Muktamar Kemandirian NU di Sragen membahas peran NU dalam membantu masyarakat, dengan KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan NU tak boleh bersaing dengan negara.
BARISAN.CO – Kemandirian Nahdlatul Ulama (NU) tidak dimaknai sebagai upaya mengambil alih peran negara. Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh menegaskan, NU justru harus hadir mengisi ruang-ruang kemasyarakatan yang belum mampu dijalankan oleh pemerintah.
Pesan tersebut disampaikan KH Ubaidillah Shodaqoh dalam Muktamar Kemandirian NU yang digelar di Kantor PCNU Sragen, Ahad (23/8/2026).
Menurut Mbah Ubaid, sebagai perkumpulan ulama, NU memiliki tanggung jawab untuk ikut menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Namun, peran tersebut tidak boleh diarahkan menjadi persaingan dengan pemerintah.
“Tugas utama NU sebagai perkumpulan ulama adalah menjalankan hal-hal yang belum dijalankan oleh kekuasaan. Jadi NU tidak boleh bersaing dengan negara,” tandas Mbah Ubaid.
Ia menjelaskan, konsep kemandirian perlu dimulai dari tingkat individu. Kemandirian warga dinilai sebagai kebutuhan primer yang harus diperkuat sebelum membangun kemandirian organisasi atau jam’iyyah yang sifatnya sekunder.
Dengan demikian, penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan warga Nahdliyin yang mampu hidup mandiri dan sejahtera.
“Kalau pemerintah belum berhasil memakmurkan rakyat, maka NU harus mengupayakan kemakmuran tersebut sesuai dengan kemampuan,” tuturnya.

Agama dan Kekuasaan Harus Berjalan Berdampingan
Dalam forum tersebut, KH Ubaidillah Shodaqoh juga membahas hubungan antara agama dan kekuasaan. Menurutnya, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Ia menyebut, persoalan membangun kepemimpinan yang adil bukan semata pembahasan ilmu fikih, tetapi berkaitan dengan ilmu kalam. Orientasi akhirnya adalah menghadirkan kemaslahatan bagi umat, baik di dunia maupun akhirat.
Karena itu, menurutnya, amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Muktamar Kemandirian Susun Rekomendasi untuk Muktamar NU
Muktamar Kemandirian NU di Sragen tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga diarahkan untuk memetakan persoalan dan menyusun strategi kemandirian warga Nahdliyin.
Hasil pembahasan forum akan dirumuskan menjadi naskah rekomendasi untuk disampaikan dalam forum tertinggi organisasi, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.
Sebelumnya, PWNU Jawa Tengah juga menggelar Muktamar Pertanian di Al Itqon, Semarang, pada awal Agustus. Forum tersebut diarahkan untuk merumuskan langkah strategis bagi kemuliaan dan kesejahteraan petani.
Sementara Muktamar Kemandirian NU di Sragen secara khusus memfokuskan pembahasan pada upaya agar warga Nahdliyin dapat membangun kemandirian sekaligus mencapai kemakmuran secara bersama-sama.
Ketua PCNU Sragen Dr H Sriyanto mengatakan, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk menghimpun masukan langsung dari peserta mengenai berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput.
Roadmap Ekonomi hingga Penguatan Warga NU
Wakil Katib Syuriyah PWNU Jateng Dr KH Mahsun yang bertindak sebagai moderator turut mempresentasikan roadmap ekonomi untuk 25 tahun ke depan.
Sementara itu, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jateng KH Hudalloh Ridwan menilai kemandirian jam’iyyah merupakan hal penting bagi NU.
Menurutnya, NU memiliki Muqaddimah Qanun Asasi dan tujuan organisasi yang mulia sehingga pencapaiannya perlu ditopang kemampuan organisasi untuk berdiri secara mandiri.
Sejumlah peserta juga menyampaikan berbagai persoalan strategis. Di antaranya mengenai kontribusi PBNU terhadap Ranting NU serta bagaimana PBNU dapat memberikan masukan positif dalam proses pengambilan kebijakan publik yang berorientasi pada kemaslahatan seluruh lapisan masyarakat.
Ketua LAZISNU Sragen, Kyai Lulus, mengusulkan agar penguatan kemandirian dimulai dari peningkatan kapasitas individu warga NU.
Menurutnya, warga yang hendak dibangun harus memiliki akhlak mulia sekaligus kualitas lahir dan batin. Karakter yang diharapkan antara lain jujur, kuat dan tidak mudah goyah, disiplin, berintegritas, memiliki daya juang, militan, serta kompeten.
Muktamar Kemandirian NU tersebut turut dihadiri Wakil Rois KH Sofwan Fauzi, Dr KH Farid Fad, KH Abdul Basit, KH Munib Abdul Muchit, dan Sekretaris Sarbumusi Jateng Fadhil Kirom.
Hadir pula Rais Syuriyah PCNU Sragen KH Riyadh Musthofa, para ketua lembaga dan badan otonom NU Sragen, serta puluhan pelaku usaha Nahdliyin di Sragen. []









