Saat ini, 48 keluarga termasuk 55 korban telah mengajukan gugatan perdata senilai 250 juta Euro untuk kelalaian berat Nestle Prancis.
BARISAN.CO – Nestle memiliki sejarah panjang yang kontroversial. Mulai dari kontroversi susu formula, pekerja anak, hak air, deforestasi, hingga mislabeling.
Kini, perusahaan makanan terbesar ini kembali harus berhadapan dengan hukum, seperti yang dilansir dari Guardian. Nathan Aiech (8) bersama ayah dan keluarga tirinya menikmati makan malam dengan hidangan pizza beku Buitoni. Namun, makanan itu tak disangka menjadi petaka.
Dua hari setelahnya, Nathan mengeluh sakit perut. Dia pun dirawat intensif selama seminggu. Menurut dokter yang merawatnya, otak, jantung, dan ginjalnya terganggu.
Setelah dialisis, operasi, dan mengalami dua kali serangan jantung, Nathan dinyatakan meninggal pada 18 Februari. Otoritas kesehatan Prancis kemudian mengonfirmasi, bakteri E coli dan komplikasi yang membunuh Nathan dapat dikaitkan dengan pizza Fraich’Up Buitoni.
Nathan adalah korban pertama yang meninggal dalam skandal makanan terbesar di Eropa selama 30 tahun. Wabah E coli yang menewaskan dua anak dan menyebabkan lebih dari belasan orang mengalami komplikasi kesehatan serius dan berlangsung lama telah memicu ketakutan di industri makanan Prancis.
“Rasa sakit yang kami rasakan tidak bisa digambarkan. Nathan memercayai orangtuanya memberinya makan,” kata Yohan Aiech, ayah Nathan.
Dia berharap agar Nestle memberi penjelasan dan rencana apa yang akan dilakukan oleh perusahaan agar kejadian itu tidak berulang.
Yohan mengungkapkan, tidak akan lagi memercayai perusahaan itu dan menolak membeli produk mereka.
Penyelidikan awal sedang dilakukan untuk pembunuhan tidak disengaja, cedera, dan pelanggaran persyaratan keamanan pangan. Saat ini, 48 keluarga termasuk 55 korban telah mengajukan gugatan perdata senilai 250 juta Euro untuk kelalaian berat Nestle Prancis. Mereka juga mendesak agar ada revisi undang-undang kontrol industri makanan yang lebih baik.
April lalu, negara bagian memerintahkan Nestle Prancis menangguhkan produksi di pabrik Buitoni di Caudry, Prancis utara, tempat produksi pizza Fraich’Up. Perintah itu menyoroti turunnya kontrol kebersihan makanan dan mengatakan inspeksi menunjukkan, adanya tikus serta tindakan yang tidak memadai untuk mencegah hama mencemari lokasi produksi makanan.
Nestle Prancis mengumumkan pada bulan lalu, mereka telah menguji lebih dari 2.000 sampel pabrik dan bahan-bahannya. Dalam pengumuman itu, kontaminasi E coli pada tepung yang paling mungkin terjadi. Nestle Prancis menambahkan, mereka tidak menemukan jejak bakteri di jalur produksi.
Sementara, penyelidikan hukum akan menghasilkan keputusan akhir, namun itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Perusahaan menyampaikan, akan bekerja sama dengan pihak berwenang dan mengambil langkah yang diperlukan agar hal ini tidak terjadi lagi.
Pierre Debuisson, seorang pengacara keluarga menyebut, kematian dan penyakit itu sebagai tragedi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat, bakteri E coli menginfeksi manusia, khususnya anak-anak dapat menyebabkan sindrom uremik hemolitik, suatu bentuk gagal ginjal.
“Banyak dari anak-anak yang masih dalam perawatan intensif dan beberapanya menderita kerusakan organ permanen,” ujar Pierre.
Dia melanjutkan, ratusan ribu orang Prancis bisa saja berada berada dalam situasi sama. Mengingat, banyak orang makan pizza.
Pierre menegaskan, menginginkan jawaban negara bagian dan Nestle Prancis tentang proses pembersihan pabrik serta penundaan dalam mengaitkan wabah E coli dengan pizza. Badan negara menginformasikan, pada 18 Maret, Nestle Prancis telah menarik hampir 1 juta pizza Fraich’Up, menghentikan pengiriman, dan juga menangguhkan produksi.
Namun, Pierre tidak merasa puas. Dia menjelaskan, selama berminggu-minggu setelah kasus pertama anak-anak jatuh sakit di bulan Januari, pizza masih dikonsumsi.
“Nestle telah mengalami kontaminasi E coli dari adonan kue di AS pada 2009 dan seharusnya menyadari risikonya,” tegasnya.
Aurelie Micouleau, ibu dari salah satu korban, Curtis (5) menerangkan, putranya setelah mengonsumsi pizza Buitoni Frainch’Up jatuh sakit dan di dirawat dalam perawatan intensi. Dia menyebut, tidak ada kepastian apakah anaknya akan bertahan akibat komplikasi menyerang ginjal dan otaknya.
Selain Curtis, saudaranya juga menjadi korban, Preston (10). Kedua anaknya itu menjalani cuci darah dan berjuang hidup.
“Kami terus-menerus hidup dalam ketakutan bahwa mereka akan kambuh atau membutuhkan transplantasi ginjal atau dampak pada otak mereka. Kami bahkan tidak tahu harapan hidup mereka sekarang, itu bisa turun,” sambung Aurelie.
Sebagai orang tua, Aurelie berpikir telah meracuni anaknya dan merasa sangat bersalah.
“Perasaan bersalah itu sangat sulit. Kami berjuang untuk kebenaran dan keadilan, dan untuk menghentikan kelompok makanan berperilaku sesukanya,” imbuhnya.
Nestle Prancis kembali menyampaikan, dukacita mendalam bagi para korban dan keluarga korban. Mereka juga telah menyiapkan dana bagi orang tua yang dikelola oleh badan amal independen.
