Sholawat Nuridzati yang disusun oleh pendiri tarekat Syadziliyah merupakan amalan doa yang diyakini umat Islam sebagai sarana menenangkan hati sekaligus memohon kelapangan rezeki.
BARISAN.CO – Sholawat secara bahasa bentuk jamak dari kala shola yang artinya doa. Jadi membaca sholawat merupakan doa, bahkan Allah Swt mewajibkan setiap manusia untuk membaca sholawat. Ada beragam bacaan sholawat, seperti sholawat sulthon, sholawat ibrahimiyah maupun sholawat nuridzati.
Namun kali ini akan membahas sholawat nuridzati merupakan bacaan doa yang disematkan kepada penyusunnya yakni Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Ia adalah sosok ulama yang agung dan pendiri tarekat Syadziliyah.
Ajaran tarekat Syadziliyah dipengaruhi ajaran Al-Ghazali dan Al-Makki. Hal ini disampaikan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang mengatakan, “Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali.”
Sehingga bacaan sholawat nuridzati juga dikenal dengan sholawat Syadziliyah. Berikut ini bacaan amalan tarekat Syadziliyah lengkap teks arab, latin dan artinya.
Bacaan Sholawat Nuridzati: Teks Arab, Latin, dan Artinya
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النُّورِ الذَّاتِي وَالسِّرِّ السَّارِي فِي سَائِرِ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ
Latin:
Allaahumma shalli wasallim ‘ala sayyidinaa Muhammadinin nuuridz dzaatii wassirris saarii fii saairil asmaai wash shifaati wa’alaa aalihi washah bihii wasallim
Artinya:
“Ya Allah berikanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw merupakan cahaya Dzat (Allah) dan merupakan rahasia yang mengalir pada seluruh nama dan sifat dan berikanlah pula salam sejahtera, berkah atas keluarganya dan para sahabatnya.”
Mengenal Makna Sholawat Nuridzati Lebih Dalam
Untuk memahami sholawat nuridzati, penting untuk melihatnya bukan hanya sebagai rangkaian kalimat berbahasa Arab, melainkan juga sebagai doa yang mengandung penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam bacaan tersebut, umat Islam memohon kepada Allah SWT agar melimpahkan rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta para sahabat beliau. Permohonan ini menegaskan kedudukan sholawat sebagai bentuk doa dan ungkapan cinta kepada Rasulullah.
Istilah nuridz dzati dalam bacaan tersebut secara harfiah berkaitan dengan ungkapan cahaya yang bersifat esensial. Sementara frasa wassirris saarii fii saairil asmaai wash shifaati memuat ungkapan spiritual mengenai rahasia yang mengalir dalam seluruh nama dan sifat.
Ungkapan tersebut berada dalam tradisi bahasa tasawuf sehingga penafsirannya dapat berbeda menurut penjelasan ulama dan tradisi keilmuan yang digunakan. Karena itu, pemaknaannya perlu disertai kehati-hatian dan tidak disederhanakan menjadi kesimpulan teologis yang melampaui maksud bacaan.
Bagi orang yang mengamalkannya, sholawat nuridzati dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah SWT, memperbanyak doa kepada-Nya, serta memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Nilai pengamalannya tidak hanya terletak pada pelafalan, tetapi juga pada kesungguhan hati untuk memahami makna dan memperbaiki perilaku sehari-hari.
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dan Tradisi Tarekat Syadziliyah
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili dikenal dalam sejarah Islam sebagai tokoh sufi yang dikaitkan dengan perkembangan tarekat Syadziliyah. Tradisi tarekat ini menekankan zikir, doa, pembinaan akhlak, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam tradisi tasawuf, amalan seperti zikir dan sholawat menjadi bagian dari latihan spiritual. Tujuannya bukan sekadar mengulang bacaan, tetapi membangun kesadaran beragama, melatih kerendahan hati, dan menjaga hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Tarekat Syadziliyah juga dikenal melalui perhatian terhadap kehidupan sehari-hari. Penghayatan spiritual tidak harus membuat seseorang meninggalkan tanggung jawab sosial maupun pekerjaan.
Sebaliknya, ibadah diharapkan berjalan beriringan dengan kejujuran, kepedulian kepada sesama, dan pelaksanaan kewajiban dalam keluarga serta masyarakat.
Nama Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang dikaitkan dengan sholawat nuridzati menunjukkan hubungan bacaan ini dengan tradisi spiritual tertentu.
Namun, untuk memastikan sejarah penyusunan, redaksi asli, dan sumber atribusinya, diperlukan rujukan kitab atau manuskrip yang dapat diverifikasi.
Keutamaan Sholawat Nuridzati
Keutamaan amalan sholawat nuridzati sebagaimana disampaikan sendiri oleh penyusunnya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yakni; pertama, barangsiapa mengamalkannya dengan penuh keyakinan sama dengan membaca 100.000 sholawat.
Kedua, jika memiliki rasa gundah dan gelisah. Hendaknya membaca sholawat ini maka akan diberikan ketenangan dan bahkan menghilangkan segala persoalan.
Ketiga, sebagai pembuka pintu rezeki dan juga dapat mententramkan hati bagi para pengamalnya.
1. Memperbanyak Sholawat dan Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah
Membaca sholawat merupakan salah satu bentuk ibadah yang dikenal luas dalam kehidupan umat Islam. Amalan ini menjadi pengingat akan kedudukan Nabi Muhammad SAW sekaligus sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada beliau.
Kecintaan tersebut idealnya tidak berhenti pada ucapan. Seorang Muslim juga dapat berusaha meneladani akhlak Rasulullah, seperti berkata jujur, menepati janji, berlaku adil, membantu orang yang membutuhkan, dan menjaga amanah.
Adapun klaim bahwa satu bacaan sholawat nuridzati setara dengan 100.000 sholawat perlu dipahami sebagai keterangan yang dinisbatkan kepada tradisi atau sumber tertentu.
Untuk menyatakan keutamaan dengan angka tersebut sebagai dalil yang pasti, diperlukan rujukan primer yang dapat diperiksa. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak langsung menganggap angka tersebut sebagai ketetapan yang telah disepakati seluruh ulama.
2. Menjadi Sarana Menenangkan Hati saat Gelisah
Kecemasan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, masalah ekonomi, atau ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang merasa terbebani.
Dalam kondisi demikian, berdoa dan membaca sholawat dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk menenangkan diri. Membaca secara perlahan, memperhatikan arti bacaan, serta meluangkan waktu untuk beribadah dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian dari kecemasan menuju refleksi dan pengharapan kepada Allah SWT.
Meski demikian, sholawat tidak sepatutnya dipahami sebagai jaminan bahwa semua persoalan akan langsung hilang. Ketenangan spiritual dapat berjalan bersama langkah nyata, seperti membicarakan masalah dengan orang tepercaya, menyusun rencana penyelesaian, dan mencari bantuan profesional apabila tekanan yang dialami semakin berat.
Dengan demikian, sholawat nuridzati dapat menjadi bagian dari rutinitas ibadah yang membantu seseorang menghadapi persoalan dengan lebih sabar dan penuh pertimbangan.
3. Memohon Kelapangan Rezeki dan Keberkahan Hidup
Keutamaan lain yang dikaitkan dengan sholawat nuridzati adalah sebagai pembuka pintu rezeki. Dalam kehidupan seorang Muslim, memohon rezeki kepada Allah SWT merupakan bagian dari doa dan penghambaan.
Rezeki sendiri tidak selalu terbatas pada uang atau kekayaan. Kesehatan, keluarga yang harmonis, kesempatan bekerja, ilmu yang bermanfaat, serta lingkungan yang mendukung kebaikan juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Membaca sholawat dapat menyertai ikhtiar mencari nafkah, tetapi tidak seharusnya dijadikan pengganti usaha. Seseorang yang ingin memperbaiki keadaan ekonomi tetap perlu bekerja dengan tekun, menjaga kejujuran, meningkatkan keterampilan, dan memenuhi tanggung jawabnya.
Karena itu, memohon kelapangan rezeki melalui doa perlu berjalan bersama ikhtiar yang halal. Harapannya bukan semata-mata memperoleh kekayaan, tetapi juga mendapatkan penghasilan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan, dan membawa kebaikan bagi keluarga serta orang lain.
Perlu dicatat bahwa klaim mengenai khasiat khusus atau hasil material tertentu dari bacaan ini tidak otomatis menjadi jaminan bahwa setiap pengamal akan memperoleh hasil yang sama. Doa merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT, sedangkan hasilnya berada dalam kehendak-Nya.
Cara Mengamalkan Sholawat Nuridzati dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagi umat Islam yang ingin mengamalkan sholawat nuridzati, langkah pertama adalah mempelajari teks Arab, pelafalan, dan artinya dengan baik.
Apabila belum lancar membaca huruf Arab, bacaan latin dapat membantu sebagai panduan awal sembari terus belajar memperbaiki pelafalan.
Sholawat dapat dibaca sebagai bagian dari rutinitas ibadah pribadi, misalnya ketika meluangkan waktu untuk berzikir atau berdoa. Tidak perlu terburu-buru mengejar jumlah bacaan apabila hal itu membuat seseorang mengabaikan pemahaman makna dan ketenangan dalam beribadah.
Apabila mengikuti amalan dengan jumlah tertentu berdasarkan ijazah atau bimbingan guru, sebaiknya pahami sumber dan penjelasan yang menyertainya.
Perbedaan tradisi amalan dapat dijumpai dalam kehidupan umat Islam, sehingga penting untuk membedakan anjuran dalam suatu tradisi dengan ketentuan yang mempunyai dasar dalil kuat dan disepakati secara luas.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi. Membaca sholawat hendaknya tidak hanya dilakukan ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan ibadah dan pengingat untuk memperbaiki akhlak.
Pada akhirnya, pengamalan sholawat nuridzati dapat diarahkan untuk memperkuat hubungan spiritual, menumbuhkan rasa syukur, dan membangun keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.
Nilai tersebut semakin bermakna apabila disertai usaha nyata untuk menjalankan kewajiban, mencari rezeki secara halal, serta berbuat baik kepada sesama.
Sholawat Nuridzati sebagai Pengingat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Sholawat nuridzati merupakan salah satu bacaan sholawat yang dikenal dalam tradisi spiritual Islam dan dikaitkan dengan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Bacaan ini berisi permohonan rahmat, keselamatan, dan keberkahan bagi Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta para sahabat beliau.
Pembahasan mengenai keutamaannya mencakup keyakinan sebagian tradisi pengamal tentang nilai pahala, ketenangan hati, dan kelapangan rezeki.
Meski demikian, klaim khusus mengenai jumlah pahala atau khasiat tertentu perlu disertai sumber yang jelas agar pembaca dapat membedakan antara keterangan tradisi, penafsiran spiritual, dan dalil yang dapat diverifikasi.
Bagi seorang Muslim, inti pengamalan sholawat bukan semata-mata mengharapkan hasil tertentu, melainkan memperbanyak doa, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan pemahaman tersebut, sholawat dapat menjadi bagian dari kehidupan spiritual yang berjalan seiring dengan ikhtiar, rasa syukur, dan akhlak yang baik. []









