Sosial & Budaya

Puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono

Lukni Maulana
×

Puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono

Sebarkan artikel ini
hujan bulan juni
Sapardi Djoko Darmono/Foto: Kompas.com

Penulis puisi Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Darmono ulang tahun ke-83 dirayakan Google Doodle.

BARISAN.CO – Google Doodle hari ini turut merayakan Ulang Tahun ke-83 sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Darmono. Sosok pelopor puisi liris di Indonesia dan salah satu puisinya yang populer yakni puisi berjudul Hujan Bulan Juni dan bertransformasi dari puisi ke Novel dengan judul yang sama.

Sapardi Djoko Damono selain sebagai penyair, ia juga seorang dosesn, kritikus sastra, dan penulis yang produktif menghasilkan puisi maupun novel. Tokoh sastra Indonesia ini dilahirkan di Solo, 20 Maret 1940 dari pasangan Sadyoko dan Saparian.

Pendidikannya dijalani melallui Sekolah Rakyat (SR) Kraton Kasatriyan, lalu melanjutkan di SMP Negeri II Solo. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, Sapardi Djoko Damono melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan di Universitas Gadjah Mada, ia mengambil jurusan Sastra Inggris.

Sastrawan yang dikenal di duni internasional ini merupakan sosok guru besar di Fakultas Sastra, gelarnya dikukuhkan pada tahun 1995. Sapardi Djoko Damono pensisun sebagai dosen dan guru besar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia tahun 2005.

Beragam pengalaman berorganisasi dan sosok yang terlibat diberbagai aktvitas, Sapardi Djoko Damono pernah menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia, redaksi majalah sastra Horison, Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, anggota Dewan Kesenian Jakarta, sebagai anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia.

Selain itu juga Sekretaris Yayasan Lontar, Ketua Pelaksana Pekan Apresiasi Sastra 1988 dan mendirikan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI). Selain mendirikan HISKI, Sapardi Djoko Damono juga terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat, bahkan selama tiga periode.

Adapun karya-karya Indonesia Sapardi Djoko Darmono selain Hujan Bulan Juni (1994) yakni Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983). Juga buku, Sihir Hujan (1984), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003).

Pada tahun 2021 terbit kumpulan cerpennya berjudul Pengarang Telah Mati. Tahun 2009 terbit kumpulan sajaknya yang berjudul Kolam. Dan beragam karya lainnya atas kepakarannya sebagai ahli sastra Indonesia, seperti buku Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999) dan Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999).

Adapun karya Sapardi Djoko Damono yang fenomenal yakni syair puisi berjudul Hujan Bulan Juni, berikut puisinya:

Hujan Bulan Juni
Karya Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan di bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Demikianlah sekilas sosok Sapardi Djoko Darmono yang ulang tahun ke-83 di rayakan Google Doodle.