Kecanduan narkoba dikenal sebagai penyakit kambuhan saat seseorang sedang dalam masa pemulihan. Lebih dari 85 persen individu kambuh dan kembali menggunakan narkoba dalam satu tahun setelah pengobatan.
BARISAN.CO – Gitaris grub band Kahitna, Andrie Bayuajie, ditangkap Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/6/2022) sekitar pukul 12.30 WIB. Dari tangan Andrie, polisi mendapati barang bukti berupa diazepam yang masuk dalam kategori psikotropika golongan 4 dan obat penenang.
Sebelumnya, artis Gary Iskak pada Akhir Mei lalu juga ditangkap kepolisian Bandung karena penggunaan narkoba. Bagi Gery, ini bukan kali pertama ditangkap, tahun 2007 Gary juga berurusan dengan kasus serupa karena kedapatan menyalahgunakan narkoba jenis sabu.
Dia juga bukan satu-satunya artis yang terjerat kasus narkoba lebih dari sekali. Artis senior, Faris RM bahkan tiga terciduk polisi karena narkoba.
Meski, telah menjalani masa rehabilitasi ada peluang untuk kambuh. Ketika menyelesaikan program pemulihan, banyak orang mengira akan sembuh total. Namun, narkoba memengaruhi otak untuk terus mengonsumsinya.
Kecanduan narkoba dikenal sebagai penyakit kambuhan saat seseorang sedang dalam masa pemulihan. Penggunaan narkoba yang berulang bisa menyebabkan perubahan pada otak untuk mengendalikan diri dan kemampuan untuk menahan hasratnya.
Mengutip American Addiction Centers, lebih dari 85 persen individu kambuh dan kembali menggunakan narkoba dalam satu tahun setelah pengobatan. Para peneliti memperkirakan, lebih dari 2/3 individu di masa pemulihan kambuh dalam beberapa minggu hingga bulan setelah memulai pengobatan kecanduan.
Situasi berisiko tinggi dapat mencakup orang, tempat, atau perasaan yang mengara pada perilaku mencari narkoba. Tanpa adanya rencana pencegahan kekambuhan jangka panjang, kebanyak orang tidak akan berhasil dalam upayanya untuk tetap sadar.
Proses kekambuhan disebut-sebut sebagai lingkaran domino. Pertama, tanpa disadari menepatkan diri dalam situasi berisiko, lalu berpikir memegang kendali atau menyangkalnya. Meski, setiap langkah terasa tidak penting, namun itu bagian dari rangkaian peristiwa yan mengarahkan seseorang kambuh.
Kokain, heroin, dan sabu adalah jenis narkoba yang lebih sering menyebabkan orang kambuh. Turning Point of Tampa membagikan cara untuk mencegahnya dengan mengingat keadaan fisik dan emosional yang dapat memicu risiko kambuh, yakni lapar, marah, kesepian, dan lelah.
1. Kelola pemicu
Pemicu bisa mengingatkan perilaku adiktif sebelumnya dan dapat membangkitkan dorongan kuat untuk mengalami kembali perilaku itu. Bisa berupa orang, tempat, lokasi, situasi stres, peristiwa, atau faktor lainnya yang memunculkan perasaan positif tentang narkoba, alkohol, atau perilaku adiktif lainnya.
Melakukan percakapan dengan terapis atau seseorang di sistem pendukung. Semakin kuat keterampilan koping, semakin besar kemungkinan berhasil menghindari kekambuhan. Jika mengalaminya, belajar mengelola, menghindari, atau menangani pemicu dengan lebih baik dapat membantu mencegahnya.
2. Support network
Kelilingi diri dengan keluarga dan teman-teman yang suportif. Selain itu, penting tidak lagi bergaul dengan siapa pun yang masih aktif menggunakan narkoba atau alkohol. Orang bisa menjadi pemicu yang sangat kuat untuk perilaku adiktif.
Jangan menghadiri kegiatan di mana tahu ada orang yang akan menggunakan alkohol atau narkoba. Jika tidak bisa, minta seorang teman yang sadar hadir bersama untuk mendapatkan dukungan.
3. Perkuat hubungan
Kecanduan sering kali berdampak besar pada hubungan dengan orang terdekat. Menghadiri konseling keluarga mengajarkan keterampilan berkomunikasi, mengidentifikasi dinamika keluarga yang tidak sehat, dan cara memulihkan hubungan dalam struktur keluarga.
4. Manajemen stres
Pelajari cara mengelola dan mengurangi stres akan membuat lebih sehat dan bahagia dan mengurangi kemungkinan kambuh. Mengubah gaya hidup, seperti olahraga teratur, makan makanan sehat, berpikir positif, yoga, meditasi, menulis jurnal, dan melatih kreativis juga bisa membantu.
5. Menjadi sukarelawan
Sejumlah penelitian menunjukkan, membantu orang lain dapat memberi manfaat besar bagi orang-orang yang sedang dalam masa pemulihan, memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan dan depresi, meningkatkan harga diri, dan memperkuat tujuan. Ini semua terbukti menajdi faktor kuat dalam pemulihan.
Temuan dari beberapa studi penelitian universitas juga menemukan, membantu orang lain mengurangi perasaan terisolasi, mengurangi kecemasan sosial, dan dapat meningkatkan peluang tetap sadar hingga 50 persen.
Kambuh bukan indikasi kegagalan. Tidak perlu hidup dalam kekhawatiran akan kambuh. Sebaliknya, fokus pada tujuan. Sering-seringlah meninjau rencana pemulihan dan berusaha untuk menerapkan perubahan positif dalam setiap aspek kehidupan. [rif]





