Scroll untuk baca artikel
Kolom

Affan Kurniawan: Simbol Ketidakadilan dan Cermin Krisis Demokrasi

×

Affan Kurniawan: Simbol Ketidakadilan dan Cermin Krisis Demokrasi

Sebarkan artikel ini
Affan Kurniawan
Ilustrasi

Tragedi Affan Kurniawan menjadi simbol ketidakadilan sosial dan memperlihatkan rapuhnya perlindungan negara

PERISTIWA tragis yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tewas dalam bentrokan dengan aparat pada aksi 29 Agustus 2025, tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menjadi simbol baru ketidakadilan di ruang publik Indonesia.

Analisis semantik Drone Emprit yang dipaparkan Ismail Fahmi menunjukkan bagaimana nama Affan Kurniawan mendominasi percakapan digital dan menjadi titik sentral mobilisasi solidaritas masyarakat.

Kasus ini mencerminkan persilangan antara ketidakadilan sosial, kegagalan institusional, serta dinamika transformasi digital yang semakin menentukan arah gerakan masyarakat sipil.

Tragedi Affan Kurniawan tidak bisa dilepaskan dari dua hal penting. Pertama, konteks sosial-ekonomi para pekerja digital seperti ojol yang berada dalam posisi rentan.

Kedua, bagaimana era keterhubungan digital menciptakan resonansi yang melipatgandakan dampak tragedi ini menjadi isu nasional bahkan lintas kelas sosial.

Pekerja ojol, seperti Affan, adalah representasi paling nyata dari ekonomi digital Indonesia. Mereka hadir di persimpangan antara teknologi, kebutuhan hidup sehari-hari, dan kerentanan struktural.

Status mereka sering kali bukan pekerja formal dengan perlindungan hukum penuh, melainkan “mitra” dalam sistem platform. Hal ini membuat posisi tawar mereka rendah, sementara risiko di jalan raya tinggi.

Dalam kasus Affan, fakta bahwa ia bukan bagian dari demonstrasi melainkan sedang bekerja, memperkuat simbol ketidakadilan.

Ia menjadi korban dari kekerasan aparat yang gagal membedakan massa aksi dengan warga sipil. Peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya perlindungan negara terhadap kelompok pekerja yang justru menopang ekonomi digital sehari-hari masyarakat.

Digitalisasi Solidaritas Publik

Analisis Drone Emprit menunjukkan bahwa kata-kata seperti “tewas”, “dilindas”, dan “korban ojol” menyebar luas di ruang digital.

Media sosial segera menjadikan Affan simbol rakyat kecil yang “dilindas negara”. Di era sebelum digitalisasi, mungkin kisah ini hanya akan tercatat sebagai insiden lokal.

Namun, dengan adanya platform digital, narasi ini langsung meluas, menyulut emosi kolektif, dan melahirkan solidaritas lintas kelompok.

Fenomena ini adalah bukti bahwa transformasi digital tidak hanya mengubah cara orang bekerja atau bertransaksi, tetapi juga mengubah cara masyarakat membangun kesadaran politik.

Identitas digital Affan Kurniawan menjelma menjadi ikon perjuangan demokrasi yang bisa menyatukan mahasiswa, buruh, dan komunitas sipil lainnya. Dengan kata lain, tragedi Affan adalah momentum digitalisasi gerakan sosial.