Kunjungan sederhana justru menghadirkan pelajaran mendalam tentang makna silaturahmi dan kehidupan yang dihidupkan
Oleh: Imam Trikarsohadi
AHAD pagi, 11 Januari 2026, di tengah cuaca Jakarta dan sekitarnya yang amat fluktuatif kadang mendung, hujan tiba-tiba turun, sesekali disertai angin kencang KH Ahmad Syaikhu, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini menjabat Wakil Ketua Majelis Syura, berkunjung ke rumah saya.
Seperti kebiasaannya, ia datang dengan pola “serangan mendadak”: menelepon ketika posisinya sudah berada tepat di depan pagar rumah. Yang membuat saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ia datang sendirian dengan bersepeda, menembus ancaman hujan dan cuaca yang sulit diprediksi, menempuh jarak lebih dari 15 kilometer.
Dengan usia yang telah memasuki kepala enam, itu tentu bukan perkara ringan, kecuali bagi seseorang yang terbiasa menjaga stamina dan disiplin hidup. Belum lagi risiko perjalanan di jalanan Jabotabek yang kerap sradag-srudug dan penuh kejutan.
Pertanyaan pun mengemuka di benak saya: ada misi apa yang membuat beliau datang dengan cara yang bagi banyak orang terutama yang tak terbiasa bersepeda bisa dibilang “ngaboti”?
Namun setelah duduk di ruang tamu, tak ada pesan politik, tak ada agenda khusus. Yang hadir justru senda gurau khas Cirebonan, obrolan ringan yang utek uplek dan mengalir apa adanya. Tak lama kemudian, beliau pamit pulang.
Ada sedikit risau di hati saya saat mengantarnya ke pintu gerbang. Langit tampak menggayutkan mendung yang kian pekat.
Sepeninggalnya, saya merenung seperti biasa, berdialog dengan diri sendiri bahwa ternyata masih ada di dunia ini orang yang bersilaturahmi tanpa motif apa pun, selain nilai silaturahmi itu sendiri.
Dari peristiwa sederhana ini, keyakinan saya kian menguat bahwa silaturahmi lebih dari sekadar bertemu. Ia adalah praktik spiritual dan sosial untuk menjaga harmoni, mempererat persaudaraan, serta menciptakan kebersamaan.
Silaturahmi berakar pada nilai-nilai nrimo, kebersamaan, dan kesediaan menghidupkan hubungan antarmanusia sebuah laku yang membuat hidup lebih bermakna dan sejahtera.
Konsep utamanya adalah menjaga harmoni dan kebersamaan. Silaturahmi menjadi manifestasi nilai komunal, di mana individu saling menopang dan membangun kekuatan bersama.
Ia juga bersifat ngurip-uripake memberi kehidupan, memastikan hubungan tidak “sekarat kadal”. Sebuah filosofi untuk terus menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi sesama dan semesta, sejalan dengan ajaran Islam tentang memelihara kehidupan.
Silaturahmi ala KH Ahmad Syaikhu juga mengisyaratkan kesederhanaan dan kerukunan. Kebahagiaan tidak bertumpu pada kemewahan, melainkan pada kebersamaan dan berbagi, sejalan dengan prinsip alon-alon waton kelakon pelan-pelan asal tercapai.








