Iblis memiliki dua senjata mematikan yang ditujukan khusus bagi mereka yang rajin beribadah riya’ dan ujub. Jika kita tidak waspada, sifat ini bisa menggugurkan amalan-amalan yang kita kerjakan dengan susah payah
BARISAN.CO – Ujub adalah sebuah sifat yang berbahaya bagi setiap orang yang beramal shalih. Dalam Islam, ujub diartikan sebagai perasaan bangga atau takjub terhadap diri sendiri atas apa yang telah dilakukan atau dicapai, terutama dalam hal ibadah.
Ketika seseorang merasa ujub, ia mulai menganggap bahwa amalannya, pencapaiannya, atau dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain, sehingga secara tidak sadar, ia merasa lebih baik di hadapan Allah.
Hal ini jelas merupakan sebuah penyakit hati yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama karena ujub dapat menggugurkan pahala dari amal shalih yang telah dikerjakan dengan susah payah.
Iblis, sebagai musuh utama manusia, kerap menggunakan ujub untuk menjebak mereka yang sudah rajin beribadah. Bagi Iblis, orang yang sudah tekun dalam beribadah namun memiliki sifat ujub sangat berpotensi tergelincir dan terjauh dari rahmat Allah.
Bahkan, orang-orang shalih pun bisa terjerat dalam ujub jika tidak berhati-hati. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mubaarok rahimahullah:
وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ
“Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260).
Ujub bukan hanya merusak hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga dapat menimbulkan kehancuran dalam kehidupan sosial karena menumbuhkan kesombongan dalam hati.
Sifat ini dapat terjadi dalam berbagai situasi, terutama saat seseorang merasa lebih baik dalam ibadah atau pencapaian duniawi.
Salah satu contoh ujub adalah ketika seseorang merasa bangga karena mampu melaksanakan ibadah dengan lebih banyak atau lebih khusyuk dibandingkan orang lain.
Misalnya, seseorang yang sering berpuasa sunnah atau rajin bangun malam merasa bahwa ibadahnya lebih bernilai daripada ibadah orang lain, sehingga ia mulai menilai rendah orang-orang di sekitarnya yang mungkin tidak melaksanakan ibadah tersebut.
Contoh lain adalah dalam hal pencapaian duniawi, seperti keberhasilan dalam pendidikan atau karier. Ketika seseorang merasa lebih pintar, lebih sukses, atau lebih berprestasi daripada orang lain, lalu menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan pujian, ini juga merupakan bentuk ujub.
Padahal, segala pencapaian dalam hidup adalah karunia dari Allah, bukan semata-mata hasil dari usaha pribadi. Ujub bisa muncul dengan halus tanpa disadari, terutama dalam aspek-aspek kehidupan yang berhubungan dengan keberhasilan atau pencapaian pribadi.
Oleh karena itu, menjaga diri dari ujub sangat penting agar amal dan pencapaian kita tetap diterima oleh Allah.
Perbedaan Ujub dan Sombong
Ujub dan sombong sering kali disalahartikan sebagai sifat yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Ujub adalah perasaan bangga atau takjub terhadap diri sendiri, sementara sombong adalah perasaan meremehkan orang lain. Dalam ujub, seseorang hanya terfokus pada dirinya sendiri, merasa puas dengan amal atau pencapaiannya, tanpa memperhatikan orang lain.
Sementara itu, dalam sombong, seseorang tidak hanya bangga terhadap dirinya, tetapi juga merendahkan orang lain, merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain.
Perbedaan utama antara ujub dan sombong adalah bahwa ujub lebih bersifat internal, terkait dengan perasaan dan pemikiran seseorang terhadap dirinya sendiri.
Orang yang ujub mungkin tidak menunjukkan sikap merendahkan orang lain secara terang-terangan, tetapi dalam hatinya, ia merasa lebih baik.
Di sisi lain, sombong cenderung lebih terlihat dari sikap dan perilaku seseorang, misalnya dengan meremehkan orang lain atau memandang rendah mereka.
Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
Dari Abdullah bin Mas’ûd, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (HR. Muslim).
Orang yang terjangkiti penyakit ujub biasanya memiliki beberapa ciri-ciri yang khas. Salah satu ciri utamanya adalah merasa bangga terhadap amalan ibadah atau pencapaian duniawi yang telah ia lakukan.
Ia sering kali merasa bahwa usahanya adalah penyebab utama dari segala keberhasilannya, tanpa menyadari bahwa segala sesuatu datang dari Allah.
Misalnya, seseorang yang sering berderma akan merasa bahwa karena dirinya yang dermawan, ia lebih mulia di mata Allah dibandingkan dengan orang lain yang mungkin tidak seaktif dirinya dalam bersedekah.
Ciri-ciri lain yakni ketidakinginan untuk mengakui kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Orang yang memiliki penyakit ini sulit menerima kritikan dan cenderung membela diri jika ada yang menunjukkan kekurangan atau kesalahannya.
Ia lebih suka mendengarkan pujian daripada nasihat, dan hal ini membuatnya semakin jauh dari introspeksi diri.
Bahkan, dalam beribadah, orang yang ujub sering kali merasa bahwa ibadah yang ia lakukan sudah sempurna dan tidak perlu ditingkatkan lagi, karena ia menganggap dirinya sudah cukup baik di mata Allah.
Sifat ini sangat berbahaya karena bisa menggugurkan amalan-amalan yang telah dilakukan. Iblis menggunakan sifat tersebut sebagai senjatanya untuk menyesatkan orang-orang yang taat beribadah.
Mereka yang rajin shalat, puasa, dan bersedekah pun bisa terjerumus jika tidak berhati-hati. Oleh karena itu, introspeksi diri dan senantiasa mengingat bahwa segala sesuatu adalah karunia dari Allah merupakan langkah penting untuk menjaga diri dari sifat ujub. []





