Nama Presiden FIFA, Gianni Infantino kembali hangat diperbincangkan. Terutama setelah kontroversi terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
BARISAN.CO – Gianni Infantino mulai menjabat Presiden FIFA sejak 26 Februari 2012 setelah menang dalam pemilihan presiden FIFA pada Kongres Luar Biasa FIFA di Zurich, Swiss.
Pria kelahiran 23 Maret 1970 ini disindir oleh mantan presiden FIFA, Sepp Blatter karena menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Qatar dituduh membayar suap untuk mengamankan hak menjadi tuan rumah turnamen. Sementara, tanggal mulai Piala Dunia dialihkan ke Musim Dingin guna menghindari pemain bersaing dalam suhu terik.
Qatar juga mendapat kecaman karena catatan hak asasi manusia dan undang-undang LGBTQ. Banyak negara yang berencana mengambil sikap menentang diskriminasi tersebut ketika tiba di Qatar.
Sepp mengatakan, sebuah kesalahan memberi Qatar menjadi tuan rumah karena AS lebih disukai FIFA untuk menggelar Piala Dunia 2022.
“Pada saat itu, kami benar-benar setuju di komite eksekutif bahwa Rusia harus mendapatkan Piala Dunia 2018 dan AS pada tahun 2022. Itu akan menjadi isyarat perdamaian jika dua lawan politik lama menjadi tuan rumah Piala Dunia satu demi satu,” kata Presiden FIFA periode 1998-2015 tersebut kepada outlet media Swiss Tages-Anzeiger.
Sepp penasaran mengapa Gianni Infantino tinggal di Qatar sejak 2021.
“Dia tidak bisa menjadi kepala organisasi kepala Piala Dunia lokal. Itu bukan tugasnya. Ada dua komite penyelenggara untuk ini, satu lokal dan satu dari FIFA,” lanjut Sepp.
Di awal tahun, penyelidikan SonntagsBlick mengklaim, Gianni telah tinggal di Qatar sejak Oktober 2021. Dia menyewa rumah di ibu kota Doha. Namun, tahun 2020, FIFA mencabut pengaduan korupsinya terhadap Nasser Al-Khelaifi, Presiden Qatar dari Paris Saint-Germain. Tahun berikutnya, Gianni tinggal di Doha. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar.
FIFA kemudian mengklaim, Gianni membagi waktunya antara bekerja di Doha dan Zurich, di mana organisasi itu bermarkas. Sedangkan, keberadaannya di Qatar memungkinkannya untuk fokus mempersiapkan Piala Dunia.
“Seperti yang dikomunikasikan pada Oktober 2021, Presiden FIFA memberi tahu Dewan DIFA bahwadia akan membagi waktu kehadirannya antara Zurich, Doha, dan di seluruh dunia untuk menjalankan tugas kepresidenannya dan lebih dekat ke Piala Dunia FIFA,” ungkap FIFA dalam sebuah pernyataan.
FIFA menambahkan, hal itu seperti yang dilakukan Gianni selama Piala Arab.
“Dia akan bekerja bersama staf FIFA lainnya di kantor kami di Doha, bila diperlukan, sampai akhir turnamen,” tambah FIFA.
Sementara, untuk menghindari keraguan, FIFA menjelaskan, Gianni memiliki tempat tinggal dan tetap bertanggung jawab dalam membayar pajak di Swiss.
Namun, selain tinggal di Qatar yang menimbulkan kontroversi, berikut ini deretan skandal dari Gianni Infantino:
- Panama Papers
Skandal pertamanya ketika namanya masuk dalam Panama Papers, lebih dari 11 juta dokumen yang mengungkap jaringan lebih dari 214.000 suaka pajak yang melibatkan orang dan entitas dari 200 negara berbeda.
Dokumen itu mengungkapkan, UEFA mengadakan kesepakatan kepada perusahaan lepas pantau dengan beberapa dari mereka yang dituduh menjadi FIFA Gate. Kontrak yang berlangsung dari tahun 2003 hingga 2006 itu ditandatangani Gianni.
Tentu saja, UEFA dan Gianni Infantino membantahnya.
“Saya prihatin dan tidak akan menerima bahwa area tertentu dari media mempertanyakan integritas saya, terutama karena UEFA telah mengungkapkan secara detail semua fakta terkait kontrak ini,” jelas Gianni.
- Mendukung Piala Dunia setiap 2 tahun
Pernyataan yang paling kontroversial adalah perlunya menyelenggarakan Piala Dunia setiap dua tahun sekali.
Dia berulang kali meyakinkan, hal itu diperlukan untuk menjaga perhatian para penggemar yang lebih muda.
Namun, pengkritiknya berpendapat, Gianni ingin menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi FIFA. Menurut mereka, perubahan ini bisa membuat Piala Dunia kurang relevam di mata publik.
Di sisi lain, kesehatan para pemain juga akan terpengaruh karena tidak punya waktu untuk pulih dari berbagai kompetisi.
Hal yang perlu diingat adalah 95 persen pendapatan FIFA berasal dari penjualan hak televisi, pemasaran, hotel, dan hak lisensi terkait Piala Dunia FIFA. Maka, tidak mengherankan jika Gianni ingin melakukannya lebih sering.
- Nyaman dengan sportswashing
Sportswashing adalah teknik yang digunakan negara yang dituduh melakukan pelanggaran HAM. Ini tentang membersihkan citranya dengan menyelenggarakan acara olahraga.
Dalam kasus Gianni, dia tidak mempermasalahkan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Qatar. Dia bahkan belum meminta investigsi tentang hal itu.
Negara itu dituduh dengan berbagai pelanggaran. Tetapi, bagi Gianni, Piala Dunia akan menajdi perayaan sepak bola dan inklusi sosial.
- Tuntutan penyalahgunaan wewenang
Munurut informasi dari Le Monde dan surat kabar Jerman, Süddeutsche Zeitung (SZ), proses pidana terhadap Gianni dibuka pada Juli 2022 di Swiss karena hasutan untuk menyalahgunakan wewenang, melanggar kerahasiaan, dan menghalangi proses pidana secara tidak terduga dipercepat.
Dua jaksa yang bertanggung jawab atas penyelidikan ini, Ulrich Weder dan Hans Maures telah memperluas penyeledikannya ke jaksa federal Swiss. Hakim anti korupsi di Kantor Kejaksaan Konfederasi Swiss, Cedric Remund disidangkan pada Jumat (26/8/2022) setelah diperingatkan tentang tiga pertemuan rahasia (tanpa risalah pendukung) pada 2016-2017 antara Gianni dan mantan Jaksa Agung Swiss, Michael Lauber.
Memimpin beberapa proses terkait FIFA sejak 2015, Mr. Remund adalah orang ketujuh yang menjadi sasaran penyelidikan MoJ. Selain itu, Gianni, Mr.Lauber, mantan juru bicara MPC André Marty, teman hakim Gianni, Rinaldo Arnold, mantan direktur hukum FIFA Marco Villiger, dan mantan jaksa Olivier Thormann.
Menurut dokumen pengadilan yang dikonsultasikan oleh Le Monde dan SZ, kesaksian mantan jaksa agung itu ditunggu-tunggu oleh jaksa luar biasa.
Selain isi diskusi selama pertemuan rahasia, kedua hakim sedang berusaha untuk memverifikasi apakah seseorang juga berpartisipasi dalam pertemuan terakhir dari pertemuan informal tersebut, pada 16 Juni 2017, di Hotel Scheeizerhof di Bern.
Pada hari itu, “lima makanan pembuka” diperintahkan, ditekankan pada tahun 2020, otoritas pengawasan Penuntutan Umum Konfederasi (AS-MPC).
