Film blue bukan sekadar istilah tabu, melainkan jejak sejarah budaya visual yang lahir dari keterbatasan, larangan, dan perubahan zaman
BARISAN.CO – Berbicara apa itu film blue atau film biru akan terasa tabu, terlebih Indonesia yang mana adanya larangan film pornografi. Film blue dikaitkan dengan film dewasa, namun seiring perkembangan internet dan handphone film jenis kini mudah dicari.
Sehingga dampak buruknya anak-anak dapat mengakses atau mendapatkan film dewasa tersebut dari jejaringnya. Padahal di negeri ini adab dan etika sangat ditekankan sehingga ini menjadi hal yang tertutup.
Apa itu film blue. Definisi ini merujuk pada dua kata film artinya film, sedangkan blue adalah warna biru. Lantas kenapa disebut film biru?
Istilah ini memang sangat populer, dalam istilah keseharian dan fulgar menyebutnya film porno. Lantas apa makna dari istilah dan pertanyaan di atas. Berikut ini sejumlah alasan kenapa disebut film biru dikutip dari laman eastcoastdaily.
Alasan dan Sejarah Film Blue
Pertama, Secara umum dikatakan bahwa di masa lalu, sangat sulit bagi produser untuk membuat film dewasa karena praktis tidak ada atau sangat sedikit anggaran.
Produser dulu sangat cepat dalam membuat film-film ini dan karena film dibuat dengan biaya rendah itulah sebabnya warna kebiruan biasanya muncul di layar ketika seseorang menonton film.
Belakangan penonton yang menonton film-film tersebut menciptakan istilah ‘film biru’ untuk film-film tersebut.
Kedua, ada konsep lain di balik warna biru bahwa pemilik toko yang menjual kaset VCD ini biasa mengemasnya dalam kemasan biru dan itulah sebabnya mengistilahkan dengan nama film biru.
Ketiga, salah satu definisi “biru” untuk film mungkin merujuk pada kode moralitas Hukum Biru abad ke-19. Dan juga hukum negara bagian dan loka. Di mana film-film kotor atau pronografi pasti akan bertabrakan. ‘Hukum biru’ ini ada di banyak negara bagian hampir 50-60 tahun yang lalu.
Keempat, penjelasan lain termasuk perkembangan warna kebiruan dari film hitam putih awal yang dibuat dengan harga murah karena masa simpan yang pendek dari cetakan tersebut, dan asap rokok dan asap cerutu kebiruan di ruangan tempat orang berkumpul untuk menonton film tersebut.
Kelima, film dewasa pertama berjudul ‘Blue Movie’ dan memiliki banyak peran adegan dewasa yang terlihat dengan warna biru karena beberapa masalah teknis dan ditayangkan di bioskop Amerika Serikat dan setelahnya film tersebut disebut biru film.
Dalam konteks sosial saat ini, istilah film blue tidak hanya dipahami sebagai produk hiburan dewasa, tetapi juga sebagai fenomena budaya yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi media.
Akses internet yang semakin luas membuat film blue tidak lagi terbatas pada ruang tertutup atau distribusi fisik, melainkan menyebar secara digital dan sering kali tanpa batas usia yang jelas.
Hal inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran serius, terutama terkait dampaknya terhadap moral, psikologi, dan perkembangan anak serta remaja.
Di Indonesia sendiri, film blue secara tegas masuk dalam kategori konten terlarang karena bertentangan dengan norma hukum, agama, dan nilai sosial yang berlaku.
Undang-undang tentang pornografi mengatur larangan produksi, distribusi, hingga konsumsi konten semacam ini.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang apa itu film blue sering kali hanya berhenti pada pengertian kasarnya, tanpa memahami latar sejarah, istilah, dan alasan mengapa konten tersebut diberi label “biru”.
Oleh karena itu, memahami film blue dari sisi istilah dan sejarah menjadi penting bukan untuk melegitimasi keberadaannya, melainkan sebagai upaya literasi media.
Dengan pemahaman yang utuh, masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menyikapi arus informasi dan hiburan digital.
Edukasi yang tepat dapat menjadi benteng agar film blue tidak dikonsumsi secara sembarangan, terutama oleh kelompok rentan, serta mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya etika dan tanggung jawab dalam penggunaan media. []






