Guru yang terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi adalah kunci lahirnya generasi unggul di era yang terus berubah.
Oleh: Syaiful Rozak
(Guru MTs Mazro’atul Ulum)
SAYA akan memulai dengan mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW.
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang celaka”
Sahabat sekalian menjadi guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Menjadi guru tidak lantas menjadikan kita berhenti belajar, tapi sebaliknya menuntut kita untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, upgrade pengetahuan serta memahami perspektif baru.
Guru yang mengajar sebenarnya juga belajar, guru yang menanamkan karakter sebenarnya juga sedang memperbaiki diri. Peningkatan kompetensi itu bukan sekedar tuntutan, tapi sebuah tanggung jawab profesi.
Murid naik kelas, maka guru juga harus naik level. Kompetensi guru harus ditingkatkan. Integritas guru perlu dibangun. Tanggung jawab guru perlu dijalankan. Dan guru yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah mereka yang beruntung. Level seorang guru harus ditingkatkan secara bertahap guna menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks.
Setidaknya ada beberapa alasan logis mengapa guru itu harus naik level.
Pertama adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat. Guru dituntut menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Diera digital guru perlu mengintegrasikan teknologi kedalam metode pembelajaran.
Kedua dinamika kurikulum pendidikan. Guru dituntut menyesuaikan perkembangan kurikulum dengan cepat. Pengembangan metode pembelajaran dalam rangka menjawab kebutuhan murid yang beragam.
Ketiga meningkatkan kualitas lulusan. Melalui pendekatan holistik yang memadukan kurikulum, pengembangan soft skill dan kolaborasi dengan dunia industri.
Keempat peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan. Peningkatan kompetensi berbanding lurus dengan kesejahteraan. Guru dapat meningkatkan kompetensi melalui peningkatan kualifikasi akademik, pelatihan yang relevan atau pendidikan profesi guru (PPG).
Empat Level Guru
Menurut Munif Chatib ada empat level guru. Level pertama medium teacher. Level kedua good teacher. Level ketiga excellent teacher. Level keempat great teacher.
Level pertama adalah guru sebagai penyampai informasi atau materi. Pada level ini peran guru sangat rawan digantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Level kedua guru dapat menjelaskan materi pelajaran yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami murid. Pada level ini guru dapat mentransfer ilmu kepada murid.
Level ketiga guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi mampu mempraktikkannya serta mengaitkan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pada level ini guru dapat mendemonstrasikan teori pembelajaran dengan praktik nyata.
Dan level tertinggi yaitu guru bertindak sebagai sosok yang menginspirasi. Pada level ini guru mampu mengubah pola pikir dan perilaku murid, sehingga kehadirannya akan selalu diingat.
Ibarat sebuah tangga, peningkatan kompetensi guru perlu dilalui secara bertahap. Seorang ahli dulunya juga pemula dan seorang profesional dulunya juga amatir. Hal ini penting dilakukan bukan untuk menunjukkan tingkat level, tapi lebih pada pola pikir bertumbuh (growth mindset).
Menjadi great teacher bukanlah sesuatu yang instan. Prosesnya panjang dan syarat dengan perjuangan dan komitmen yang tinggi. Guru harus memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset), mampu refleksi diri, bersedia menerima kritik, beradaptasi dengan perubahan zaman serta kebutuhan murid yang beragam. []








