Pada 2024, menurut Anies, hutan yang hilang mencapai 175.000 hektare berdasarkan data resmi, dan 260.000 hektare menurut pemantauan independen.
“Pertanyaannya kemudian, pertumbuhan yang besar itu membangun semua orang atau membangun segelintir orang? Jawabannya jelas. Dia membangun hanya segelintir orang,” ujar Anies.
Anies juga menegaskan bahwa tidak semua pohon memiliki fungsi ekologis yang sama. Ia menolak anggapan bahwa perkebunan dapat menggantikan hutan hujan tropis.
“Sawit pun melakukan kegiatan fotosintesis. Tetapi apakah berarti perkebunan sawit bisa menggantikan hutan hujan tropis? Jawabannya tegas. Tidak bisa,” katanya.
Menurutnya, hutan hujan tropis menyimpan karbon jauh lebih besar dan memiliki sistem ekologis yang kompleks, termasuk pengaturan air, tanah, dan kehidupan satwa liar. “Ini soal hutan itu soal kehidupan, bukan soal fotosintesis saja,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta ini.
Dalam pidatonya, Anies menekankan bahwa kerusakan hutan mencerminkan ketidakadilan ekologis. Ia menyebut pihak yang merusak lingkungan justru tidak menanggung dampaknya.
“Yang merusak dapat untung, tapi yang merusak tidak menanggung beban atas kerusakan. Yang tidak merusak yang harus menanggung konsekuensi,” kata Anies.
Ia menambahkan, ketika banjir dan bencana terjadi, yang terdampak bukan pelaku usaha di hilir, melainkan masyarakat dan petani di sekitar kawasan hutan yang rusak.
Sebagai penutup, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengubah cara pandang pembangunan dan mulai menempatkan keadilan ekologis sebagai pijakan utama.
“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, tapi kita meminjamnya dari anak cucu kita. Pertanyaannya, dalam kondisi apa kita akan kembalikan pinjaman ini?” ujarnya.
Anies menegaskan bahwa bencana yang terjadi merupakan peringatan keras.
“Peristiwa yang terjadi di Sumatera kemarin adalah peringatan. Ini adalah wake up call. Tapi peringatan itu hanya berguna jika kita bertindak,” katanya. []









