BARISAN.CO – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto akan pensiun November tahun ini. Dua nama calon penggantinya yang paling santer teresonansi adalah: 1) Kepala Staf TNI Angkatan Darat Andika Perkasa; 2) Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono.
Sebenarnya ada nama ketiga, yakni Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Fadjar Prasetyo. Namun dibanding lainnya, Fadjar dianggap paling kecil peluangnya karena sama-sama berasal matra udara dengan pendahulunya—ada skema pergantian khas setelah reformasi, di mana tampak tendensi merotasi matra untuk jabatan Panglima TNI.
Andika Perkasa adalah lulusan Akademi tahun 1987 (pensiun 2022). Yudo Margono dan Fadjar Prasetyo lulusan 1988 (Yudo pensiun 2023, Fadjar pensiun 2024).
Jika Andika yang terpilih, jabatan Panglima TNI disebut-sebut akan terlalu singkat dan membawa dampak pada organisasi. Meski demikian, peluang tetap terbuka baginya dan Presiden Jokowi pada dasarnya tetap bisa memutuskan apapun berbekal hak prerogatifnya.
Dengan begitu, penting untuk melihat bagaimana manuver dari para nama untuk duduk di kursi panglima. Ada lobi-lobi, ada adu prestasi, ada upaya penguatan citra.
Andika Perkasa, selain belakangan ini kerap tampil di media sosial, juga disebut telah melakukan lobi-lobi melalui peran mertuanya, AM Hendropriyono. Majalah Tempo memberitakan bahwa pada tanggal 7 Mei silam Hendropriyono telah menemui Presiden Jokowi di Istana Negara untuk membahas soal ini.
Semua orang tahu siapa Hendropriyono. Ia termasuk pemegang peran penting dalam dua kali kemenangan Jokowi di Pilpres. Namun, Senin kemarin (14/6/2021), Hendropriyono membantah pemberitaan soal itu.
“Saya tidak bicara dan tidak pernah bicara tentang hal yang demikian itu [soal pemilihan Andika Perkasa], saya tidak pernah begitu hina mau nyosor meminta-minta jabatan. Tidak untuk menantu, anak, apalagi untuk saya sendiri. Tidak pernah,” kata Hendropriyono dalam keterangannya.
Hendropriyono tak menampik ada pertemuan pada 7 Mei 2021 dengan Presiden Jokowi. Ia mengatakan, pertemuan tersebut berkaitan hari ulang tahunnya yang ke-76. Hendro pun mengklaim pertemuan sebatas silaturahmi.
“Silaturahmi sebagai dua sahabat adalah hal yang biasa, karena Pak Jokowi setelah menjadi Presiden tidak berubah sama sekali dengan sewaktu dulu sebagai rakyat biasa,” kata Hendro.
Di sisi lain, Laksamana Yudo Margono juga ditengarai telah melakukan manuver untuk menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto. Tempo menyebut bahwa Yudo telah menggalang dukungan dengan menemui para seniornya di Angkatan Laut.
Sama besarnya dengan peluang Andika Perkasa, Yudo Margono yang menjabat Kepala Staf Angkatan Laut sejak 20 Mei 2020 lalu ini tidak sembarang prajurit TNI AL. Serangkaian kemampuan, kecakapan, serta loyalitas adalah sebagian syarat yang dimilikinya.
Saat virus corona menyebar, dan Indonesia perlu memulangkan WNI dari Wuhan, Yudo dipercaya untuk memimpin proses rehabilitasi para WNI di hanggar Lanud Raden Sadjad, Natuna. Tak hanya itu, ABK kapal pesiar yang diobservasi di Kepulauan Seribu juga dikomandoi olehnya.
Masih dalam konteks pandemi corona, ketika pemerintah lalu membangun RSD di Wisma Atlet Kemayoran, Yudo juga dipercaya memimpin operasional RSD sampai akhirnya diserahkan ke Pangdam Djaya Mayjend TNI Eko Margiyono.
Dilihat dari jenjang karier, Laksamana Yudo Margono memiliki potensi besar. Namun Marsekal Fadjar Prasetyo juga tak kalah jika dilihat dari segi ini.
Fadjar Prasetyo punya karier yang moncer di Angkatan Udara. Pria kelahiran Jakarta, 9 April 1966, itu mulai meniti jalan militer sebagai penerbang A-4 Skyhawk di Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin pada tahun 1990 hingga 1995.
Sejak 1995, dia ditugaskan menjadi perwira penerbang di Skuadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma. Dia menerbangkan pesawat Fokker F-28 dan Boeing B-707. Selanjutnya, menjadi Komandan Skuadron Udara 17 dan menerbangkan Boeing 737-200. Fadjar pun sempat menjadi Atase Pertahanan.
Saat menjabat sebagai Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) I pada tahun 2018-2019, Fadjar dinilai sukses melaksanakan berbagai tugas operasi, seperti operasi Lintas Rajawali, Tangkal Rajawali, Kawal Rajawali, Sayap Rajawali, Lintas Udhaya, serta latihan Jalak Sakti.
Dalam operasi-operasinya, Fadjar Prasetyo berhasil mencatatkan prestasi yang baik karena pelaksanaannya berlangsung aman dan lancar dengan predikat zero accident. []