Menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, qasidah karya KH Afifuddin Muhajir kembali bergema lewat suara Fira Azkiya, membawa pesan mahabbah, khidmah, dan doa untuk Nahdlatul Ulama.
BARISAN.CO – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, qasidah karya Rais Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir kembali mendapat perhatian. Kali ini, qasidah tersebut hadir dalam versi cover yang dibawakan vokalis Fira Azkiya.
Cover qasidah Muktamar NU tersebut mulai tayang pada 19 Agustus 2026 melalui kanal YouTube NU Online, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam bahan publikasi.
Versi ini menampilkan Fira Azkiya sebagai vokal, dengan produksi oleh Agung Setyo Utomo dan proses audio mixing oleh Sisyph3ann Record, Kamis (20/8/2026).
Kehadiran kembali qasidah tersebut bertepatan dengan momentum menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Penetapan Tambakberas sebagai tuan rumah diputuskan PBNU pada 7 Juli 2026.
Muktamar ke-35 NU menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi untuk merumuskan arah perjuangan dan khidmah Nahdlatul Ulama dalam lima tahun mendatang.
Momentum tersebut membuat berbagai ekspresi kebudayaan dan karya yang memiliki keterkaitan dengan tradisi serta perjalanan NU kembali memperoleh ruang di tengah warga Nahdliyin.
Qasidah tentang Mahabbah kepada Nahdlatul Ulama
Qasidah yang dinyanyikan kembali oleh Fira Azkiya bukan karya baru. Syair berbahasa Arab tersebut digubah KH Afifuddin Muhajir dalam rangka menyambut Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021.
Dalam keterangan yang pernah dimuat NU Online, KH Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa dorongan utama dirinya menciptakan syair tersebut adalah kecintaan atau mahabbah kepada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
“Yang mendorong saya untuk membuat syair ini tak lain adalah mahabbah saya terhadap Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Dengan harapan, jamiyyah ini menjadi sarana, menjadi jalan untuk mengantarkan saya untuk mendapatkan ridha Allah,” ungkap KH Afifuddin Muhajir.
Pada versi awal yang dipublikasikan untuk Muktamar ke-34 NU, qasidah tersebut memang ditempatkan sebagai karya yang merefleksikan kecintaan kepada NU. NU Online juga pernah memuat lirik lengkap qasidah beserta terjemah dan transliterasinya.
Kini, beberapa tahun setelah pertama kali diperkenalkan, qasidah itu kembali hadir dalam aransemen dan vokal yang berbeda melalui cover Fira Azkiya.
Kemunculan cover tersebut mendapat respons dari sejumlah pengguna media sosial. Akun @CakkMaan, misalnya, memberikan apresiasi terhadap syair yang ditulis KH Afifuddin Muhajir.
“Ya Allah, tenang anteng mendengar syair-syair Qasidah dari KH Afifuddin Muhajir.”
Respons lain datang dari akun @Nahdliyinnu3492 yang menilai KH Afifuddin Muhajir sebagai salah seorang kiai yang memiliki keteguhan dalam berkhidmat di NU.
“Kiai Afifudin Muhajir salah seorang kiai yang wara’ dan lurus dalam berNU.”
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa qasidah tidak hanya dipandang sebagai karya musikal, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan pesan tentang kecintaan, pengabdian, dan harapan terhadap perjalanan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Dari Syair tentang NU hingga Muktamar
Secara substansi, qasidah KH Afifuddin Muhajir memuat sejumlah tema yang dekat dengan identitas NU. Syair diawali dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, kemudian berlanjut pada doa untuk keluarga dan para sahabat Nabi.
Syair berikutnya menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, sebelum kemudian secara khusus menyebut Nahdlatul Ulama sebagai wasilah menuju ridha Allah.
Bagian tersebut berbunyi:
يَا نَهْضَةَ الْعُلَمَاءِ أَنْتِ وَسِيلَةً
يُوصَلُ بِهَا لِرِضَاءِ أَرْحَمِ رَاحِمِينَ
Ya Nahḍatal-‘Ulamā’i anti wasīlatun
Yūṣalu bihā liriḍā’i Arḥamir-Rāḥimīn.
Artinya, Nahdlatul Ulama digambarkan sebagai wasilah yang mengantarkan kepada ridha Allah, Dzat Yang Maha Pengasih.
Syair itu kemudian mengingatkan kembali pada sejarah berdirinya NU dan sosok KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama.
فَلَهَاشِمُ بْنُ أَشْعَرِيٍّ هُوَ شَيْخُنَا
قَامَ بِهَا وَيُعِينُهُ عَوْنُ الْمُعِينِ
Falā Hāsyimubnu Asy‘arī huwa syaikhunā
Qāma bihā wayu‘īnuhu ‘aunul-mu‘īn.
Pesan tentang khidmah juga tampak dalam bait berikutnya, ketika pengarang mendoakan orang-orang yang mengabdi kepada NU dengan ikhlas.
رَحِمَ امْرَأً اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ
يَخْدُمُ بِإِخْلَاصٍ لَهَا وَالْعَامِلِينَ
Raḥima imra’an Allāhu jalla jalāluhu
Yakhdumu biikhlāṣin lahā wal-‘āmilīn.
Kemudian, qasidah memasuki bagian yang sangat relevan dengan momentum Muktamar. Para ulama dan pemimpin NU digambarkan akan berkumpul dalam sebuah forum untuk membahas berbagai persoalan.
وَسَيَجْتَمِعُ عُلَمَاؤُهَا زُعَمَاؤُهَا
فِي مُؤْتَمَرٍ وَسَيَبْحَثُنَّ بَعْدَ حِينٍ
Wasayajtami‘u ‘ulamā’uhā zu‘amā’uhā
Fī mu’tamarin wasayabḥatsunna ba‘da ḥīn.
Bait penutup kemudian berisi doa agar Allah menyatukan warga NU dalam kepemimpinan yang amanah.
وَاللهُ نَرْجُو أَنْ يَجْمَعَ شَمْلَنَا
مَعْ مِنَّةٍ بِقِيَادَةِ الرَّأْسِ الْأَمِينِ
Wallāhu narjū an yajma‘a syamlanā
Ma‘a minmatin biqiyādatir-ra’sil-amīn.
Tema tersebut terasa kembali aktual ketika NU memasuki persiapan Muktamar ke-35 di Tambakberas. Forum lima tahunan itu akan mempertemukan para ulama, pengurus, dan utusan NU dari berbagai daerah untuk membahas arah organisasi dan khidmah NU ke depan.
Lirik Qasidah Muktamar NU Karya KH Afifuddin Muhajir
Berikut teks Arab qasidah sebagaimana bahan yang beredar, disertai transliterasi dan terjemahannya:
الحَمْدُ لِلَّهِ مُرَبِّي الْعَالَمِينَ * وَصَلَاتُهُ أَبَدًا عَلَى النُّورِ الْأَمِينِ
Alḥamdulillāhi murabbil-‘ālamīn, wa ṣalātuhu abadan ‘alan-nūril-amīn.
Segala puji bagi Allah, Sang Pengatur alam semesta. Semoga rahmat ta’zhim Allah selamanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang cahaya yang terpercaya.
وَالْآلِ وَالصَّحْبِ الْكِرَامِ الطَّاهِرِينَ * وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِخَيْرٍ أَجْمَعِينَ
Wal-āli waṣ-ṣaḥbil-kirāmit-ṭāhirīn, wat-tābi‘īna lahum bikhairin ajma‘īn.
Semoga rahmat juga tercurahkan kepada keluarga dan sahabat Nabi yang luhur nan suci serta para pengikutnya.
فَضْلٌ مِنَ اللهِ عَلَى هَذِي الْبِلَادِ * سُكَّانُهَا جُلًّا فَكَانُوا مُسْلِمِينَ
Faḍlun minallāhi ‘alā hādhihil-bilād, sukkānuhā jullān fakānū muslimīn.
Adalah anugerah dari Allah untuk negeri ini, mayoritas penduduknya adalah kaum Muslim.
أَسْعِدْ بِهِمْ أَيْمِنْ بِهِمْ فِي دَوْلَةٍ * قَوِيَتْ وَذُبَّتْ مُفْعَمَةً بِالنَّاهِضِينَ
As‘id bihim, aymin bihim fī daulatin, quwiyat wa dhubbat muf‘amātan bin-nāhiḍīn.
Betapa bahagia dan beruntung mereka berada di sebuah negara yang kuat dan dibela penuh oleh Nahdliyin.
يَا نَهْضَةَ الْعُلَمَاءِ أَنْتِ وَسِيلَةٌ * يُوصَلُ بِهَا لِرِضَاءِ أَرْحَمِ رَاحِمِينَ
Yā Nahḍatal-‘Ulamā’i anti wasīlatun, yūṣalu bihā liriḍā’i Arḥamir-Rāḥimīn.
Wahai Nahdlatul Ulama, engkau adalah wasilah yang mengantarkan pada ridha Allah, Dzat Maha Pengasih.
تَأْسِيسُهَا تَمَّ عَلَى أَيْدِي الْكِرَامِ * عُلَمَائِنَا فُقَهَائِنَا وَالْعَارِفِينَ
Ta’sīsuhā tamma ‘alā aydil-kirām, ‘ulamā’inā fuqahā’inā wal-‘ārifīn.
Nahdlatul Ulama berdiri kokoh di tangan para ulama, fuqaha, dan arifin billah.
فَلَهَاشِمُ بْنُ أَشْعَرِيٍّ هُوَ شَيْخُنَا * قَامَ بِهَا وَيُعِينُهُ عَوْنُ الْمُعِينِ
Falā Hāsyimubnu Asy‘arī huwa syaikhunā, qāma bihā wayu‘īnuhu ‘aunul-mu‘īn.
Sungguh KH Hasyim Asy’ari, yang merupakan guru kita semua. Beliaulah pendiri Nahdlatul Ulama atas pertolongan Allah SWT.
رَحِمَ امْرَأً اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ * يَخْدُمُ بِإِخْلَاصٍ لَهَا وَالْعَامِلِينَ
Raḥima imra’an Allāhu jalla jalāluhu, yakhdumu biikhlāṣin lahā wal-‘āmilīn.
Semoga Allah merahmati mereka yang dengan ikhlas berkhidmat untuk NU serta beramal baik di dalamnya.
وَسَيَجْتَمِعُ عُلَمَاؤُهَا زُعَمَاؤُهَا * فِي مُؤْتَمَرٍ وَسَيَبْحَثُنَّ بَعْدَ حِينٍ
Wasayajtami‘u ‘ulamā’uhā zu‘amā’uhā, fī mu’tamarin wasayabḥatsunna ba‘da ḥīn.
Para ulama dan pimpinan Nahdlatul Ulama akan segera berkumpul dalam sebuah muktamar. Mereka akan mencari solusi atas berbagai problematika umat.
وَاللهُ نَرْجُو أَنْ يَجْمَعَ شَمْلَنَا * مَعْ مِنَّةٍ بِقِيَادَةِ الرَّأْسِ الْأَمِينِ
Wallāhu narjū an yajma‘a syamlanā, ma‘a minmatin biqiyādatir-ra’sil-amīn.
Duhai Allah, kumpulkan kami dalam keagungan anugerah, dengan kepemimpinan dari para pemimpin yang terpercaya.
Menghubungkan Karya Lama dengan Muktamar Ke-35
Meski lahir untuk menyambut Muktamar ke-34 NU di Lampung, pesan qasidah tersebut kembali menemukan konteksnya menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.
Pilihan kata tentang pertemuan ulama, kepemimpinan, khidmah, dan harapan agar NU menjadi jalan menuju ridha Allah membuat qasidah tersebut relevan diperdengarkan kembali menjelang forum permusyawaratan tertinggi NU.
Muktamar ke-35 NU sendiri telah ditetapkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada 27–31 Agustus 2026.
PBNU sebelumnya menyebut pengalaman Jombang menjadi tuan rumah Muktamar ke-33 pada 2015 sebagai salah satu modal dalam mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar kali ini. []
Video selengkapnya:









