Keragaman agama dan budaya Indonesia divisualkan lewat dokumenter kolaborasi internasional yang menyoroti hidup berdampingan.
BARISAN.CO – Tim mahasiswa Universitas Paramadina merilis film dokumenter berjudul Diafora: A Coexistence in Indonesia melalui kanal YouTube Sunday Diversity.
Dokumenter ini merupakan bagian dari proyek kolaborasi internasional dengan Uni Emirat Arab yang bertujuan memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat global sebagai negara dengan keragaman agama dan budaya yang hidup berdampingan dalam satu ruang sosial.
Film dokumenter ini mengangkat isu keberagaman dan kehidupan lintas iman di Indonesia melalui pendekatan visual yang dekat dengan realitas sehari-hari.
Narasi yang disajikan menegaskan bahwa konsep coexistence atau hidup berdampingan tidak dimaknai sebagai penghapusan perbedaan, melainkan sebagai upaya mengelola perbedaan dengan sikap saling menghargai.
Keberagaman diposisikan sebagai kondisi alami masyarakat Indonesia yang tidak perlu diseragamkan.
Salah satu narasumber dalam dokumenter tersebut, Titis selaku Altar Server Coordinator, menekankan bahwa keberagaman merupakan kondisi dasar manusia sejak lahir.
Menurutnya, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan realitas yang harus diterima dan dihormati.
“Sejak kita lahir, kita memang berbeda. Keberagaman itu harus ada dan tidak harus selalu menjadi sama. Pada dasarnya, yang paling penting adalah menghargai. Menghargai perbedaan jauh lebih indah daripada memaksakan kehendak,” ujar kepada Barisan.co, Kamis (29/01/2026)
Selain menampilkan praktik hidup berdampingan, film ini juga mengangkat sisi lain dari dinamika keberagaman di Indonesia, termasuk potensi konflik yang kerap muncul akibat eksploitasi isu-isu sensitif.
Prem Singh, tokoh agama Sikh yang turut menjadi narasumber, menyampaikan bahwa konflik sosial sering kali tidak bersumber dari perbedaan itu sendiri, melainkan dari kepentingan tertentu yang memanfaatkan isu identitas.
“Sering kali ada isu-isu tertentu yang sengaja digunakan untuk menimbulkan konflik. Banyak penelitian, termasuk dari teman-teman NGO, menunjukkan bahwa isu seperti ini kerap diangkat dan diviralkan untuk kepentingan tertentu, misalnya dalam momentum politik seperti pemilihan,” jelas Prem Singh.
Ia juga menegaskan bahwa menjaga kebersamaan dan kebinekaan membutuhkan upaya berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, dialog lintas iman dan pengakuan terhadap kelompok minoritas menjadi bagian penting dalam memperkuat kohesi sosial di Indonesia.
“Harapan kami ke depannya, kita bisa terus menjaga kebersamaan, keberagaman, dan kebinekaan yang ada di Indonesia. Selain itu, kami juga berharap agama Sikh dapat semakin dikenal dan diakui secara formal di Indonesia,” tambahnya.
Proses pengambilan gambar dokumenter Diafora dilakukan di sejumlah ruang ibadah dan kawasan multikultural di Jakarta.
Beberapa lokasi yang ditampilkan antara lain Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta, Pura Adhitya Jaya Rawamangun, kawasan Glodok sebagai pusat Pecinan Jakarta, serta Gurdwara Guru Nanak Sikh Temple Jakarta.
Lokasi-lokasi tersebut merepresentasikan ruang perjumpaan lintas agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat urban.
Melalui kanal Sunday Diversity, tim mahasiswa Universitas Paramadina berharap film dokumenter ini dapat menjadi ruang refleksi bersama bahwa hidup berdampingan tidak selalu berarti tanpa gesekan.
Namun, diperlukan kesadaran, literasi keberagaman, dan komitmen bersama untuk terus saling menghargai di tengah perbedaan.
Film dokumenter Diafora: A Coexistence in Indonesia kini dapat disaksikan secara publik melalui kanal YouTube Sunday Diversity. []









