Wajah Nabi Adam bukan sekadar rupa manusia pertama, melainkan simbol cahaya fitrah, kehormatan, dan makna terdalam tentang siapa kita sebenarnya.
BARISAN.CO – Pembahasan tentang wajah Nabi Adam menempati posisi yang unik dalam khazanah keislaman. Ia tidak hanya menyentuh wilayah sejarah penciptaan manusia pertama, tetapi juga merambah ranah teologi, etika, bahkan filsafat kemanusiaan.
Wajah, dalam banyak tradisi, bukan sekadar bagian fisik, melainkan simbol jati diri, kehormatan, dan kesadaran.
Dalam Islam, konsep ini memperoleh kedalaman makna melalui hadis-hadis Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan penciptaan Adam dan larangan merendahkan wajah manusia.
Salah satu hadis paling masyhur terkait penciptaan Nabi Adam diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini menjadi fondasi utama pembahasan tentang rupa, bentuk, dan wajah Nabi Adam.
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ، فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ. فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ. فَقَالُوا: السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَزَادُوهُ: وَرَحْمَةُ اللَّهِ.
فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ.
Artinya: “Allah menciptakan Adam, tingginya enam puluh hasta. Kemudian Allah berfirman: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat itu, dan dengarkan bagaimana mereka menjawab salam penghormatanmu, karena itu adalah salam untukmu dan keturunanmu.’ Maka Adam berkata: ‘Assalāmu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalāmu ‘alaika wa raḥmatullāh.’ Mereka menambahkan ‘wa raḥmatullāh.’ Setiap orang yang masuk surga kelak akan berada dalam rupa Adam, dan manusia terus mengalami penyusutan (tinggi tubuh) hingga sekarang.” (HR. Bukhari no. 3079)
Hadis ini menegaskan bahwa Nabi Adam diciptakan dalam kondisi sempurna sejak awal, termasuk wajah dan bentuk tubuhnya.
Wajah Adam bukan hasil evolusi bertahap, melainkan ciptaan langsung Allah dengan kemuliaan dan kesempurnaan tertentu. Di sinilah wajah Nabi Adam menjadi simbol awal kemanusiaan.
Selain hadis di atas, terdapat hadis lain yang secara eksplisit menyebut kata “rupa” (ṣūrah) dan sering menjadi bahan diskusi teologis:
خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
Artinya: “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam atas rupa-Nya.”
Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis dengan redaksi yang sedikit berbeda, dan menjadi titik sentral perbedaan penafsiran tentang makna “rupa” serta kata ganti “-Nya”.
Para ulama sepakat bahwa hadis di atas tidak boleh dipahami secara literal-jasmani yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Namun mereka berbeda pendapat tentang kepada siapa kata ganti “-Nya” merujuk.
Pendapat pertama menyatakan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Nabi Adam. Artinya, Allah menciptakan Adam dalam rupa yang utuh dan langsung sempurna.
Tafsir ini diperkuat oleh lanjutan hadis yang menyebut tinggi Adam enam puluh hasta. Dalam konteks ini, wajah Nabi Adam adalah wajah manusia pertama yang menjadi prototipe seluruh manusia setelahnya.
Adam tidak melewati fase bayi atau pertumbuhan, melainkan diciptakan dalam kondisi matang, lengkap dengan wajah dan bentuk fisiknya.
Pendapat kedua menyatakan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada “seseorang” (manusia secara umum). Tafsir ini dipahami dari hadis Nabi ﷺ tentang larangan memukul wajah:
إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ، فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian berkelahi dengan saudaranya, maka hendaklah ia menghindari wajah, karena Allah menciptakan Adam sesuai dengan rupanya.” (HR. Muslim)
Makna hadis ini bersifat etis: wajah manusia memiliki kehormatan khusus karena terkait langsung dengan penciptaan Adam.
Dengan demikian, wajah Nabi Adam menjadi dasar normatif bagi penghormatan terhadap wajah setiap manusia. Melukai wajah berarti melukai simbol kemanusiaan itu sendiri.
Pendapat ketiga yang paling sensitif menyatakan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Allah. Sebagian riwayat bahkan menyebut redaksi:
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَةِ الرَّحْمَنِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa Yang Maha Pengasih.”
Namun para ulama hadis seperti Imam al-Nawawi menegaskan bahwa riwayat ini tidak kuat sanadnya dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis utama (al-kutub al-tis‘ah).
Meski demikian, para ulama tetap membahas kemungkinan maknanya secara hati-hati.
Makna ketiga ini tidak pernah dipahami secara fisik. Allah Mahasuci dari bentuk dan rupa. Dalam tafsir Ahlus Sunnah, makna “rupa” di sini ditakwil menjadi dua pendekatan.
Pertama, makna penghormatan (tasyrīf), yakni Allah memuliakan Adam dengan penciptaan yang istimewa, sebagaimana Ka‘bah disebut Baitullah atau unta Nabi Saleh disebut Naqatullah.
Kedua, “rupa” dimaknai sebagai sifat, yakni Allah menciptakan manusia dengan sifat-sifat dasar seperti mendengar, melihat, mengetahui, dan menyayangi tanpa sifat ke-Maha-an.
Wajah Nabi Adam dalam Perspektif Filsafat dan Kemanusiaan
Dalam filsafat Islam, manusia dipahami sebagai makhluk berakal dan bermoral. Wajah menjadi representasi lahir dari akal dan jiwa.
Ia adalah titik temu antara batin dan dunia luar. Dengan wajah, manusia mengenali dan dikenali. Dalam konteks ini, wajah Nabi Adam adalah simbol kesadaran pertama manusia sebagai subjek moral.
Filsuf Muslim seperti Ibn Sina memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi kesempurnaan melalui akal. Wajah menjadi cermin dari potensi itu.
Sementara dalam pendekatan etika modern, seperti pemikiran Emmanuel Levinas, wajah dipahami sebagai “panggilan etis” kehadiran orang lain yang menuntut tanggung jawab sebelum penilaian apa pun.
Meski berasal dari tradisi berbeda, gagasan ini sejalan dengan pesan hadis Nabi ﷺ tentang larangan menyakiti wajah.
Dengan demikian, wajah Nabi Adam bukan hanya persoalan sejarah penciptaan, tetapi fondasi etika kemanusiaan.
Ia mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan kehormatan sejak awal. Wajah menjadi simbol fitrah, martabat, dan tanggung jawab moral.
Hadis tentang tinggi Adam dan penyusutan manusia juga dapat dibaca secara simbolik. Penyusutan itu bukan hanya fisik, tetapi juga peringatan agar manusia tidak menyusut secara moral dan spiritual. Semakin jauh dari fitrah, semakin kabur makna wajah sebagai simbol kemanusiaan.
Pada akhirnya, pembahasan wajah Nabi Adam mengajak manusia untuk bercermin: bahwa sejak awal penciptaannya, manusia dimuliakan.
Menghormati wajah sesama berarti menjaga warisan penciptaan pertama. Dalam Islam, wajah bukan sekadar rupa ia adalah amanah. []









