Scroll untuk baca artikel
Berita

Munajat Cinta 571, Gus Mus: Bersyukur Itu Menghajatkan Kesadaran Mendapat Anugerah

×

Munajat Cinta 571, Gus Mus: Bersyukur Itu Menghajatkan Kesadaran Mendapat Anugerah

Sebarkan artikel ini
gus mus bersyukur munajat cinta mtq nasional
H Musthofa Bisri menyampaikan Tausyiah Kebangsaan dalam gelaran Munajat Cinta 571, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Istighosah dan Sholawat Sukses MTQ Nasional XXXI di Balai Kota Semarang, Jumat (14/8/2026) malam.

Gus Mus mengajak masyarakat mensyukuri nikmat Allah SWT, termasuk menjadi manusia, beragama, dan hidup di Indonesia dalam Munajat Cinta 571 di Semarang.

BARISAN.CO – KH Mustofa Bisri atau Gus Mus mengajak masyarakat untuk memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT dengan menyadari setiap anugerah yang diterima dalam kehidupan.

Menurutnya, banyak orang tidak bersyukur bukan karena tidak mendapatkan nikmat, melainkan karena tidak menyadari bahwa dirinya sedang menerima anugerah.

Pesan tersebut disampaikan Gus Mus saat memberikan Tausyiah Kebangsaan dalam gelaran Munajat Cinta 571, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Istighosah dan Sholawat Sukses MTQ Nasional XXXI di Balai Kota Semarang, Jumat (14/8/2026) malam.

Gus Mus mengatakan, kesadaran terhadap anugerah merupakan bagian penting dari rasa syukur. Seseorang akan sulit bersyukur apabila tidak menyadari berbagai nikmat yang hadir dalam kehidupannya, termasuk nikmat yang setiap hari diterima tanpa disadari.

“Bersyukur itu menghajatkan kesadaran bahwa mendapat anugerah,” ujar Gus Mus.

Ia menjelaskan, banyak orang sebenarnya dikelilingi berbagai kenikmatan, tetapi karena berlangsung setiap hari, hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, menurutnya, kemampuan manusia untuk menikmati kehidupan merupakan anugerah besar dari Allah SWT.

Salah satu contoh paling sederhana adalah kemampuan bernapas.

“Hampir kita tidak pernah mensyukuri, kita bisa bernapas setiap saat, seolah-olah itu tidak nikmat yang besar,” katanya.

Menurut Gus Mus, manusia sering baru menyadari besarnya sebuah nikmat ketika nikmat tersebut berkurang atau hilang. Karena itu, kesadaran untuk melihat dan mengenali anugerah perlu terus dilatih agar rasa syukur tidak hanya menjadi ucapan, tetapi benar-benar tumbuh dalam diri.

Bersyukur Menjadi Orang Indonesia

Gus Mus kemudian mengajak jamaah melihat anugerah dalam lingkup yang lebih luas, yakni kesempatan hidup sebagai bangsa Indonesia.

Ia mengaku setiap kali berkunjung ke negara-negara maju justru semakin teringat dengan Indonesia. Perjalanan ke luar negeri membuatnya melihat kembali berbagai kelebihan yang dimiliki tanah air.

“Setiap datang ke negara maju itu saya teringat Indonesia, sebab saya merasakan betapa Allah itu memanjakan Indonesia dengan tanah air yang subur, manusianya yang ramah,” tuturnya.

Menurut Gus Mus, kesuburan tanah dan keramahan masyarakat Indonesia merupakan nikmat yang tidak boleh dianggap biasa. Keramahan tersebut bahkan menjadi salah satu karakter yang melekat pada masyarakat Indonesia.

“Itu tidak kita jumpai di negara lain, makanya bangsa Indonesia itu dikenal dengan bangsa yang tersenyum,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ada negara yang perlu melakukan berbagai upaya agar masyarakatnya terbiasa tersenyum. Sementara di Indonesia, keramahan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

“Di Indonesia enggak pernah latihan, orang-orangnya ramah-ramah. Ini adalah anugerah Allah SWT,” kata Gus Mus.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak hanya bersyukur atas nikmat yang bersifat pribadi, tetapi juga atas anugerah yang diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Dalam tausyiahnya, Gus Mus juga mengingatkan jamaah untuk menyadari keistimewaan sebagai manusia. Allah SWT, kata dia, memberikan manusia kemampuan berpikir, merasakan, sekaligus menyampaikan pikiran dan perasaan secara terperinci.

“Allah SWT menciptakan kita melebihi sebagian besar makhluk-makhluk-Nya. Diberi perasaan, pikiran dan kemampuan menyampaikan perasaan dan pikiran secara detail,” jelasnya.

Menurut dia, kemampuan tersebut dapat berkembang seiring dengan pengetahuan seseorang. Semakin banyak pengetahuan dan kosakata yang dimiliki, semakin luas pula kemampuan seseorang dalam mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan.

Selain menjadi manusia, Gus Mus menyebut kesempatan menjadi orang beragama juga merupakan nikmat yang perlu disyukuri.

Ia menjelaskan, agama memberikan manusia potensi untuk berbuat baik karena manusia memiliki nurani. Namun, nurani tersebut harus terus dipelihara agar tetap peka terhadap kebaikan dan keburukan.

“Orang beragama itu memiliki potensi baik, memiliki nurani yang hidup karena agamanya itu,” katanya.

Gus Mus mengingatkan, nurani yang tidak digunakan atau dibiarkan tanpa perhatian dapat kehilangan kepekaannya. Karena itu, pertemuan keagamaan dan kegiatan bersama seperti yang digelar malam itu dinilai penting untuk menjaga kehidupan batin dan kepedulian manusia.

“Kalau nurani dianggurkan atau dibiarkan tidak berfungsi, lama-lama kan mati rasa. Karena itu perlu kumpul-kumpul seperti ini agar nurani tidak mati,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika seseorang mampu menjaga nuraninya tetap hidup dan menjalankan agama dengan baik, potensi kebaikan dalam dirinya dapat berkembang dan memberi pengaruh kepada orang lain.

Atas berbagai nikmat tersebut, Gus Mus kembali mengajak jamaah untuk membangun kesadaran bersyukur, mulai dari hal yang paling dekat hingga anugerah yang lebih besar.

“Ini harus kita syukuri. Alhamdulillah kita jadi manusia, alhamdulillah kita jadi Indonesia,” ucapnya.

Munajat Cinta 571 Sambut MTQ Nasional XXXI

Gelaran Munajat Cinta 571 menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang pelaksanaan MTQ Nasional XXXI. Acara tersebut diawali dengan khataman Al-Qur’an dan Gema Khotmil Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, istighosah, sholawat, dan Tausyiah Kebangsaan.

Kegiatan tersebut menjadi momentum doa dan ungkapan syukur sekaligus bagian dari persiapan menyambut pelaksanaan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Semarang dan seluruh pihak terkait terus mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut para peserta dan tamu yang akan datang. Sekitar 8.000 orang diperkirakan hadir dalam rangkaian pelaksanaan MTQ Nasional tersebut.

“Kita harus siap menerima 8.000 orang yang akan hadir untuk melaksanakan MTQ. Kesiapan kita lakukan semaksimal mungkin, kita berdandan semaksimal mungkin,” ucap Wali Kota Smarang, Agustina Wilujeng dalam sambutannya 

Agustina melanjutkan, berbagai kegiatan yang dapat menambah semarak Kota Semarang juga terus digerakkan. Selain menyukseskan agenda keagamaan, pelaksanaan MTQ diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Para peserta dan tamu yang datang diharapkan dapat menikmati berbagai makanan khas dan kuliner Kota Semarang selama berada di ibu kota Jawa Tengah,” imbuhnya.

Dengan persiapan tersebut, pelaksanaan MTQ Nasional XXXI diharapkan tidak hanya menjadi momentum peningkatan syiar Al-Qur’an, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sebagai penutup Munajat Cinta 571, doa bersama dipimpin oleh KH Ubaidullah Shodaqoh. Doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar seluruh rangkaian persiapan dan pelaksanaan MTQ Nasional XXXI berjalan lancar dan sukses. []