Ketika dunia menekan, mengapa Iran justru makin kuat? Ada pelajaran penting tentang resiliensi bangsa dan kaitannya dengan puasa Ramadhan.
Oleh: Imam Trikarsohadi
PERANG yang dipantik serbuan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, belum menunjukan indikasi akan segera berakhir. Iran tidak sudi menyerah, kalaupun ada serbuan darat ke negeri nya, mereka siap maladeni.
Perang boleh jedah asalkan dua negara agresor yang menyatakan gencatan senjata sonder syarat apapun.
Sebab itu, Iran, hingga era modern sekarang ini, tetap menjadi bangsa yang memikat. Mereka tak jadi retak oleh tekanan dan hasrat penghancuran kaum.
Kafir; Amerika Serikat dan Israel, beserta para sekutunya ; negara-negara dengan pemimpin fasik di sekitar Iran.
Dengan demikian, Iran adalah sebuah bangsa yang punya peradaban kuat dan resiliensi yang tangguh. Karena itu jejaknya panjang dan menginspirasi.
Iran hari ini dan waktu – waktu sebelumnya, adalah bangsa dengan mayoritas rakyatnya yang punya kemampuan mental dan emosional untuk selalu bangkit kembali, beradaptasi, dan tumbuh lebih kuat setelah menghadapi kesulitan, trauma, atau tekanan apapun dan dari pihak manapun.
Ini bukan sekadar bertahan, melainkan daya lenting untuk mengelola masalah dengan sehat, memandang pelbagai persoalan sebagai pelajaran, dan mempertahankan pandangan positif bagi negerinya.
Seperti bola yang membal, Iran adalah bangsa yang resilien; tidak hancur, melainkan memantul kembali ke atas, bahkan seringkali lebih tinggi setelah hantaman keras.
Iran juga punya kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak menyenangkan, bukan bersikeras melawan keadaan dengan kaku, selama itu tidak berkaitan dengan harkat, martabat dan keimanan.
Mereka juga, sejatinya, merupakan bangsa dengan pola pikir growth mindset; memandang tantangan sebagai kesempatan belajar, bukan akhir dari segalanya.
Kenapa Bangsa Iran bisa demikian tangguh? Jawabnya, karena para pemimpin dan mayoritas rakyat Iran punya self-image yang positif, hubungan sosial yang erat antar rakyat dan rakyat dengan para pemimpinnya, serta kemampuan kolektif dalam memecahkan pelbagai masalah, termasuk masalah embargo ekonomi oleh negara-negara barat dan sekutunya di Timur Tengah selama lebih dari 40 Tahun.
Ringkasnya, Iran adalah bangsa dengan peradaban yang memiliki ketangguhan jiwa untuk tetap tegak di tengah badai pergulatan dunia.
Akan halnya ketangguhan jiwa kolektif, ia bermula dari ketangguhan jiwa orang per orang. Maka, harapannya, dengan mayoritas penduduk Indonesia (anggap saja demikian) yang menunaikan ibadah
Puasa Ramadhan saat ini, dapat menjadi kawah candradimuka pelatihan mental yang efektif dalam membentuk pribadi yang memiliki resiliensi, untuk kemudian menjadi resiliensi kolektif.
Dimana kita, mampu menjadi bangsa dengan kemampuan bertahan nan tangguh, lincah beradaptasi, dan bangkit dari tekanan apapun dan dari mana pun.
Sebab salah satu bab puasa adalah ihwal “self control”, yang secara psikologis mengaktifkan “rem emosi” atau “prefrontal cortex” di otak, yang membantu mengelola stres dan kecemasan agar tidak mudah meledak, baik secara perorangan maupun kolektif.
Puasa juga sesungguhnya terkait dengan toleransi stress. Ia melatih kita untuk terbiasa menghadapi rasa tidak nyaman, seperti lapar, lelah, atau haus, tanpa langsung bereaksi negatif.
Ini membangun mental toughness untuk tetap beraktivitas secara produktif di tengah keterbatasan apapun.
Puasa ramadhan pun mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah kelemahan, melainkan sarana untuk menguatkan mental. Ia mengubah pola pikir “scarcity” menjadi “healing period” dan peningkatan kualitas diri.
Akan halnya pengalaman nyata menahan rasa lapar, diharapkan menumbuhkan empati yang mendalam terhadap sesama, terutama mereka yang kekurangan. Empati ini memperkuat ikatan sosial yang menjadi salah satu komponen resiliensi sosial dan kolektif.
Singkatnya, puasa yang dilakukan secara sungguh – sungguh, akan membentuk pribadi – pribadi yang memiliki ketahanan mental yang tinggi, mampu mengelola emosi, bersabar, dan memiliki etos kerja yang kuat meskipun dalam situasi sulit.
Jika yang demikian telah menjadi kebiasaan kolektif, niscaya kita akan jadi bangsa yang tangguh dan tak gampang ngamuk. []







