidak Reaktif Tanggapi Video Jusuf Kalla, Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Umat Kristen Diminta Tidak Reaktif Tanggapi Video Jusuf Kalla
Ilustrasi Ai

Jangan terpancing potongan video pahami konteks pernyataan Jusuf Kalla demi menjaga damai antarumat.

BARISAN.CO – Inisiator Konser Perdamaian Dunia (Konperda), Sutrisno Pangaribuan, mengimbau umat Kristen di Indonesia untuk bersikap proaktif dan tidak reaktif dalam menyikapi polemik potongan video ceramah Jusuf Kalla yang beredar luas di media sosial.

Dalam siaran persnya, Sutrisno menegaskan bahwa video yang beredar bukan produk jurnalistik utuh, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Ia meminta publik melihat isi ceramah tersebut secara lengkap dan tidak terpancing sentimen berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Menurutnya, penjelasan yang disampaikan oleh Jusuf Kalla merujuk pada konteks konflik sosial bernuansa agama yang pernah terjadi di Ambon, Poso, dan Maluku Utara. Karena itu, pemahaman atas pernyataan tersebut harus dilakukan secara utuh dan kontekstual.

Sutrisno juga menilai tidak terdapat unsur penistaan terhadap agama Kristen dalam potongan video tersebut.

Ia menegaskan bahwa ceramah tersebut justru menggambarkan realitas konflik masa lalu, di mana korban berasal dari kedua belah pihak yang terlibat.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa berbagai reaksi keras dari sejumlah kelompok yang mengatasnamakan umat Kristen tidak mencerminkan suara resmi umat Kristen Indonesia.

Ia menyebut representasi resmi umat Kristen berada pada lembaga seperti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia, serta umat Katolik melalui Konferensi Waligereja Indonesia.

Sutrisno menyarankan, apabila terdapat kekeliruan dalam penyampaian materi ceramah, maka dialog terbuka antara Jusuf Kalla dan perwakilan lembaga keagamaan tersebut perlu dilakukan untuk meredakan polemik.

Ia juga mengingatkan bahwa nilai utama dalam ajaran Kristen adalah kasih terhadap Tuhan dan sesama manusia.

Oleh karena itu, ia menilai reaksi berlebihan seperti kecaman, ancaman, hingga pelaporan hukum tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, Sutrisno mengajak seluruh masyarakat menjaga semangat persaudaraan, terlebih setelah perayaan hari besar keagamaan seperti Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah yang berlangsung berdekatan.

“Indonesia membutuhkan kedamaian, bukan konflik baru. Semua pihak harus mampu menahan diri dan tidak memperbesar polemik,” ujarnya kepada Barisan.co, Senin (13/4/2026).

Ia juga menegaskan bahwa Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional dan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 dinilai tidak memiliki niat menciptakan kegaduhan publik.

Sutrisno menutup pernyataannya dengan menyerukan pentingnya menjaga persatuan serta membangun Indonesia yang bebas dari kebencian, kekerasan, dan pertikaian. []