Scroll untuk baca artikel
Pojok

Arti Kalender Jawa: Sejarah, Dasar Perhitungan, Fungsi, dan Makna Penanggalan Jawa

×

Arti Kalender Jawa: Sejarah, Dasar Perhitungan, Fungsi, dan Makna Penanggalan Jawa

Sebarkan artikel ini
Arti Kalender Jawa
Ilustrasi AI Gemini

Arti kalender Jawa, sejarah, dasar perhitungannya, hingga fungsi penanggalan Jawa yang masih digunakan sampai sekarang.

BARISAN.CO – Arti kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menentukan hari, bulan, tahun, hingga waktu yang dianggap baik dalam berbagai aktivitas.

Kalender Jawa disusun berdasarkan perpaduan ilmu astronomi, budaya, serta tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hingga saat ini, kalender Jawa masih digunakan dalam berbagai keperluan adat, pernikahan, ritual budaya, hingga perhitungan primbon.

Selain dikenal sebagai penanggalan tradisional, kalender Jawa juga disebut sebagai penanggalan Jawa Candrasangkala, yaitu sistem penanggalan yang mengacu pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Sistem ini kemudian dipadukan dengan unsur budaya Jawa sehingga menghasilkan perhitungan waktu yang unik dan berbeda dari kalender Masehi.

Apa Itu Kalender Jawa?

Kalender Jawa merupakan sistem penanggalan yang berkembang di Pulau Jawa dan digunakan untuk menentukan hari, pasaran, wuku, hingga musim.

Tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, kalender ini juga memiliki nilai filosofis dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Dalam praktiknya, kalender Jawa menjadi pedoman untuk menentukan hari baik dalam berbagai kegiatan, seperti:

  • Pernikahan
  • Khitanan
  • Mendirikan rumah
  • Upacara adat
  • Selamatan
  • Tradisi keagamaan
  • Perhitungan weton

Sejarah Kalender Jawa

Sejarah kalender Jawa telah mengalami perkembangan panjang sejak zaman kuno. Menurut sejumlah sumber, sistem penanggalan Jawa pertama kali diperkenalkan oleh Mpu Hubayun sekitar tahun 911 sebelum Masehi.

Kemudian, sekitar tahun 50 SM, Prabu Sri Mahapunggung I atau Ki Ajar Padang I melakukan penyempurnaan terhadap aksara dan sastra Jawa. Pada masa tersebut, masyarakat Jawa masih menggunakan sistem penanggalan bulan atau kalender lunar.

Memasuki abad ke-10, pada masa Kerajaan Majapahit, berkembang sistem Kalender Tahun Saka, yaitu perpaduan antara kalender bulan dan kalender matahari. Kalender ini menggunakan Tahun Saka yang dimulai pada tahun 78 Masehi.

Perubahan terbesar terjadi pada masa Kesultanan Mataram Islam sekitar abad ke-16. Saat itu, lahirlah kalender Jawa modern yang merupakan hasil perpaduan antara Kalender Saka dengan sistem penanggalan Islam. Sistem inilah yang masih digunakan hingga sekarang.

Dasar Perhitungan Kalender Jawa

Dasar perhitungan kalender Jawa menggunakan dua siklus hari yang berjalan secara bersamaan, yaitu:

  • Siklus mingguan tujuh hari (Ahad hingga Sabtu)
  • Siklus pasaran lima hari (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon)

Perpaduan kedua siklus tersebut menghasilkan weton, yaitu kombinasi hari dan pasaran yang dipercaya memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa.

Selain itu, perhitungan kalender Jawa juga meliputi beberapa sistem berikut.

1. Pancawara (Pasaran)

Pancawara terdiri atas lima hari pasaran:

  • Legi
  • Pahing
  • Pon
  • Wage
  • Kliwon

2. Saptawara (Padinan)

Saptawara merupakan tujuh hari dalam satu minggu, yaitu:

  • Ahad
  • Senin
  • Selasa
  • Rabu
  • Kamis
  • Jumat
  • Sabtu

3. Sadwara (Paringkelan)

Sadwara adalah siklus enam hari yang digunakan dalam perhitungan tradisional tertentu.

4. Hastawara (Padewan)

Hastawara merupakan siklus delapan hari yang memiliki fungsi dalam perhitungan budaya Jawa.

5. Sangawara (Pedangon)

Siklus sembilan hari yang digunakan dalam beberapa perhitungan khusus.

6. Pakuwon atau Wuku

Pakuwon terdiri atas 30 wuku yang berputar selama 210 hari. Wuku sering digunakan dalam menentukan karakter seseorang maupun hari baik.

7. Tahun dan Windu

Kalender Jawa mengenal siklus delapan tahun yang disebut Windu. Setiap tahun memiliki nama tersendiri yang terus berulang.

8. Sasi Jawa

Satu tahun kalender Jawa terdiri dari 12 bulan atau Sasi Jawa, dengan jumlah hari antara 29 hingga 30 hari mengikuti siklus bulan.

9. Pranata Mangsa

Pranata Mangsa merupakan pembagian musim yang digunakan masyarakat Jawa, terutama petani, sebagai pedoman bercocok tanam berdasarkan kondisi alam.

Fungsi Kalender Jawa

Hingga sekarang, kalender Jawa masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, antara lain:

  • Menentukan hari baik untuk pernikahan.
  • Menghitung weton kelahiran.
  • Menentukan waktu membangun rumah.
  • Menjadi pedoman upacara adat.
  • Digunakan dalam tradisi keagamaan Jawa.
  • Menentukan waktu selamatan dan ritual budaya.
  • Menjadi dasar berbagai perhitungan primbon Jawa.

Filosofi Kalender Jawa

Kalender Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat penanggalan, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan. Sistem ini berlandaskan konsep Sangkan Paraning Bawana, yaitu asal-usul dan tatanan alam semesta.

Sementara itu, aksara Jawa disusun berdasarkan konsep Sangkan Paraning Dumadi, yang menggambarkan asal-usul kehidupan manusia. Kedua konsep tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Mengapa Kalender Jawa Masih Digunakan?

Meskipun kalender Masehi menjadi sistem penanggalan utama, kalender Jawa tetap digunakan karena memiliki nilai budaya yang tinggi. Banyak masyarakat Jawa masih mempercayai perhitungan weton, pasaran, dan wuku sebagai pedoman dalam mengambil keputusan penting.

Selain itu, kalender Jawa menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia yang terus dilestarikan melalui berbagai tradisi, upacara adat, hingga kegiatan keagamaan.

Kesimpulan

Arti kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang memadukan unsur astronomi, budaya, dan nilai spiritual masyarakat Jawa. Sejarahnya berkembang dari sistem penanggalan kuno, Kalender Saka, hingga dipadukan dengan kalender Islam pada masa Kesultanan Mataram.

Dengan berbagai komponen seperti pasaran, weton, wuku, pranata mangsa, sasi Jawa, dan windu, kalender Jawa masih menjadi pedoman penting dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. []