Scroll untuk baca artikel
Religi

Perjalanan Kreativitas Ebiet G Ade dan Telur Asin

Redaksi
×

Perjalanan Kreativitas Ebiet G Ade dan Telur Asin

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Hanya sedikit orang tahu, Ebiet G Ade mempunyai kenangan khusus tentang telur asin. Saat ‘menggelandang’ dari kota ke kota bersama penulis, dia ngebet banget terhadap telur asin. Terutama sejak dari Surabaya singgah di Pekalongan pada tahun 1977, gitaris ini mulai berkenalan dengan telur asin.

Selama tinggal di rumah anggota Teater Kandidat pimpinan EH Kartanegara dia seakan takjub melihat telur asin. Sekian bulan tinggal di rumah Muhamad, adik Lutfi, setiap makan dia minta hanya lauk telur asin. Perlu dicatat nama Lutfi itulah yang kini dikenal sebagai Habib Lutfi, tokoh Islam kondang dari Pekalongan. Dan posisi rumah itulah yang kini menjadi bagian dari rumah besar Sang Habib, di daerah Noyontaan kota Pantura (Pantai Utara Jawa) yang dikenal sebagai kota batik.

Saat itu dari Muhamad kami tahu, kakaknya itu sedang ‘berguru’ di Brebes, dan setiap pulang membawa oleh-oleh telur asin Brebes. Itulah sebabnya, Muhamad selalu bisa membawakan telur asin dari rumah sang kakak untuk seniman dari Yogya ini. Dan sang seniman mulai mengamati telur asin, bahwa ada perbedaan telur asin.

Entah bagaimana pada gilirannya dia bisa memilih secara pas telur asin yang disukainya. Setiap membuka telur asin yang diincarnya, wajahnya tampak berseri-seri. Bahkan dia akan bersorak, manakala telur asin pilihannya itu tepat.

Satu telur asin yang putihnya kering tapi lunak, dan bagian kuningnya masir berminyak terasa nikmat. Entah memiliki kandungan mitos apa telur asin Brebes, dari menu spesial ini Ebiet selalu terpacu etos untuk mencipta lagu.

Ada beberapa lagu yang teretos-cipta oleh mitos telor asin, yakni teristimewa Lolong dan Jafin. Lolong adalah satu lokasi jembatan di Pekalongan, tempat pasangan memadu kasih. Dan Jafin adalah musik khas Arab yang rancak dan bisa menggerakkan publik untuk menari gaya Arabia.

Saat itu kami diajak Muhamad hadir di resepsi perkawinan saudaranya, yang menanggap musik Jafin. Menyaksikan musik rancak dan orang-orang yang menari khas, Ebiet tampak gelisah. Apalagi saat ia mesti mengambil santapan yang serba daging, dia tampak lingak-linguk. Segera saja ia membisiki Muhamad minta pulang ke rumah Noyontaan, seraya bilang ia mesti makan berlauk telur asin. Melihat itu saya segera tanggap, ini saatnya sang seniman mencipta lagu dan mesti ada telur asin!

Di hari kemudian Ebiet mengemukakan kepada saya, keinginannya untuk bisa mendekati kota telur asin. Dan karena orang tua saya tinggal di Tegal yang relatif lebih dekat dengan Brebes, saya pun mengajak Ebiet melanjutkan perjalanan ke Tegal. Sebagaimana saat di Pekalongan, selama beberapa bulan di Tegal sang pencipta lagu tetap merindukan telur asin.

Perlu dicatat, selama tinggal di rumah orang tua saya di Jalan Cendrawasih, Ebiet lebih memilih tidur di gudang belakang yang segera saya sulap menjadi kamar untuk kami berdua. Selama itu pula dia beberapa kali saya ajak ke Brebes, antara lain ke alun-alun dan ke kampung nelayan Tuel. Selalu setiap saat itu kami tak lupa membeli telur asin di Pasar Brebes. Tetapi setiap kali itu dia menunjukkan kekecewaannya kepada saya.

Pasalnya telur asin yang ini kali tidak sesuai dengan harapannya, kuningnya tidak masir berminyak! Mungkin karena kami tidak seahli Habib Lutfi dalam memilih telur asin. Dan untuk menutupi kekecewaannya Ebiet mulai bertanya tentang mengapa dan bagaimana Brebes. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut saya pun mengemukakan, tentang mitos Joko Poleng.

Kisah tentang seorang Pangeran, yang bisa mengubah diri sebagai ular setelah mengenakan selongsong ular temuannya. Kisah ini begitu diyakini oleh masyarakat Brebes, tanpa ada pengejawabantahan mitos di baliknya.

Saat itu kepada Ebiet saya katakan, kisah itu sebenarnya memiliki kandungan mitos spiritual agraris. Ialah agar masyarakat Brebes tidak membunuh ular, karena ular adalah predator bagi hama pertanian dan perkebunan.

Kabupaten Brebes memiliki wilayah luas, kedua setelah Kabupaten Semarang dan Cilacap. Bahkan memiliki kewilayahan lengkap, terdiri dari tiga wilayah agraris yang sekaligus mencerminkan karakter masing-masing masyarakatnya.

Pertama wilayah pantai, yang membuat peka bagi kehidupan nelayan dalam nenarung nasib di tengah laut. Kedua wilayah tengah, yang membuat masyarakat petaninya suka akan pesta karena kebiasaan berkaul selamatan setelah panen tiba. Ketiga wilayah gunung, yang membuat hidup masyarakatnya suka bergotongroyong karena tanahnya yang berbukit dan berjurang.

Sebenarnyalah, ketiga karakter ini modal dasar bagi etos kerja masyarakat Brebes. Terbukti istilah warteg di Jakarta sebenarnya lebih tepat disebut warbres, karena pedagangnya berasal dari Brebes.

Entah terpengaruh oleh kisah yang menyelubungi mitos kerja ini, Ebiet tampak mulai banyak mengurung diri di dalam kamar. Ini membuat saya ingat tentang kepercayaan masyarakat Brebes, yang meyakini bahwa satu kamar di rumah dinas Bupati Brebes adalah kamar Sang Joko Poleng.

Apakah Ebiet sedang bertapa sebagaimana Sang Pangeran, ataukah sedang mencipta lagu. Sehingga selama berhari-hari Ebiet sering saya tinggalkan di dalam kamar, sementara saya ngelayab kemana-mana. Hal ini juga membuat tandatanya Ibu saya, tentang teman puteranya yang bagai ular mlungker di dalam liang.

Saat itu lagu-lagu ciptaan Ebiet sudah cukup banyak, mencapai jumlah sepuluhan judul lagu. Hanya di malam hari, sesekali orang tua saya mendengar petikan gitar dan lantunan lagu yang menyayat.

Dan rahasia bertapanya Ebiet pun terbuka, saat satu hari saya pulang dan menemuinya di kamar. Saya lihat Ebiet sedang merancang sendiri cover kaset, yang bagi saya sangat surprise. Betapa selama di Yogya dan di Pekalongan Ebiet mencipta lagu-lagunya, dan di Tegal ia mulai mempunyai keinginan untuk merekam lagu-lagunya.

Suatu perjalanan yang ditinjau dari elan mitos menjadi etos, adalah spirit kemandirian dari kreativitas menjadi produktivitas. Dan saya meyakini betul, bahwa semangat hidup setiap anak manusia sangat dipengaruhi kehidupan lingkungannya.

Pantura membuat Ebiet terpacu kreativitasnya, dan Brebes dengan mitos kerja masyarakatnya membuat ia mulai terobsesi ‘pasar’. Dan siapa bisa mengira bahwa kenyataan mitos menjadi etos ini, bermula dari masirnya telur asin Brebes. [Luk]