Scroll untuk baca artikel
Religi

Bacaan Qasidah al-Munfarijah: Wirid Ijazah KH Sahal Mahfudz yang Menenteramkan Hati

×

Bacaan Qasidah al-Munfarijah: Wirid Ijazah KH Sahal Mahfudz yang Menenteramkan Hati

Sebarkan artikel ini
Bacaan Qasidah al-Munfarijah
Ilustrasi

Qasidah al-Munfarijah bukan sekadar syair doa ia adalah napas ketenangan yang diwariskan KH Sahal Mahfudz kepada para santri untuk melewati segala kesempitan hidup.

BARISAN.CO – Dalam tradisi pesantren di Indonesia, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama, terdapat berbagai wirid dan amalan klasik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu amalan populer adalah Qasidah al-Munfarijah, sebuah syair doa yang memohon keluasan rezeki, kemudahan urusan, dan keselamatan dari berbagai kesempitan hidup.

Amalan ini semakin dikenal luas karena sering dibaca, dijelaskan, atau direkomendasikan oleh para ulama besar, termasuk KH MA Sahal Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, sekaligus Rais Aam PBNU.

Meskipun KH Sahal Mahfudz bukan penyusun qasidah tersebut, beliau sering menekankan nilai spiritual dan sosial dari amalan-warisan ulama salaf.

Di beberapa pengajian dan kesempatan ijazah, Kiai Sahal menganjurkan pembacaan amalan seperti Burdah, Barzanji, al-Munfarijah, dan syair-syair ketenangan hati lainnya sebagai sarana riyadhah rohani, pendidik kepekaan batin, sekaligus bagian dari tradisi keilmuan yang mengakar pada kitab-kitab klasik.

Asal-Usul Qasidah al-Munfarijah

Qasidah al-Munfarijah (juga dikenal sebagai al-Farajiyyah) merupakan syair karya ulama besar Syaikh Yusuf bin Muhammad at-Tazi, seorang sufi dan penyair abad pertengahan.

Qasidah ini berisi bait-bait doa dan tawassul kepada Allah melalui amalan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, yang diyakini membawa al-faraj (kelapangan) dari segala kesulitan.

Syairnya dikenal indah, ritmis, dan sarat makna:

  1. memohon dibukakan pintu-pintu kemudahan,
  2. memohon dilepaskan dari kesempitan,
  3. meminta turunnya ketenangan hati,
  4. serta menegaskan bahwa pertolongan Allah datang melalui kecintaan kepada Nabi.

Tidak mengherankan bila syair ini populer di dunia pesantren, terutama ketika seorang santri sedang menghadapi ujian hidup atau membutuhkan ketenangan batin.

KH Sahal Mahfudz dikenal sebagai ulama yang memadukan fikih sosial dan spiritualitas klasik. Beliau tidak pernah memutus tradisi riyadhah para kiai terdahulu, tetapi menempatkannya dalam kerangka etika, keseimbangan hidup, dan kebermanfaatan sosial.

Ada beberapa alasan mengapa beliau kerap memberi ijazah atau menganjurkan bacaan seperti Qasidah al-Munfarijah:

  1. Agar santri memiliki ketenangan batin

Kiai Sahal berkeyakinan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kejernihan batin. Syair-syair seperti al-Munfarijah membantu menata hati, meredakan kecemasan, dan menumbuhkan harapan.

  1. Menguatkan akhlak melalui shalawat

Isi qasidah ini sangat menekankan shalawat kepada Nabi. Dalam tradisi Kiai Sahal, mencintai Rasul menjadi dasar moral seorang santri. Pembiasaan shalawat membangun karakter kelembutan, kesabaran, dan penghargaan terhadap ilmu.

  1. Menghidupkan sanad keilmuan pesantren

Walaupun ijazah amalan bukan kewajiban, Kiai Sahal selalu menjaga jalur transmisi tradisi. Dengan membacakan qasidah ini bersama para santri, beliau menunjukkan bahwa warisan para ulama klasik tetap relevan bagi kehidupan modern.

  1. Sebagai sarana mengatasi kesempitan hidup

Qasidah al-Munfarijah sejak dahulu dikenal sebagai amalan daf‘ul bala’, yaitu permohonan agar Allah mengangkat kegundahan, kesulitan ekonomi, maupun tekanan hidup. Kiai Sahal sering menganjurkan amalan yang memiliki nilai psikologis dan spiritual semacam ini.

Manfaat dan Kandungan Makna Qasidah al-Munfarijah

Secara umum, qasidah ini mengandung tiga pesan utama:

  1. Kesulitan hidup adalah bagian dari perjalanan rohani

Bait-baitnya mengajarkan bahwa tidak ada kesempitan kecuali di baliknya tersimpan kelapangan. Jiwa yang sabar dan terus berdoa akan merasakan pertolongan Allah pada waktunya.

  1. Bersandar pada syafaat Nabi

Qasidah ini penuh dengan pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ini mengajarkan bahwa jalan menuju ketenangan adalah mengikuti akhlak dan jejak beliau.

  1. Harapan yang terus hidup

Al-Munfarijah adalah syair tentang optimisme. Ia tidak membiarkan pembacanya tenggelam dalam keluh-kesah, tetapi terus mendorong untuk menggantungkan harapan kepada Allah Yang Maha Melapangkan.

Tidak mengherankan jika banyak santri, jamaah majelis taklim, dan warga NU membaca qasidah ini ketika dilanda masalah, menghadapi ujian sekolah, mengalami tekanan ekonomi, atau bahkan sekadar untuk menenangkan hati.

Cara Mengamalkan Qasidah al-Munfarijah

Meskipun masing-masing kiai atau guru memiliki versi ijazah yang berbeda, secara umum amalan ini dibaca:

  • setelah shalat fardhu atau shalat malam,
  • dengan niat memohon kelapangan,
  • dengan tata krama yang baik: wudhu, duduk menghadap kiblat, dan hati yang khusyuk.

Beberapa kiai mengijazahkan untuk dibaca 3×, 7×, atau 11×, tergantung tujuan dan kebutuhan rohani.

KH Sahal Mahfudz sendiri menekankan bahwa keberkahan amalan bukan pada jumlahnya, tetapi pada ketulusan hati, adab membaca, dan kedisiplinan santri dalam menjalani hidup.

Bacaan Qasidah al-Munfarijah

Qasidah al-Munfarijah bukan sekadar syair klasik. Ia adalah warisan spiritual yang membuat jutaan santri merasa dekat dengan Allah, lebih kuat menghadapi masalah hidup, dan lebih tenang dalam perjalanan rohani.

Melalui penjelasan dan anjuran ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, qasidah ini menjadi bagian penting dari tradisi pesantren tradisi yang menyatukan cinta, doa, dan harapan.

Jika dibaca dengan hati yang jernih, qasidah ini tidak hanya melapangkan urusan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi siapa saja yang mengingat-Nya. []