Ilmu bagi Imam Syafi’i bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan hidup yang menentukan makna mati dan hidup manusia.
BARISAN.CO – Imam Syafi’i dikenal bukan hanya sebagai ulama besar dalam bidang fiqh, hadis, dan ushul fiqh, tetapi juga sebagai seorang penyair ulung. Karya-karyanya mencakup nasihat moral, renungan tentang ilmu dan kehidupan, serta peringatan akan kematian.
Syair-syair ini termuat dalam Diwan al-Imam asy-Syafi’i, sebuah kumpulan bait-bait puisi yang sarat hikmah dan sering dikutip dalam kajian literatur Islam klasik dan modern.
Dalam buku Untaian Mutiara Hikmah dan Petunjuk Hidup Imam Asy-Syafi’i karya Muhammad Ibrahim Salim, dijelaskan bahwa syair-syair Imam Syafi’i mencerminkan kedalaman akhlak dan pemikiran beliau, termasuk sikap beliau terhadap ilmu dan kehidupan dunia.
Beliau menyampaikan pesan moral dalam bentuk puisi karena bahasa syair memiliki daya ungkap yang kuat untuk menyentuh jiwa pembaca.
Imam Syafi’i sendiri menghasilkan banyak karya ilmiah, termasuk Diwan al-Imam asy-Syafi’i yang berisi syair-syairnya.
Kitab ini telah dicetak dalam berbagai edisi oleh penerbit klasik, termasuk Darul Ghod Al-Jadid, dan menjadi rujukan bagi penuntut ilmu dan penulis kajian sastra Islam.
Syair Imam Syafi’i tentang Ilmu
Salah satu syair klasik Imam Syafi’i yang sering dikutip mengenai ilmu adalah:
ومن لم يذق ذُل التعلم ساعة
تجرع ذُل الجهل طول حياته
“Barang siapa yang tidak pernah merasakan kehinaan saat menuntut ilmu selama sesaat, dia akan menelan kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya.”
ومن فاتَهُ التعليم وقت شبابه
فكبرَ عليه أربعا لوفاته.
“Barang siapa melewatkan waktu belajar di masa muda, maka keluarlah takbir sebanyak empat kali atas kematiannya.”
Syair ini menggambarkan betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang Muslim. Imam Syafi’i menggunakan metafora “kehinaan” untuk menegaskan bahwa menerima proses belajar yang kadang berat jauh lebih baik daripada hidup dalam kebodohan selamanya.
Sementara itu, pengabaian ilmu di masa muda digambarkan seakan kematian telah terjadi sejak dini. Sebagian ulama dan peneliti menyebut syair ini sebagai bagian dari Diwan al-Imam asy-Syafi’i.
Syair tentang Kematian dan Renungan Hidup
Imam Syafi’i juga menulis syair yang mengingatkan tentang ketidakpastian hidup dan kepastian kematian. Contoh syair yang memuat tema ini adalah:
وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ الْمَنَايا
فلا أرضٌ تَقيهِ ولا سماءُ
“Siapapun yang ditimpa janji kematian, maka tiada bumi yang dapat melindunginya dan tiada langit yang menahan takdirnya.”
وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً وَلَكِنْ
إذا نَزَلَ الْقَضَا ضَاقَ الْفَضَاءُ.
“Bumi Allah amat luas, tetapi ketika takdir (kematian) turun, ruang terasa sempit.”
Bait-bait ini mengingatkan bahwa kematian adalah suatu kepastian bagi setiap insan, tanpa terkecuali. Baik kaya atau miskin, kuat atau lemah, semua akan melewati momen perpisahan antara dunia dan akhirat.
Syair-syair semacam ini sering dibahas dalam kajian etik dan spiritualitas Islam sebagai upaya menumbuhkan kesadaran akan sifat fana dunia.
Makna dan Hikmah Syair Imam Syafi’i
Syair-syair Imam Syafi’i tentang ilmu dan kematian bukan sekadar ungkapan seni, tetapi penuh makna pendidikan spiritual.
Ilmu bagi Imam Syafi’i bukan hanya sekadar pengetahuan, melainkan suatu amanah dan jalan menuju derajat kemuliaan.
Ia menekankan bahwa seseorang yang tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu akan mengalami beban kebodohan sepanjang hidupnya, sedangkan kematian adalah realitas yang harus disadari untuk memperbaiki amal dan akhlak sebelum tiba saatnya.
Imam Syafi’i juga menunjukkan melalui syair bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, dan setiap insan harus siap menghadapi kematian dengan bekal ilmu dan amal yang bermanfaat.
Syair-syair semacam ini terus dipelajari dalam kajian sastra dan ilmu agama, terutama oleh penuntut ilmu yang ingin memperdalam pemahaman tentang nilai hidup dan akhirat. []









